oleh

Peter A Rohi dan Waiteba

-Kolom-689 views

DI DEPAN komputer, saya fokus menyelesaikan feature dari PT Tabun Tirta Mathonis. Itu tahun 92 atau 93-an. Di tingkat 1, belakang kampus FKIP Undana, tak jauh dari Jalan Soeharto, Kupang. Beberapa rekan wartawan senior lalu lalang dalam ruang rapat redaksi. Saya berusaha fokus. Ini pertaruhan nasib. Apakah masih bertahan sebagai reporter lepas FLOBAMORA, tabloit yang seingat saya dikawal kaka Alo Liliweri, penulis senior kala itu. Alo saat ini adalah guru besar yang dikoleksi Undana, almamater saya Karena itu, saya tengah membayangkan apa judul yang pas untuk feature kecil ini. Paling kurang sebagai reporter pemula saya tidak bikin malu senior tatkala artikel itu sudah tayang di tabloit yang terbit era Gubernur Herman Musakabe. “Tabun Tirta Mathonis, Pelepas Dahaga Masyarakat NTT. Beta juga lagi pikir apakah bisa juga pake judul Viquam, Pelepas Dahaga Masyarakat NTT. Kalau eja baca judul dan isinya, tinggal mainkan mana yang lebih pas. Dua judul itu tak bakal lari dari konten,” kata saya kepada Silvester Sega, redaktur yang biasa membaca naskah saya. Viquam adalah air minum dalam kemasan (gelas). Diproduksi Tabun Tirta Mathonis dan booming kala itu. Saya tertarik menulis viquam. Maklum. Selama di kos, kami minum air pake timba di sumur. Viquam “barang” baru.

Tak lama berselang muncul seorang pria dengan rambut dikuncir. Saya segera menyapanya. Mengenalkan nama. Juga asal sesuai pertanyaan si pria berambut yang dikuncir. Saya kemudian mulai akrab kemudian tahu namanya, Peter A Rohi. “Om pinjam komputer sekitar 20 atau 30 menit. Baru saja diminta Pemred Pos Kupang menulis satu artikel opini untuk diterbitkan besok. Beta buru-buru karena sebentar ke Oebobo terus naik bis ke Dili, Timor Timur,” kata om Peter A Rohi. “Penulis ini pake sulap naskah kah? Mantap juga kalau beliau tinggal satu dua hari di Kupang. Mangkali betong (barangkali kita) bisa korek banyak resep menjadi penulis yang baik. Beliau juga bisa cerita perjalanan menjadi penulis dan dunia wartawan yang membawanya jadi orang top,” kata saya kepada Sil Sega. Benar saja. Tak lama kata “terima kasih” meluncur dan ia segera beranjak. Jalan kaki lagi ke redaksi Pos Kupang, di samping Silvya, toko fotocopy tak jauh dari kampus saya. Toko yang juga jadi tempat saya jilid skripsi saya. Besoknya, naskah om Peter Rohi nongol di Pos Kupang. “Itu wartawan asyik juga. Tapi beta meloi baitua itu sonde ada buku di samping saat menulis opini. Macam kamus berjalan saja,” kata saya polos. Sungguh pengalaman pertama bertemu dengan seorang wartawan yang menulis opini tak lebih dari satu jam.

Pada 18 Desember 2010, pengalaman perjumpaan dengan penulis brilian dan wartawan senior asal NTT Peter A Rohi saya sampaikan via inbox facebooknya, Peter Apollonius Rohi. Saya menghubunginya di sela-sela ia tengah berada di Rangkasbitung, Banten. Tak lama ia respon. Bahagia juga. “Makasih Ansel, masih ingat walau sudah lebih sepuluh tahun. Ia, om masih jalan-jalan untuk nulis macam-macam. Gimana Tabloit FLOBAMORA sekarang?,” kata om Peter bertanya. Setelah ngobrol sejenak, ia pamit. Tapi satu hal yang membekas dalam dinding memori saya. Ia bercerita perjalanan jurnalistik menuju kampung Waiteba, Kecamatan Atadei, Lembata sebelum bencana air pasang yang melumatkan kampung itu tahun 1979. “Saya kembali lewat Wulandoni, Lamalera, Puor, Boto dan lanjut Lewoleba. Laporan saya langsung direspon pihak provinsi dan pusat. Orang Lembata tentu tahu. Pernah Wakil Presiden Adam Malik ke Loang melihat langsung pengungsi Waiteba. Belakangan saya dengar isteri Pak Adam Malik meminta dibangun TK Nely Adam Malik. Semoga hingga saat ini TK itu masih ada. Banyak orang Lembata pintar-pintar. Dalam beberapa tugas ke luar selalu saja saya jumpai orang Lembata jadi misionaris. Gereja Katolik punya kontribusi besar bagi dunia. Saya juga mengenal baik alm Pak Marcel Beding, wartawan senior KOMPAS. Beliau salah seorang wartawan yang menerjemahkan dokumen-dokumen penting bagi Gereja di Indonesia. Satu lagi kesan saya, Lembata itu pulau yang sangat indah,” kata om Peter Rohi.

Waiteba ternyata juga pernah disambangi Peter A Rohi, jurnalis yang lahir di Timor, 14 November 1942. Kisah ringkas perjalanan jurnalistik om Peter ke Waiteba juga pernah disampaikan kepada Saba Paul Sinakai, mantan Camat Wulandoni. Om Peter menulis ‘surat mini’ itu berikut ini. Saya mengutip kembali dalam laman facebook reu Paul Sinakai (kalau tak salah), kini salah seorang staf dari staf ahli Bupati Lembata.

Perjalanan Jurnalistik ke Waiteba

Terima kasih Bung Saba Paul, yang telah mengingatkan kembali kisah sedih yang menimpa hampir seribu jiwa di Waiteba, Juli 1979. Saya ingin mengambil bagian dalam mengenang bencana itu, walau baru sehari meninggalkan rumah sakit. Seorang jurnalis harus merasa terpanggil untuk langsung berada di lapangan melaporkan apa yang dilihatnya, apa yang sudah terjadi, atau apa yang bakal terjadi. Berawal dari informasi yang saya terima dari adik saya, Welhelmus Rohi, seorang vulcanolog lulusan Jepang, tentang Gunung Hobal di dasar laut Sawu yang berhadapan dengan Pulau Lembata. Adik saya adalah satu di antara dua vulcanolog di dunia yang berhasil menanggulangi bencana besar dengan menciptakan gunung api baru. Seorang vulcanonolog lainnya menciptakan hal yang sama di Mexico. Tetapi hal ini akan saya tulis kemudian karena sedang mengedit bukunya.

Mendengar peristiwa besar yang akan menimpa Kota Waiteba, saya bergegas ke sana, dengan biaya sendiri sebagaimana kebiasaan saya kala melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan.

Di Larantuka, kebetulan saya bertemu dengan dua pejabat daerah, yang kebetulan juga ketika kuliah di Kupang kost di rumah saya. “No Piet, sebaiknya jangan pergi ke sana, gempa sudah sering terjadi. Berbahaya”, ujar keduanya. Tapi justru itulah yang membuat saya “bernafsu” ke Waiteba. Kapal motor yang menuju Lewoleba hanya ada pada hari pasar. Tetapi di pantai saya menyewa sebuah perahu berlayar satu, yang saya kemudikan sendiri menuju pantai terdekat, Loang. Hari telah malam, saya menginap di rumah Camat Hillarius. Pagi subuh camat yang berbaik hati mengirim seorang pegawainya membawa surat-surat ke Lewoleba, tetapi sebenarnya ia ingin agar saya tidak berjalan sendiri. Hampir siang kami berhenti di tenda para penyelam mutiara. Kami makan siang di situ dengan daging kerang mutiara. Lezat sekali. Saat berpamitan saya dihadiahi sebuah mutiara kecil dari mereka sebagai kenangan. Beberapa jam berjalan menyusuri pantai, tampak beberapa perempuan membawa ember menuju pantai. Ternyata mereka menimba air tawar pada beberapa mata air yang muncul saat air laut surut. Tentu saja saya merasakan air tawar Lembata yang memang nyaman apalagi saat sedang haus.

Malam itu juga saya menemui Pembantu Bupati Sumarmo mengatakan niat saya ke Waiteba. Pagi hari ia mengutus pegawainya Michael, mantan bruder di Solo menemani saya sambil memantau kondisi Waiteba dan Gunung Hobal. Kami mengambil jalan memotong yang harus mendaki tiga gunung terjal mirip kerucut. Ketika dahaga sudah tidak tertahankan, kami singgah di kampungnya mantan Ketua DPRD NTT Jan Kiapoli. Kami disuguhi tuak asam (laru). Hari mulai senja kami bertemu Camat Atadei Yusuf Doru ditemani seorang pegawainya yang akan menuju Lewoleba. Kami hanya bercakap sebentar. Malam hari di rumah Kepala Desa Waiteba saya heran karena disediakan air panas di kamar mandi. “Sumur-sumur di sini sudah mendidih,” kata Kepala Desa menjelaskan. Keesokan harinya Hari Minggu, perempuan-perempuan menuju ke gereja menyusuri pantai sambil di tangannya pemintal benang menari-nari. Di pantai tampak ikan-ikan besar terdampar bagai sudah direbus.

Sejak semalam gempa terus-menerus. Saya dan Michael mendaki bukit untuk membuat foto-foto. Tetapi bukit itu pun longsor dan kami berguling-guling bersama bebatuan. Saya hanya menjaga tustel Canon FTB agar tidak lepas dan tenggelam di antara batu-batu. Hari itu juga kami bergegas pamit. “Jangan lupakan kami, pesan seorang ibu. Kami juga Golkar,” Saya tidak tahu makna pesan itu, tapi tentu ia mengharapkan pemerintah agar segera turun tangan. Kali ini memilih menyusuri pantai dan mendaki menuju sebuah desa, di mana kami bermalam di rumah Kepala Desa. Ia baru tiba dari Jakarta dan menyarankan kami pagi-pagi bergegas ke desa pantai di sana ada sebuah kapal motor menuju Lewoleba.

Dari Lewoleba saya dengan kapal motor yang memuat masyarakat dari pasar menuju Larantuka. Penuh sesak. Saya sudah tidak sabar lagi memberitakan apa yang saya saksikan dan menyatakan keprihatinan agar mesyarakat Waiteba segera diungsikan. Gubernur Ben Mboy marah besar membaca berita saya. ia datang ke sana dengan serombongan orang dan KNPI NTT. Ia memberikan kecaman pada berita saya, setelah mencabut sebatang ubikayu di ladang petani. “Ini tanah sangat subur. Jangan percaya pada itu wartawan”, kata Ben Mboy, KNPI pun ikut berjanji “kalau terjadi apa-apa, kami yang akan menyelamatkan saudara-saudara.”

Beberapa bulan kemudian bencana besar itu sungguh-sungguh terjadi. Gubernur diam, dan KNPI pun tak pernah datang menyelamatkan mereka. Waiteba sudah senyap, di bukitnya tinggal pohon-pohon eukaliptus yang memutih dan meranggas. Tiada siapa-siapa, kecuali saya yang menangis sendirian karena tak bisa meyakinkan negara untuk segera menyelamatkan saudara-saudara saya itu. Semoga Tuhan menyertai mereka di alam sana.

Itu kisah om Peter A Rohi kepada rekan Paul Saba. Tentang beliau saya agak menyesal juga karena beberapa kali janjian bertemu di Taman Ismail Marzuki, Cikini, selalu gagal. Peter Rohi selalu bertaruh waktu mengerjakan banyak tugas terutama menulis kisah-kisah sejarah. Namun, rasa rindu terobati tatkala diberi buku Pak Irjen Pol (Purn) Drs Y. Uly Jacki, MH, kolega om Peter Rohi dari tanah Raihawu, Sabu Raijua. Buku berjudul Polisi di Wilayah Konflik karya Pak Jacki Uly. Jacki adalah salah seorang perwira tinggi polisi asal NTT yang lama berkecimpung di bidang Resimen Gegana Brimob dan mengemban tugas-tugas di luar negeri dalam Misi Perdamaian Dunia PBB. Buku karya Pak Jacki dikawal om Peter A Rohi sebagai editor.

Siapa Peter A Rohi? Peter lahir di Timor pada 14 November 1942. Ia adalah wartawan senior dan anggota veteran. Ia adalah purnawirawan KKO-Angkatan Laut. Tahun 1971-1985 bekerja sebagai jurnalis Sinar Harapan. Pernah pula didapuk jadi Redaktur Pelaksana/Redpel SUARA INDONESIA Malang, Redpel JAYAKARTA, Redpel Harian SURYA Surabaya, Wakil Pemimpin Redaksi SUARA BANGSA Jakarta, Litbang Harian SINAR HARAPAN Jakarta, Pemred KARAWANG, Bekasi. Ia juga pernah menjabat Ketua Dewan Redaksi Majalah INTERVIEW PLUS Jakarta, Ketua Dewan Pakar Majalah INDEPENDENT Surabaya, dan Produser WARTA TV.com. Beberapa film dokumenter karyanya antara lain Tragedi Rawagede, Lansia-lansia Gerson Poyk dan Jugu Ianfu di Pulau Buruh. Sedangkan buku karyanya: Selamat Pagi Surabaya, Riwu Gah, Natuna: Kapal Induk Amerika dan Soekarno Sebagai Manoesia.

Pagi ini, kabar duka datang dari Joaquim Rohi di Moskow. Amatana Joaquim, putra om Peter Rohi mengabarkan sang ayah berpulang. “Papa kami, Peter Apollonius Rohi, pulang ke rumah Bapa di surga, pukul 06.45 di RKZ Surabaya, 10 Juni 2020,” katanya. Joaquim mengisahkan, sejak ibunda terkasih meninggal akhir Januari 2020 lalu, kondisi ayahnya semakin menurun. Seakan kehilangan semangatnya. Jiwanya yang kuat, runtuh seketika, saat ditinggal mama. “Bapa di sorga kini telah mempertemukan mereka berdua kembali. Kali ini dalam kekekalan sorgawi. Terima kasih atas segala perhatian buat beliau selama ini. Mohon dimaafkan jika ada salah,” kata Joaquim Rohi dalam laman Facebook-nya. Selamat jalan, om Peter A Rohi. Terima kasih atas dedikasimu bagi bangsa dan negara melalui semangat dan karyamu. Terima kasih sudah memberi saya tentang arti terdalam pengabdianmu di jalur media. “Ansel, menulis dengan hati sesungguhnya adalah mewakili juga emosi dan sentimental, semangat dan roh banyak orang. Itu yang om lakukan sepanjang masa,” kata Om Peter Rohi kepada saya via inbox Facebook pada 14 November 2015 pukul 21.13 WIB. Terima kasih juga pernah singgah di Waiteba dan Lembata. Kami anak-anak kampung tentu mengenangmu selalu sebagai jurnalis hebat dan rendah hati. Selamat jalan, amatana. Bahagia di rumah Bapa di Surga.

 

Jakarta, 10 Juni 2020.
Oleh: Ansel Deri
(Orang udik dari kampung Kluang;
Mengenang om Alm Peter Apollonius Rohi yang pernah ke Lembata)

Komentar

Jangan Lewatkan