oleh

SDGs–Kita Beda Tapi Setara

-Kolom-540 views

Persepsi yang kurang tepat mengenai kesetaraan gender telah menghalangi peran perempuan dalam kehidupan sosial. Selama ini masyarakat menganggap perempuan memiliki keterbatasan kesempatan berdasarkan perbedaan ciri biologis primer. Persepsi mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan ciri biologis primer (fisik) telah membudaya, sehingga memengaruhi cara pandang masyarakat. Pandangan itu juga yang membatasi peran perempuan dalam tatanan sosial, sehingga mereka diposisikan berperan di rumah. Demi meraih hak sama di segala bidang, perempuan mengharapkan kesetaraan gender, dimana perempuan ingin memiliki akses dan kesempatan yang sama sesuai dengan kompetensinya.

Dunia siap menangani masalah tersebut. Dengan diluncurkannya Sustainable Development Goals (SDG’s) diharapkan dapat mencapai kesetaraan itu. SDG’s bila diartikan secara bahasa indonesia berarti tujuan pembangunan berkelanjutan. SDG’s merupakan lanjutan dari program Milennnium Development Goals (MDG’s), yang memiliki 17 tujuan dan 169 agenda yang telah ditandatangani oleh pemimpin-pemimpin negara yang diagendakan dalam periode 2015 hingga 2030.

Menarik memang jika melihat tujuan SDG’s yang sangat luar biasa. Kesetaraan gender menjadi salah tujuan SDG’s. Permasalahan mengenai keseteraan gender masih terlihat di Indonesia, terutama di daerah-daerah pelosok.

Pengukuran kesetaraan gender di Indonesia dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut BPS kesetaraan gender dipandang lebih merujuk pada tingkat pendidikan dan profesi. Sejalan dengan tujuan SDG’s, BPS memiliki peran dalam menyediakan data-data yang selanjutnya digunakan oleh pemerintah dalam menjalankan program pembangunan berkelanjutan.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), kesetaraan gender secara statistik semakin membaik. Pada tahun 2018 tercatat angka lulusan perguruan tinggi laki-laki dan perempuan nyaris seimbang, dan ternyata angka lulusan perempuan lebih besar dari laki-laki, 7,36 persen untuk laki-laki dan 7,95 untuk perempuan. Namun, persentase perempuan yang tidak memiliki ijazah pendidikan masih lebih tinggi, yakni 20,73 persen, sedangkan untuk laki-laki 18,50 persen.

Dari data tersebut terlihat masih terdapat ketimpangan dalam kesetaraan gender. Untuk bisa menghilangkan ketimpangan-ketimpangan tersebut, perlu dukungan seluruh elemen masyarakat dunia baik di tingkat pemerintahan hingga masyarakat bawah. Pemahaman terhadap kesetaraan gender harus ditanamakan sejak dini, tidak hanya dalam keluarga tetapi juga di lingkungan sekitar. Semua harus yakin bahwa semangat perubahan itu nyata dan memang benar adanya. Ingat, kesetaraan gender bukan hanya dilihat dari segi fisik, tetapi juga dari kompetensi. Jadi, walau kita beda, tapi kita setara.

 

Oleh: Indra Kumanireng, Mahasiswa Politeknik Statistika STIS Jakarta

Komentar

Jangan Lewatkan