oleh

Tiadakan Mata Pelajaran Agama Bukan Wacana Baru di Indonesia

-Kolom-1.523 views

Isu meniadakan mata pelajaran agama di sekolah bukan wacana baru di Indonesia. Alasannya agama dilihat sebagai hal yang bersifat pribadi. Bukan urusan publik, sehingga negara tidak perlu mengatur, termasuk menjadikannya sebagai mata pelajaran di sekolah. Namun isu tersebut kemudian hilang.

Di beberapa negara seperti Jerman, Denmark, Wales, India, dan Singapura, tidak lagi mengajarkan pendidikan agama di sekolah. Ajaran agama dianggap sebagai urusan agama, dan agama berada di ranah privat.

Namun kondisi sejumlah negara di Eropa dan Asia tersebut tentu berbeda sama sekali dengan Indonesia. Perbedaan tersebut antara lain, meliputi aspek sosial budaya dan ekonomi.

Indonesia dikenal sebagai negara dengan ciri keagamaan yang dominan. Dengan jumlah pemeluk agama yang besar bahkan misalnya, agama Islam terbesar di dunia, dan ada Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Kongfutzu. Itulah sebabnya di dalam sistem pendidikan nasional, diatur pula mengenai pendidikan agama.

Dari segi ekonomi, jumlah pemeluk agama yang besar juga menunjukkan jumlah angkatan kerja yang besar pula. Itulah sebabnya, dengan memasukan pendidikan agama sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional maka negara telah ikut menyediakan kesempatan kerja yang adil bagi rakyatnya.

Pada titik ini maka pemerintah sebagai penyelenggara negara telah menyelesaikan dua tanggung jawab sekaligus, yaitu memelihara religiusitas rakyatnya sekaligus dapat memperhatikan kehidupan ekonomi rakyat dan bangsa. Dari perspektif politik ekonomi dan politik kebangsaan, negara dinilai telah hadir bagi rakyatnya.

“Tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang termaktub dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berkakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan di atas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kebutuhan akan nilai-nilai spiritual, sosial, akademik, ketrampilan, seni-budaya, dan nilai-nilai nasionalisme menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan. Dan mampukah hanya dengan pendidikan karakter nilai-nilai spiritual akan terbentuk?,” tulis Wahyudi Hardianto; kompasiana.com edisi 5 Juli 2019.

Maka wajar jika kemudian KH. Prof. Dr. Said Aqil Siradj, seorang tokoh dan ulama modern Indonesia menyatakan “Agama Tanpa Nasionalisme Akan Menjadi Ekstrem, Sedangkan Nasionalisme Tanpa Agama Akan Kering. Beliau menambahkan bahwa fenomena ekstrimisme agama lahir dari orang dan kelompok orang yang terlalu eksklusif dan sempit dalam memahami agama, bukan karena ajaran agamanya”. Ya, karena sekelompok ekstrimis akan mungkin muncul pada setiap kelompok agama. Tidak hanya pada agama tertentu, lanjut Wahyudi Hardianto.

 

(Oleh, Fredrik Kande, Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta)

Komentar