oleh

Romo Bernardinus Herry Priyono, SJ Wafat Hari Ini

-Kolom-9.508 views

Romo Bernardinus Herry Priyono, SJ: Saya mengenalnya sejak muda. Sejak saya masih mahasiswa dan sibuk kasak-kusuk meneruskan kegelisahan sebagai orang muda. Saat itu, dia baru saja menyelesaikan studi Master-nya di University of Philipines (UP) Diliman. Disana dia belajar sosiologi.

Dia agak istimewa. Dia diperbolehkan mengambil master sebelum dia belajar teologi. Saat itulah kami sering bertemu. Dia sering ‘mengeluhkan’ perbenturan antara latar belakang ilmu sosiologinya dengan teologi.

Waktu itu saya tidak terlalu paham. Namun, kini saya bisa membayangkan betapa dahsyat perbenturan itu. Sosiologi adalah ilmu empirik. Anda meneliti dulu baru kemudian menarik generalisasi atas apa yang Anda temukan.

Teologi adalah dunia yang sama sekali berbeda. Teologi, khususnya yang diajarkan di seminari-seminari, adalah sesuatu yang sudah disimpulkan. Ada ajaran yang sudah kurang lebih tetap. Tugas Anda adalah melihat dunia ini dengan kacamata ajaran itu.

Akibat dari ketegangan ini, tidak sedikit saya melihat calon paderi Katolik tumbang. Banyak yang tidak menyadari persoalan ini. Namun tidak sedikit yang tahu persis persoalannya dan berusaha hidup sebaik-baiknya diantara dua dunia itu.

Herry Priyono adalah salah satunya. Pertemanan kami tumbuh dengan subur. Saya kerap mengunjunginya di asrama tempatnya tinggal di Kolose Santo Ignatius, Kotabaru. Saya menemui dia entah ingin bertanya tentang buku baru atau menganalisis keadaan di Indonesia.

Dia ada di Filipina ketika Revolusi EDSA atau yang lebih dikenal dengan sebutan “People Power” sedang berlangsung. Dia ikut aktif dalam revolusi itu. Dari tempat tinggalnya di residensi Jesuit di Universitas Ateneo de Manila, dia ikut dalam pengorganisasian pengawasan pemilu yang hendak dicuri oleh rejim Ferdinand Marcos.

Salah seorang dosen saya di UGM yang ketika itu belajar di Ateneo de Manila pernah bercerita tentang bagaimana aktifnya Herry Priyono. Dia sering keluar malam dan menghilang selama berhari-hari.

Dan itulah yang membekas dari Herry Priyono ketika di Jogja. Untuk saya, Herry Priyono itu sangat Filipino. Bahasanya sangat puitik dan berbunga-bunga. Ketika berbicara tangannya bergerak kemana-mana seperti sedang berdeklamasi. Romantismenya terhadap revolusi juga sangat kuat. Mungkin saat itu dia berada di tengah pusaran revolusi.

Namun Herry adalah ‘a man of intellect.’ Dia cenderung pemalu di depan umum sekalipun menulis dengan bahasa keras namun puitik di media massa. Dia senang berpikir dalam-dalam.

Satu hal yang mempertemukan kami adalah gerakan. Ketika itu, di Jakarta, seorang sahabat dekatnya sesama Jesuit, I. Sandyawan Sumardi, merintis Institut Sosial Jakarta (ISJ). Saya tahu Herry memiliki komitmen yang sangat khusus terhadap ISJ. Dia mengatakan pada saya bahwa ke depan, kalau diijinkan oleh Provinsial Jesuit, dia akan bekerja di ISJ. Dan itulah yang terjadi. Dia sempat menjadi kepala divisi riset dan wakil direktur ISJ.

Bisa dikatakan bahwa perjumpaan-perjumpaan saya dengan Herry Priyono sangat intelektual. Dia mengajarkan saya banyak konsep. Saya ingat mendengar pertama kali konsep ‘negative dialectic’ darinya. Baru lama kemudian saya tahu bahwa konsep itu dikembangkan oleh Theodor Adorno. Herry menjelaskan kepada saya soal keadilan. Bahwa keadilan tidak bisa dimengerti tanpa ketidakadilan. Konsep ini cukup ruwet dan hingga sekarangpun saya masih mengunyahnya.

Namun diantaranya ada juga perjumpaan soal kegelisahan-kegelisahan pribadi. Saya sering bercerita kepada dia soal ketidakpastian masa depan. Dia juga bercerita soal yang agak pribadi.

Beberapa bulan sebelum dia ditahbiskan menjadi Paderi Jesuit dia sempat bercerita bahwa dia bimbang. Akankah dia maju terus? Hidup selamanya dalam jubah paderi? Namun itu tidak lama. Saya ingat persis dia bilang, “Untuk saya panggilan itu sangat, sangat intelektual. Panggilan itu memberi kesempatan saya berpikir.” Kemudian dia mengguman dalam bahasa Inggris, “Thinking is a very private process. It’s more private than sex!”

Kata-kata itu lama saya endapkan. Itu sebabnya saya masih mengingatnya hingga saat ini. Saya tahu dia paham betul akan pilihannya. Ada dimensi rasional dari pilihan spiritual yang dia jalani. Tidak banyak imam Katolik yang saya kenal sadar akan posisi ini.
Kami berpisah setelah dia ditahbiskan dan pindah ke Jakarta. Sesekali saya masih bertemu kalau saya ke Jakarta atau dia ke Jogja. Beberapa kali dia mengejutkan saya dengan melongok ke kamar kerja saya di Realino.

Namun kemudian kami berpisah. Dia melanjutkan studinya ke LSE di London. Saya terdampar di Ithaca, New York. Kami tidak banyak bertukar kabar. Hanya sesekali. Seingat saya, dia pernah bilang kalau salah satu supervisor studinya adalah Anthony Smith. “Lawannya gurumu,” katanya. Iya, dalam studi nasionalisme dan ethnicity, Anthony Smith memang banyak berbeda dengan guru saya.

Saya belum sempat membaca bukunya tentang korupsi. Namun saya tahu dia sibuk sekali mengajar di STF Drijarkara. Dia menjadi Kepala Paska Sarjana disana.

Dua bulan lalu saya menghubungi Romo Herry. Saya bertanya kabarnya dan menjajagi kemungkinan untuk bertemu. Saya tahu ini sangat tidak mungkin di masa pandemi ini. Kami hanya berbalas pesan singkat lewat WA.

Voilà…, Made. Quelle surprise. Terima kasih atas kontaknya. Iya, sudah sekitar 30 tahun tidak jumpa. Semoga sehat-sehat dan diberkati stamina cukup dalam kondisi sulit ini,” demikian jawabnya ketika saya tanya kabarnya.

Pagi ini, saya mendengar Romo Herry sudah pergi. Tentu saya berduka dengan kepergian ini. Beberapa teman saya berada dibawah bimbingan dia. Tentu saat-saat yang sulit untuk mereka juga.

Untuk saya, kepergian Romo Herry ini terasa persis seperti kehilangan sesuatu di dalam Gereja Katolik saat ini. Tidak banyak imam seperti dia, yang mau mengawinkan kekerasan dan hiruk ikuk perjuangan akan keadilan sosial dengan ketenangan hidup spiritual. Yang mampu mengawinkan ketegangan antara kemerdekaan hidup intelektual dengan bakti ketaatan spiritual.

A truly Jesuit he is

Itu sama sekali tidak mudah. Dia sudah memilih jalan paling keras dalam hidupnya dan dia setia sampai akhir.

Selamat jalan Romo Herry! Terima kasih atas semua kenangan yang penuh pergulatan ini. Seperti yang dulu pernah Romo bilang ketika kita masih sama-sama muda, “Hidup adalah pergulatan itu sendiri.”

 

Oleh: Made Supriatma

Komentar

Jangan Lewatkan