oleh

Trio Pattyona Merasul di Jalur Pendidikan

-Kolom-370 views

ADA dua tawaran saya terima. Pertama, menjadi tenaga satuan pengaman (satpam) atau security di SD Santo Fransiskus Kampung Ambon, Jalan Bangunan Barat, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Kedua, menjadi guru di Perguruan Benteng Gading, daerah Kapuk Kamal, Jakarta Barat. Saya pikir Tuhan menunjuk orang baik untuk saya. Melalui tangan mereka, pintu rejeki terbuka lebar. Menjadi satpam datang dari bapa Pius Bala Baran didukung bapa Yohanes Gelu Alior (magun Pius dan Gel Ama).

Rumah magun Pius dan magun Anis kebetulan tak jauh dari rumah tante Agnes Letek Klobor Botoor, isteri bapa Siprianus Pletu Botoor, pegawai di kantor Penghubung Pemprov NTT di Tebet Timur Dalam, Jakarta Selatan. Pa Pri adalah ASN sekaligus supir Gubernur El Tari hingga Pak Gubernur Piet A Tallo.

“Saya bisa menyesuaikan waktumu. Boleh mengajar Sabtu agar tidak mengganggu aktivitasmu di media. Sekolah ini bapa besa, ade Ruben Pattyona dan bonsu Peter Pattyona rintis agar jadi lahan pengabdian tambahan kami bagi bangsa dan negara serta bakti kita kepada Gereja,” kata Jos Pattyona, kaka sulung Petrus Bala Pattyona. Kami akrab menyapa Bala Pattyona dengan bonsu Peter atau kaka bonsu.

Jos Pattyona tak masalah saya kerja sebagai tenaga security di sekolahan di bawah naungan Ordo Fratum Novarum (OFM). Apalagi, tawaran itu datang dari bapa Pius Bala Baran, aktivis Gereja St Bonaventura Jalan Pacuan Kuda, Pulomas asal Posfatu, Wulandoni. Pius selain sebagai tenaga security berpengalaman, ia juga adalah pembina bagi pasangan calon muda-mudi yang hendak mengoleksi sakramen pernikahan suci di Dekanat Jakarta Timur, Keuskupan Agung Jakarta. Tampilan fisik saya, kata bapa Jos Pattyona dan magun Anis Alior bisa diandalkan menjaga keamanan dan ketertiban SD Fransiskus Kampung Ambon. Dalam hati saya berpikir, dari mana dua bapa tua ini bisa mengukur saya bisa memberi jaminan keamanan bagi sekolah atau anak-anak dari gangguan luar?

Setahu saya, sekolah itu agak elite. Halaman nan asri kerap dijadikan tempat shooting beberapa film layar lebar. Selain itu, sekolah yang sangat disiplin dalam aturan itu beberapa kali saya sambangi untuk mengantar adik Karmel Botoor, putera Pak Pri Botoor.

“Kalau bukan naik becak, kami sering naik vespa. Tak jauh juga dari rumah jadi kalau naik vespa lebih cepat sampe di sekolah. Tapi bunyi vespa kencang sekali. Bisa bekin telinga pekak,” kata saya kepada Pak Jos Pattyona. Pak Jos tertawa. Saya heran. Kok ketawa? “Vespa atau bajaj? Soalnya bapa belum pernah liat engko naik vespa. Apalagi baru tiba di Jakarta,” kata Pak Jos. “Dasar orang gunung. Ini barang saya kira vespa. Padahal, bajaj,” kata saya kepada Pak Jos. Kami dua ketawa.

Muka ndeso

Di sela-sela menjadi wartawan di Ibu Kota sekaligus membantu SKM Dian di Ende, Flores sejak Oktober 1998, Pak Jos meminta saya membantu mengajar di SMK Benteng Gading di daerah Kapuk Kamal, Jakarta Barat. Tawaran ini membuat saya tak menolak. Saya sudah menyampaikan bahwa saya dipercayakan Pak Karel Danorikoe sebagai Redaktur Pelaksana OZON, majalah bulanan yang concern di bidang lingkungan hidup, pertanian, kehutanan, dan pariwisata. Berkantor di Jalan Mangunsarkoro, samping rumah Jabatan Wakil Presiden RI tak jauh dari Taman Suropati, Menteng masih saja membuat saya kewalahan. Bukan soal menangani majalah itu saja. Lebih dari itu saya kerap bingung naik bus tingkat dua rute Pulagadung-Blok M, melewati Jalan Diponegoro, tak jauh dari kantor redaksi OZON.

Bagaimana kalau saya menerima tawaran mengajar di SMK Benteng Gading yang terletak di Kapuk Kamal Jakarta Barat. Sedang saya tinggal di Rawasari, belakang kintal yang luas milik Hutomo Mandala Putera, putera kesayangan Presiden Soeharto. Jarak Rawasari di Jakarta Timur ke Kapuk Kamal, Jakarta Barat, sangat jauh. “Muka saya masih sangat kampung. Bahasa Indonesia masih kental Kupang. Siapa mau dengar saya omong dengan logat Kupang. Beberapa kali saya minta tukang vespa antar saya, tapi kadang si supir malah ketawa. Katanya bukan vespa tapi bajaj,” cerita saya kepada ibu Agnes Klobor, tante saya.

“Dasar kampungan anak saya ini. Tapi, lama-lama bahasamu pasti sudah bisa menyesuaikan. Kalau sudah lancar, kamu punya banyak teman. Punya banyak teman selalu ada kemudahan mencari peluang kerja di Jakarta,” kata ibu Nes Klobor, adik bungsu ibu saya. “Pokoknya kalau bahasa Jakarta, cukup tebal muka saja,” kata saya.

Kagum Pattyona

Nama trio bersaudara kandung: Joseph Pattyona, Paulus Ruben Pattyona, dan si bontot Petrus Bala Pattyona sudah familiar bagi kami orang-orang kampung dari lereng Labalekan, gunung dengan panorama alam mempesona dan sumber tanaman pertanian dan niaga di Lembata. Jos adalah anak sulung dari pasangan kakek Arnoldus Wolo Pattyona & nenek Juliana Anse Ndoen. Jos lulusan Universitas Indonesia. Ia segera terjun dalam dunia kerja yang mengantarnya menduduki pos penting di PT Bayer, kalau tak salah. Sedang Ruben Pattyona adalah sarjana ekonomi yang meniti karier di Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta sebagai aparatur sipil negara (ASN).

Si bungsu, Petrus Bala Pattyona, memilih sebagai tenaga relawan, volunteer di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta setelah merampungkan studinya pada Fakultas Hukum Universitas Jayabaya Jakarta.

“Bapa besa sangat berjasa bagi saya dan bapa tenga Ruben. Beliau mengajarkan kasih sayang, disiplin, dan kerja keras selama merantau di Jakarta. Cuci piring, ngepel, dan timbah air adalah pekerjaan yang kami lakukan. Urusan uang kuliah tak ada masalah. Bapa besa ingin agar kami adik-adiknya maju dan berhasil kelak. Apalagi sudah meninggalkan kampung halaman,” kata Bala Pattyona, pengacara sukses yang tengah merampungkan studi doktoral di Universitas Krisnadwipayana Jakarta.

Sebagai orang kampung, Jos dan dua saudaranya: Ruben dan Bala, juga sangat care terhadap dunia pendidikan. Lama bekerja dan mendapat berkah melimpah, ketiganya merintis sekolahan SMP & SMK Benteng Gading di Jakarta Barat. Sekolah ini awalnya untuk anak-anak dari orang-orang kecil tak mampu di wilayah Jakarta Barat. Kisah menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu ini meluluhkan hati saya menerima tawaran Pak Jos mengajar di SMK Benteng Gading. Ada kemudahan ia berikan. Saya boleh mengajar hari Sabtu agar tidak mengganggu aktivitas saya di media.

Setiap Jumat malam saya naik ‘vespa’ ke Menteng Atas, kediaman Pak Jos. Sabtu pagi sekitar jam 04.30 WIB, saya dan Pak Jos baru meluncur ke Jakarta Barat kemudian saya menunaikan tugas mengajar.

“Kalian punya guru baru. Kalau liat tampangnya uda bisa tau dari mana asalnya. Beliau jago mengajar jadi anak-anak tentu cepat mengerti,” kata Pak Jos memperkenalkan saya.

Dua rekan guru sesama anak Lembata: Pius Ari dan Karel Etoehaq tertawa di samping Pak Jos. Pius adalah kepala SMK Benteng Gading. Sedang Karolus adalah guru Ekonomi. “Pak guru baru ini ada punya pacar atau belum, Pak Jos. Kalau belum, kan sekalian bisa kenalan,” guyon seorang siswi kelas 3 yang lumayan cantik.

Trio Pattyona bagi saya adalah motivator saat saya masuk Jakarta. Mereka selalu berbagi tips agar eksis di Ibu Kota. Mereka juga tak sekadar berbagi tips namun melakukan kerja nyata bagi banyak orang. Perguruan Benteng Gading adalah lembaga pendidikan yang mereka rintis di tengah belantara Ibu Kota. “Kalau sudah dapat pekerjaan begini, lakukan dengan tulus agar hasilnya maksimal. Dari sini kamu akan mendapat kepercayaan yang lebih besar lagi,” kata Ruben Pattyona saat berdua ngobrol di rumahnya, samping sekolahan Benteng Gading.

Pagi ini Bala Pattyona mengabarkan, Pak Jos Pattyona menghadap Tuhan Sang Sabda. Jos, pemilik Perguruan Benteng Gading tutup mata selamanya pada Minggu, 23 Agustus 2020 pukul 06.00 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Ia meninggal dalam usia 76 tahun.

“Bila semasa hidupnya Almarhum ada kekhilafan atau kesalahan mohon dimaafkan,” kata Bala Pattyona, owner Petrus Bala Pattyona Law Office & Partners Jakarta. Selamat jalan, bapa besa. Bahagia di Surga.

Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan