oleh

Timor dan Sumba

-Kolom-523 views

PULAU Timor dan Sumba. Dua pulau jumbo milik Nusa Tenggara Timur. Timor sangat terkenal dengan cendana, “kayu setan” bernilai ekonomi tinggi. Era Presiden Soeharto cendana nyaris di bawah “lindungan” negara. Alhasil, sebagian hasil penjualan kayu yang ditanam dan dirawat orang Timor puluhan tahun dikuasai kaum berduit dari Jakarta setelah mengakali para pemilik bahkan pemangku ulayat di mana cendana tumbuh. Setelah populasi cendana nyaris hilang dari rahim Timor, baru diatur tata niaganya. Tata niaga diatur: 80 persen penjualan untuk rakyat. Sedang 20 persen masuk kantong pemiliknya. Tapi sekali lagi, populasi cendana sudah nyaris hilang tanpa jejak. Itu baru sekadar cendana. Tanah Timor baru saya akrabi mulai tahun 1990 tatkala melanjutkan sekolah di Kupang setelah menempuh perjalanan laut selama tiga hari tiga malam bermodal kapal barang yang melepas jangkar dari Pelabuhan Larantuka. Saat kapal barang itu mencium bibir dermaga Tenau, di beranda Semau, pulau asal Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat, telinga saya terasa asing mendengar aneka logat dari suara para buruh pelabuhan, supir, kondektur hingga pedagang asong. Timor sungguh asing bagi saya manusia muka baru, calon mahasiswa.

Sedang Sumba? Sumba tak begitu lengket di batok kepala sejak saya tinggalkan Boto, kampung saya pigi lanjut sekolah di Lewoleba, kota Pembantu Bupati Wilayah Lembata tahun 1987. Sumba sedikit masuk batok kepala sebentar tatkala diberitahu banyak imam Redemporis asal Lembata berkarya di Keuskupan Weetabula sejak Konggregasi itu mulai hadir di Sumba, pulau yang terkenal sebagai penghasil kuda Sandelwood. Kuda jenis itu pun belakangan baru saya tahu di lapangan Pacuan Kuda Pulomas, tak jauh dari Gereja Katolik Santo Bonaventura, Dekanat Jakarta Timur, Keuskupan Agung Jakarta awal saya menginjakkan kaki pertama di Jakarta akhir Agustus 1998.

Tahun 2000 Pulau Sumba saya jejakkan kaki untuk pertama kali. Pesawat Merpati rute Jakarta-Kupang transit di bandara udara Tambolaka dan saya merasa bahagia dalam sejarah hidup boleh menginjakkan kaki di tanah Merapu itu. Dari perut Merpati, hamparan padang sabana memanjakan mata. Saya teringat Boto, kampung halaman yang baru saja dilewati Gubernur Laiskodat akhir Juli 2020 lalu dalam perjalanan dari Lamalera melewati Desa Posiwatu, Puor, Boto, Atawai lalu keluar di Peneikenek sebelum melanjutkan perjalanan ke Lewoleba. Waktu tunggu Merpati transit, saya turun dan melihat pesona padang sabana dari kejauhan kemudian memanjakan mata melihat kerbau dan sapi dari kejauhan. Saya mencoba menahan rasa sakit akibat usus besar saya terasa seakan menggantung di ulu hati. Saya tarik nafas panjang dan rasa sakit hilang dengan sendirinya. Rekan-rekan wartawan terpukau. Sumba sangat indah. Seindah syair Umbu Landu Paranggi, penyair kuda kayu kelahiran Sumba dan Presiden Malioboro yang telah mengajarkan dan mendidik banyak orang menjadi orang besar seperti WS Renda, Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, dan lain-lain.

Apakah Pulau Timor dan Sumba menyumbang kemiskinan? Kalau saya ditanya kala itu? Saya bisa merasa tersinggung. Timor atau Sumba tidak miskin. Kalau Jakarta secara formal mengatakan Timor dan Sumba miskin, itu hemat saya soal konsep dan dari sudut mana melabelkan dua pulau jumbo di tanah Flobamora sebagai pulau yang bertabur kemiskinan. Kalau saya, misalnya, meneguk kopi manis di mok ditemani ubi kayu rebus, daging rusa atau celeng di pondok bapa saya di hutan atau di teras rumah lalu serta merta seolah saya miskin, sabar dulu. Saya akan bangga dengan Umbu Landu Paranggi, Rektor Universitas Kristen Atrha Wacana Kupang, Pendeta Dr A A Yewangoe atau ahli Kimia Universitas Indonesia Dr Kebamoto.

Ke Timor saya akan bangga dengan Dr Ataupah, antropolog Universitas Nusa Cendana yang pernah mengakrabi Lembata, kabupaten tempat asal saya. Tatkala ia tiba di Lewoleba dalam sebuah misi penelitian antropologi, Ataupah mengisahkan beliaulah yang menanam sebuah anakan cendana di halaman depan kantor Pembantu Bupati Lembata di Lewoleba. Pun Prof Dr August Benu, Rektor Universitas Nusa Cendana Kupang, yang menandatangani ijazah saya yang jadi modal setelah lulus. Siapa juga kenal Mgr Wilhelmus Gabriel Manek? Gabriel Manek adalah Uskup pribumi kedua di Indonesia setelah Mgr Albertus Soegiyapranoto. Uskup pendiri Konggregasi Puteri Reinha Rosari (PRR) kelahiran Lahurus, Belu di Pulau Timor adalah anggota MPR RI utusan Golongan dari Sunda Kecil.

Gabriel Manek adalah uskup yang mendirikan PRR yang kini memiliki komunitas di hampir lima benua di dunia. Jenazah uskup ini kini masih utuh di Lebao, Larantuka, Flores Timur, setelah diterbangkan dari Amerika Serikat setelah menyinggahi Bali, Kupang, Lahurus sebelum ke kota Reinha Larantuka berkat kerjasama Pemerintah Indonesia dan Amerika serta doa dan usaha para suster PRR. “Tugas adik membantu memberitakan info kepulangan jenazah Bapa Uskup Gabriel Manek ke media agar umat Katolik bisa memperoleh informasi yang utuh. Ini bentuk peran kecil kita bagi Gereja dan negara paling mini,” kata Danggur Konradus, anggota Panitia Nasional Penjemputan Jenazah Uskup Gabriel Manek kepada saya di kantornya, Jatinegara, Jakarta Timur suatu pagi.

Penyumbang kemiskinan

Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat, Sabtu, 15 Agustus 2020 mengeluarkan statemen yang kedengaran di telinga agak vulgar. Berbicara saat acara Syukuran Hari Ulang Tahun ke-9 SMP Negeri 6 Nekamese, Gubernur asal kampung Tubululin, Pulau Semau (depan Pelabuhan Tenau), mengatakan, Pulau Sumba dan Pulau Timor penyumbang terbesar kemiskinan di NTT. Oleh karena (wajah) Timor dan Sumba menyetor kemiskinan paling besr di seantero tanah Flobamora, Gubernur Laiskodat akan banyak menghabiskan waktunya di dua pulau tersebut. “Gubernur akan banyak ada di Pulau Sumba dan Pulau Timor. Karena dua pulau itu penyumbang terbesar kemiskinan di NTT,” ujar Gubernur Laiskodat. Statemen ini saya kutip dari sebuah media online lokal. Media ini pun yang menjadi juruselamat saya saat tinggal dan sekolah di Kupang, Pulau Timor. Saya nyambi jadi loper agar saya tak ikut-ikutan menyumbang kemiskinan seperti kata Laiskodat.

Pekan pertama Agustus 2016, saya menempuh rute panjang Atambua melewati (kalau tak salah) Nurobo menuju Betun. Di tengah jalan, mobil berisi sembako Gubernur Laiskodat nyaris masuk jurang. Supir yang membawa truk bermuatan sembako tak tahu kalau jembatan yang hendak kami lewat sudah putus total. Supir pun bingung karena tak tahu harus ambil jalur lain menuju Betun. Sinyal telekom hilang. “Sebaiknya om jangan turun. Jalur ini kurang nyaman. Kita bisa berbahaya oleh orang-orang yang tidak kita kenal. Kita putar balik pelan-pelan arah Atambua sampe ketemu sinyal telkom. Kalau sudah ada sinyal, kita minta dipandu teman-teman dari Betun,” kata om Johni, teman seperjalanan kepada saya. “Kalau perampok nekad, tinggal kita damai saja sesama orang susah. Nanti lihat saja, siapa yang lumpuh duluan. Saya rasa tenaga saya masih kuat untuk satu atau dua ronde,” kata saya bergurau. Kami tertawa di tengah hutan di tengah gelap kemudian melanjutkan perjalanan ke Betun dan tiba sekitar pukul 02.00 WITA.

Sumba, khususnya Kabupaten Sumba Tengah, Sumba Timur, Sabu Raijua dan Sumba Barat Daya sebagai daerah yang harus diperhatikan dan diurus. Oleh karena miskin, kata Gubernur Laiskodat, Sumba harus diurus agar berubah. Untuk itu, lanjut Laiskodat, maka pendidikan menjadi hal utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan manusia dan pembangunan wilayah Provinsi NTT. Saat di Nemakese itu Gubernur Laiskodat meluncurkan Program Restorasi Kebangkitan Pendidikan NTT serta meluncurkan buku karya siswa dan guru SMP Negeri 6 Nekamese. Kala itu ia didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Linus Lusi, Kepala Dinas Perdagangan dan Perinduatrian NTT, Kepala BPBD NTT Thomas Bangke, Karo Humas Setda NTT Marius Ardu Jelamu, staf ahli Bidang Politik Ima Blegur, staf ahli Pius Rengka, Wakil Bupati Kupang Jerry Manafe, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kupang Imanuel Buat.

Tentang pendidikan yang masih jauh dari sentuhan anggaran pemerintah, saya teringat saat mengelilingi Betun dan Besikama pekan pertama Agustus 2016. Sebuah gedung sekolah negeri kelas jarak jauh nampak seperti kandang kambing. Luput dari perhatian Pemerintah Kabupaten Malaka. “Mari liat dan foto kami punya sekolah, katuas (orangtua),” kata seorang siswa. “Ho naran sa?” “Namamu siapa?” Saya bertanya dengan bahasa setempat. Modal pertanyaan yang saya masih ingat saat menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota Atambuan tahun 1997. Saya melangkahkan kaki ke arah sekolah itu. Saya dikerubuti anak-anak yang polos. Mengingatkan saya tatkala menghabiskan waktu di SD bermodal seragam putih-merah selama 6 tahuh. “Saya ijin boleh foto-foto ya, bu guru,” kata saya. “Silahkan saja, Pak. Siapa tahu gedung sekolah kami ini dibangun agar anak-anak kami nyaman di dalam kelas,” kata ibu guru. Wajah kemiskinan di depan mata? Tida juga. Anak-anak dan gurunya hanya butuh ruang kelas yang manusiawi. Kalau saja Presiden Jokowi punya waktu ke Malaka, tapal batas negeri, beliau akan tahu kemerdekaan dalam pendidikan belum sepenuhnya menjadi bagian indah anak-anak negeri di tapal batas. Timor bisa saja perlahan mengurangi kemiskinan sebagaimana kata Gubenur Laiskodat. Selamat HUT RI ke-75 tahun 2020.

 

Jakarta, 16 Agustus 2020
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan