oleh

Taman Daun Bedah Rumah Lansia

-Kolom-336 views

SUDAH selayaknya usia senja merupakan waktu bagi seseorang untuk menikmati masa tuanya bersama keluarga, bermain bersama cucu juga kasih sayang dari anak-anak sebagai ungkapan terima kasih untuk ketulusan Ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita.

Namun, tidak dengan nenek Paulina Peni Kei yang disapa Penny. Perempuan berusia 75 tahun ini diketahui tinggal seorang diri tanpa ada keluarga yang menemani. Bahkan, untuk makan sehari-hari nenek Penny hanya bergantung pada belas kasihan dari tetangga sekitar. Suamiya telah meninggal dunia 10 tahun lalu, dan jika ditanya soal anak kandungnya, nenek Penny selalu menjawab “saya sakit”.

Selain fisik yang tak lagi kuat untuk bergerak mencari hidup, penglihatannya pun semakin suram sehingga pekerjaan pokok sebagai penenun sarung tradisional dan pekerja kebun tak mampu lagi ia geluti. Kesehariannya saat ini hanya duduk dari pagi hinga sore hari sebelum gelap lalu tidur malam di atas bilahan bambu tanpa kasur seolah berharap ada orang yang datang memberi makan atau ia hanya sanngup pasrah menunggu ajal menjemput.

Sudah hampir 20 tahun Paulina Peni Kei hidup sendiri di dalam sebuah gubuk reot dan kumuh di Kampung Kalikasa, Desa Katakeja, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata-Nusa Tenggara Timur-Indonesia.

Menjalani takdir seorang diri di dalam gubuk yang hanya beralaskan tanah dan nyaris roboh, dia hanya pasrah membaringkan tubuh di atas belahan bambu lusuh. Listrik juga tidak dimilikinya, sehingga semakin menambah derita hidupnya yang tadi hanyalah rabun jauh, kini gelap total.

Tanpa toilet? Hal ini diluar kemanusiaan. Setiap kali nenek Penny ingin ke toilet, ia terpaksa menghamburkan semua kotorannya di dalam rumahnya lalu hidup dan bernapas bersama debu dan udara tak sedap sepanjang hidup lalu mati bersama onggokan bangkai?

Ini sungguh di luar kemanusiaan.

Sesungguhnya yang utama adalah tentang harga diri sebagai seorang manusia. Satu-satunya yang membuat manusia itu manusia adalah keberadaan toilet. Hal kecil yang terlupakan, tetapi inilah harga diri seorang manusia.

Dari situlah kami semua bersepakat untuk membangun istana baginya, mengangkat derajat hidup nenek Penny layaknya manusia pada umumnya. Tegas salah seorang Relawan Taman Daun.

Tak menunggu lama, tepatnya tanggal 27 Juni 2020, material bangunan mulai dikumpulkan satu per satu. Mulai dari anggota Komunitas Taman Daun Lembata sendiri hingga beberapa orang yang mengetahui rencana aksi ini, pun turut bersumbangsih baik secara materi maupun materials seperti semen, seng, kayu, dan batu-bata merah, bahan bangunan dan perabot rumah tangga.

Empat orang tukang bangunan dari Lewoleba .Selain Emrin Manuk, Hanes Nara, Paulus Keraf yang rela meninggalkan istri dan anak mereka demi membantu si nenek dan harus menginap di desa yang jaraknya lumayan jauh dari Lewoleba ditambah medan jalan yang rusak parah sehingga sangat membahayakan jiwa, salah seorang anggota Taman Daun Yasin Hali rela meninggalkan ayahnya yang sedang sakit selama beberapa hari demi membahagiakan nenek Penny.

Dibantu dengan pemuda pegiat literasi dari Taman Baca Kampung Kodok Kalikasa-Atadei, gubuk reot nenek Penny dibongkar total dan dalam waktu empat hari terhitung sejak pkl 15.00 sore 29 Juni 2020, gubuk kumuh di tengah kampung itu berubah pesat jadi rumah yang layak huni berdiri kokoh diatas petak yang sama dengan dua kamar, satu ruang tamu sesuai denah gubuknya dulu plus dapur dan toilet.

Hari Jumat, 3 Juli 2020 petang, nenek Penny dijemput dari rumah tetangga yang ia tinggali sementara selama proses bedah.

Semua Relawan Taman Daun dan beberapa warga mengiringi langkah kaki perempuan tua itu memasuki halaman rumah barunya.

Tangis air mata tak mampu dibendung oleh hampir semua orang yang hadir saat itu termasuk nenek Penny sebelum salah seorang biarawan memberkati rumah barunya.

Salah seorang anggota Komunitas Taman Daun, mengaku sangat bangga bercampur haru dengan keterlibatan semua relawan. Semoga aksi sosial ini bisa menjadi contoh kebiasaan Gemohing atau tradisi gotong-royong masyarakat Lamaholot Lembata yang semakin luntur.

“Kita terlahir dari budaya Lamaholot yakni gemohing. Ini bisa jadi motivasi bagi masyarakat untuk hidupkan lagi budaya gemohing itu,” imbuhnya. Baginya, gemohing merupakan nilai Lamaholot yang selalu aktual dan tak lekang waktu.

Lebih jauh, ia berterima kasih kepada teman-teman relawan dan orang-orang baik lainnya yang berdonasi dari kekurangan mereka. “Kita adalah orang kaya sesungguhnya”.

Dengan rumah baru ini, kita sudah memuliakan dia sebagai seorang manusia yang sesungguhnya. Dan ternyata kebahagiaan ini membantu dirinya hidup lagi dan tanpa disangka dia mampu melihat kembali meski masih samar dan ketika dengar bahwa kita akan bangun rumah baru baginya, ia telihat bahagia sekali dan mulai berjalan sendiri perlahan bersama wajahnya yang sungguh berubah cerah.

Makna dari bantuan yang semula hanya karena tidak tega melihat rumah reot yang hampir rubuh, ternyata malah menjadi mendalam. Kita sudah membantu nenek yang buta mungkin karena psikis dan tekanan penderitaan hidup yang selama ini ia alami sendiri. Hal ini bisa jadi point penting untuk masalah-masalah kebutaan dan kemiskinan banyak masyarakat pada umumnya.

Mereka bisa ditolong bila kita bisa membantu meringankan beban hidup yang terlampau berat mempengaruhi secara psikis dan mengakibatkan kebutaan.

Bantuan kita hari ini seperti setetes embun yang menyejukan hatinya. Dia sudah tua, ini mungkin kebahagiaan terakhir yang akan nenek bawa pada suatu saat ketika jiwa lepas dari raganya.

Puji syukur bahwa hari ini derajat hidup nenek Penny telah diangkat layaknya manusia pada umumnya.

Salam, KOMUNITAS TAMAN DAUN LEMBATA.

 

Oleh: John Batafor

Komentar

Jangan Lewatkan