oleh

Tentara yang Pernah Jadi Buruh Kasar

-Kolom-2.416 views

SUATU saat kami bertemu di Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Namanya Kol Pas TNI AU Drs Epi Embu Agapitus, M.Si (Han). Nama dan jejak pengabdian Epi sudah lama saya baca dari ANGKASA, majalah bulanan yang fokus mengulas dunia penerbangan nasional, termasuk profil para prajurit yang mengabdi bagi bangsa dan negara.

Di majalah itu, ia terlibat dalam penyelesaian perundingan dengan pihak-pihak yang berkonflik di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Ia sosok ramah. Seorang prajurit yang suka musik.

“Kalau adik tanya di mana saja saya bertugas di lingkup TNI, terutama di TNI AU saya kasi saja buku kecil ini. Di sini bisa ade lihat perjalanan tugas saya. Ini data lama tapi sebagian besar ada di buku ini,” kata Kol Epi dengan senang hati, setelah saya juga mengaku sesama lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana Kupang.

Beberapa kali nama Epi juga saya dengar dari seniornya, Kol TNI-AU (Pnb) Faustinus Djoko Poerwoko dan Kol TNI AU Florentinus Sulaksito. Kala itu, Djoko Poerwoko (ex frater Mertoyudan) adalah perwira tinggi TNI AU, mantan Ketua Dewan Stasi Santo Agustinus Halim Perdanakusuma, Paroki St Antonius Padua Jakarta Timur. Sedang Pak Laksito adalah pengganti Djoko Poerwoko sebagai Ketua Dewan Stasi Gereja St Agustinus. Baik Djoko maupun Laksito pernah bertugas di Pangkalan Udara (Lanud) El Tari Kupang. Pernah pula sosok dan pengabdian keduanya saya abadikan di HIDUP, majalah mingguan paling keboak di Indonesia.

“Pak Epi sudah senior. Saya dengar namanya setelah mulai bertugas di Lanud Halim Perdanakusuma usai pindah dari Lanud Hasanuddin Makassar,” kata Kepala Penerangan dan Perpustakaan Lanud Halim Perdanakusuma Mayor TNI-AU Gerardus Maliti kepada saya suatu waktu. Kala itu Maliti, prajurit asal Pulau Sumba, menjabat ketua lingkungan Stasi St Agustinus dalam kompleks TNI AU Halim Perdanakusuma.

Buruh kasar

Siapa sosok Epi Embu Agapitus, bisa saja banyak orang, terutama warga NTT belum tahu tentara yang jago menciptakan lagu-lagu bertema nasionalisme dan daerah NTT, tanah kelahirannya. Epi adalah salah seorang perwira tinggi TNI asal NTT pertama dari Korps Baret Jingga.

Sejak Oktober 2018, Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto S.I.P melalui Dewan Jabatan dan Kepangkatan Perwira Tinggi (Wanjakti) mengangkat Epi Embu Agapitus menjadi Kepala Staf Garnisun Tetap II yang berkedudukan di Bandung, Jawa Barat.

Pengangkatan ini tentu sesuai prestasi dan pengalaman Epi di lingkup TNI. Namun, siapa sangka perwira yang satu ini semasa kuliah pernah menjadi buruh kasar, kenek di kota Kupang, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.

Usai makan bareng di salah satu ruang di Hotel Borobudur, saya memberanikan diri menguak lebih banyak sosok dan kiprah Epi lebih jauh. Layaknya anak-anak luar kota Kupang yang merantau untuk melanjutkan kuliah, Epi juga pernah terjun merasakan kerasnya kota Karang itu demi membiayai hidup di kos.

Usai kuliah pada Program Studi Bahasa Inggris, jurusan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana Kupang tahun 1981-1985, Epi mengaku mencari kerja sampingan. Epi terjun menjadi buruh kasar, kenek. Kadang pula menjadi tukang gali lubang untuk tiang listrik.

“Bapa saya guru tapi gajinya pas-pasan. Bapa dan ibu mesti menanggung kami semua sebelas bersaudara. Agak sulit juga makanya saya mesti cari tambahan di luar jam kuliah. Kalau bukan ke perpustakaan, saya akan tapaleuk di Kupang. Kalau ketemu orang lagi kerja bangunan, saya beranikan tanya. Apa masih butuh kenek atau tidak. Kalau mereka butuh, saya senang karena uang sudah di depan mata. Sebagai buruh kasar tugas saya angkat campuran dan pikul semen,” kata Epi sembari tertawa.

Dalam hati saya pikir, pengalaman tentara ini kok mirip? Bedanya beliau anak guru, saya anak petani. Satu kesamaan sama-sama pernah jadi buruh kasar dan kelak beda nasib. Hehehehe…

Kisah masuk tentara

Epi lahir di Ende, Flores, 16 Maret 1963. Namun, sesungguhnya ia berasal dari desa Ladolima, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo. Epi mengku masa kecilnya dia habiskan di Ladolima. Sejak kecil ia bercita-cita jadi tentara karena tertarik dan kagum dengan disiplin. Tentara juga dia anggap hebat, cekatan dalam bekerja. Tatkala ia sekolah di SMA Suryadikara, Epi akrab dengan istilah Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau AKABRI.

Cita-cita itu terus muncul setelah Epi, Kasubdit Asia Pasifik serta Amerika, Eropa, dan Afrika, Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia tahun 2011-2014, menyelesaikan studinya di SMA Suryadikara tahun 1981. Suryadikara merupakah salah satu sekolah Katolik unggulan di kota pembuangan Bung Karno. Sosok tentara yang disiplin dan cekatan semakin memompa semangat Epi. Celakanya, ia tak bisa mengikuti seleksi karena terganjal di tinggi badan: cuma satu meter kotor. Itu kata Epi meminjam dialek orang Kupang, kota yang pernah ia akrabi sebagai buruh kasar.

Epi mengaku, meski kerinduan menjadi tentara sempat ia kubur selepas SMA, tekadnya sudah bulat. Ia setia berdoa dan berusaha mengolah fisik dan mental agar kelak mewujudkan impiannya menjadi tentara yang gagah mengenakan baju loreng. Usai meraih kuliah sarjana strata satu (S-1) Bahasa Inggris di FKIP Undana, peluang bagi putera Nagekeo ini kian terbuka. Apalagi, saat itu lulusan sarjana dibuka ruang mengikuti seleksi masuk TNI lewat jalur wajib militer. Apalagi ia adalah anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) semasih kuliah.

“Saat lulus S-1 saya sesunguhnya menjadi staf pengajar, dosen di Undana. Selama kuliah, saya juga memperoleh beasiswa ikatan dinas. Cuma cita-cita saya menjadi tentara sejak masih kecil sudah melangit,” ujar Epi, yang pernah jadi anggota Pasukan Perdamaian PBB dalam Tugas Khusus Pembebasan Sandera WNI di Mindanao, Filipina Selatan, tahun 2016-2017.

Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan