oleh

‘Ustad’, Pangkalan Ojek, dan Mencuri

-Kolom-222 views

DARI ujung Jalan Aselih, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan saya sengaja tanya alamat rumah kaka Petrus Bala Pattyona, kerabat sekampung. Di kampung ia akrab disapa bonsu Peter (bonsu=bungsu. Beliau anak laki bungsu dalam keluarga). Teman sejak SD, Antonius Boli de Ona menyapanya dengan Bala atau Balagigo. Sebaliknya, Bala menyapa sahabatnya ini dengan Toni Bolefarajan. Dari bibir Aselih, nyaris semua tukang ojek pangkalan, mendekat. Tahun 1998 akhir, Petrus meminta saya ke rumahhnya setelah tiba di Jakarta. Kata Petrus, kalau sudah tiba di simpang Jalan Aselih dari Terminal Pasar Minggu, cukup tanya saja alamat rumah ke tukang ojek pangkalan. Mereka akan langsung tahu.

“Nanti tukang ojek berebutan menawarkan antar ke alamat rumah. Tukang ojek itu sangat akrab. Mereka juga kenal saya sebagai ustad. Dalam acara keagamaan atau nasional saya selalu ditugaskan masuk penasehat panitia bersama para ulama Islam dan agama lain. Saya juga bentuk club bola di wilayah kami. Di sekitar rumah, saya siapkan pangkalan ojek. Namanya Pangkalan Ojek Lembata. Ada juga nama Jalan Aselih Lembata. Nama ini sudah terdaftar resmi di Jakarta Selatan,” ujar Bala Pattyona kepada saya suatu waktu.

Tak hanya dari ujung Jalan Aselih para tukang ojek pangkalan itu akrab dengan Bala Pattyona. Antara Jalan Aselih menuju rumahnya, ia sangat dikenal warga. Tua maupun muda. Gaya komunikasi yang luwes membuat warga sekitaran kediaman mendiang Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), juga mengenal baik Bala Pattyona. Ada hal kecil yang membuat pengacara asal kampung Kluang, Desa Belabaja, Nagawutun, Lembata ini dikenal baik. Ada lahan miliknya yang diolah untuk menanam tanaman pertanian laiknya di kebun bapak Arnol Wolo Pattyona dan ibu Yuliana Anse Ndoen di lereng Labalekan, gunung paling asri dengan panorama alam pegunungan memanjakan mata di selatan Lembata.

“Kalau saya dan panen ubi kayu, petik daun ubi kayu, merungge, bunga pepaya, bayam, kacang-kacangan, orang-orang sekitar rumah yang ekonominya pas-pasan saya ajak mereka kemudian bagi ala kadarnya. Kebiasaan berbagi ini yang kian mengakrabkan saya dengan orang-orang kecil, terutama tukang ojek dan petani kecil,” kata Bala Pattyona.

Tatkala menghadiri Misa peringatan arwah ayahanda terkasih ama Willy Keraf di belakang kompleks Universitas Pancasila Jakarta Selatan, Bala Pattyona juga hadir bersama kerabat dari Wulandoni dan Nagawutun yang tinggal di Jabodetabek. Usai Misa kami ngobrol sejenak. Tak lama ia pamit karena segera menuju rumahnya di Ciganjur. Kala itu menjelang puncak perayaan Idul Adha bagi sesama saudara umat Islam di sekitaran rumahnya. Bala segera menjauh dari rumah ama Willy Keraf dan segera berlalu. “Saya tidak lama karena masih ke halaman Masjid untuk menyerahkan sapi kurban keluarga kepada panitia agar dipotong dan dibagi kepada jemaat. “Ustad” Petrus menyerahkan bantuan satu ekor sapi sebagai tanda syukur kepada Tuhan sekaligus ikut ambil bagian dalam perayaan kemenangan seama saudara umat Islam yang bergembira di hari raya mereka,” kata Petrus kepada saya dan rekan Emil Bataona. Dalam berbagai acara Bala kerap memakai kopiah hitam dan sering dipanggil “ustad”, meski ia seorang penganut Katolik.

Testimoni kolega

Bala Pattyona adalah pengacara sukses yang memulai merenda karier sebagai relawan, volunteer di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. LBH Jakarta itu menempati Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) tak jauh dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, berjarak selangkah dari Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Usai lulus Fakultas Hukum Universitas Jayabaya Jakarta, Bala langsung terjun menjadi volunteer di LBH Jakarta. Pergaulan yang luas ditopang kemampuang ilmu hukum dan pengalaman, membuat koleganya baik di LBH Jakarta maupun YLBHI senang dan segera akrab.

“Sampean kenal juga bang Petrus Bala Pattyona, kolega kami di sini? Beliau sangat pintar. Luwes bergaul dan kita akan segera akrab dengan beliau,” kata mas Munir Abu Thalib alias Munir kepada saya. Kala itu, Munir menjabat Koordiator Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Saya beberapa waktu ngepos di kantor LBH Jakarta dan sempat mewawancarai Munir untuk Surat Kabar Mingguan Dian di Ende.

Tak hanya Munir, yang belakangan heboh setelah diracun pake tepung arsenik dalam perjalanan Jakarta Belanda. Namun juga Bambang Widjojanto, yang belakangan jadi Wakil Ketua KPK. “Saya meminta mas Bambang jadi keynote speech peluncuran OZON di Taman Mini. Majalah ini baru kami rintis. Saya tahu mas Bambang juga care terhadap isu-isu hukum lingkungan hidup yang dialami orang kecil,” kata saya kepada mas Bambang dalam mobilnya di sela-sela wawancara dari kantor LBH menuju Polda Metro Jaya.

“Ternyata sampean adiknya Pak Petrus. Okey. Saya akan hadir sebagai keynote speech,” kata mas Bambang. Testimoni Munir dan Bambang tentang Petrus adalah kabar baik. Usai wawancara mas Bambang saya pamit. Saya turun lalu naik bus arah Grogol ke Cawang, UKI, Jakarta Timur dan lanjut ke Ros Merah, Cipinang Indah, kantor redaksi.

Sukses merenda karier di bidang hukum mengantar Bala Pattyona bepergian ke luar negeri sekadar berlibur. Ataupun memenuhi permintaan klain mendampingi dalam kasus yang mereka hadapi. Misalnya, kasus yang dihadapi Dewi Soekarno, isteri Presiden Soekarno, yang kala itu bermukim di Jepang. Petrus harus terbang ke negeri para kaiser itu. Namun, demi menjaga efektivitas waktu ia meminta bertemu di Singapura. Di lain waktu, ia berlibur ke Barcelona sekadar berlibur dan menikmati stadion club Barcelona.

Namun, tatkala di sana ada kesulitan mencari makanan khas Asia terutama Indonesia. Untungnya, Petrus menemukan satu supermarket yang juga menjual supermi. “Saat menunggu supermi diantar pelayan restoran ke meja, batere handphone saya drop, lowbath. Langsung saja saya bergeser ke arah colokan listrik. Saya charge handphone saya. Saya langsung dituduh mencuri arus listrik. Saya dibawa menghadap polisi karena dituding mencuri. Meski saya jelaskan saya seorang pengacara di Indonesia namun itu tidak ada jaminan. Setelah negosiasi kami menemukan jalan keluar dan saya harus bayar kesalahan saya karena telah pake arus listrik tanpa ijin,” kata Bala sambil tertawa. “Di sana hukum tak mengenal siapa orang dan apa jabatannya. Semua warga sama di hadapan hukum. Ini pengalaman saya yang tak pernah saya lupa,” kata Bala Pattyona, pengacara dan dosen yang segera akan merampungkan studi doktor (S-3) Ilmu Hukum di sebuah kampus di Jakarta.

Heboh Clif Muntu

Nama dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Inu Kencana Safiie melangit beberapa tahun lalu. Inu menguak borok kampus IPDN menyusul tewasnya praja Clif Muntu, mahasiswa utusan Manado, Sulawesi Utara. Bala Pattyona, kuasa hukum Inu mendorong dosen senior IPDN itu bicara apa adanya. Salah-benar dikatakan sejujurnya. Pasalnya, kasus Clif hanya puncak gunung es dari berbagai kasus di kampus pencetak calon birokrat yang terletak di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat itu. Selama ini ditengarai praktek penyiksaan yang berakibat kematian, narkoba, aborsi, dan lain-lain marak tapi tak pernah terendus pihak berwajib. Uang telah menjadi raja atas segala praktet haram itu. Pihak-pihak berkompeten pun seolah melakukan gerakan tutup mulut karena takut terancam nyawa dan jabatannya.

“Saya minta Pak Inu bicara apa adanya dan jangan takut menghadapi ancaman dan teror. Saya katakan akan setia di belakang beliau. Saya yakinkan Pak Inu bahwa kehidupan dan kematian diatur Dia yang di Atas. Kalau diancam untuk dibunuh saya minta Pak Inu mengatakan kepada peneror bahwa tak usah membunuhnya. Toh, nanti juga akan mati atas perkenan Tuhan. Setelah kita gelar konferensi pers, maka kasus-kasus yang terjadi di IPDN selama ini terkuak. Dan kasus Clif hanya satu bagian kecil kebobrokan model pendidikan di IPDN,” ujar Bala Pattyona.

Acara wisuda

Perkenalan Bala Pattyona dengan Inu sebenarnya bermula dari Bandung. Saat itu, Bala berkesempatan menghadiri ujian promosi doktor koleganya, Tommy Sihotang, SH, LLM di Universitas Pajajaran Bandung. Pengacara kondang Tommy Sihotang meraih gelar doktor bidang Hak-hak Asasi Manusia (HAM) di hadapan tim penguji antara lain pakar hukum yang juga Gubernur Lemhannas Prof Dr Muladi, Prof Romli Atmakusumah, dan seorang guru besar Unpad.

Saat itu, cerita Bala, ia bersama sejumlah petinggi TNI seperti mantan Menhankam/Pangab Jendral TNI (Purn) Wiranto, beberapa mantan petinggi militer, dan sejumlah wartawan media cetak dan elektronik. Usai sidang, mereka mengikuti acara resepsi. Di sela-sela makan bersama, seorang mahasiswa Unpad asal Sumedang berkenalan dengan Bala Pattyona. Bersama beberapa mahasiswa lain mereka pun terlibat ngobrol santai.

“Rekan-rekan mahasiswa itu mengaku selama ini hanya mendengar nama saya dari media. Kami akhirnya saling bertukaran kartu nama. Ada yang bertanya kapan saya jadi doktor mengikuti jejak rekan saya Tommy Sihotang. Mahasiswa asal Sumedang ini meminta saya sewaktu-waktu menelpon saya sekadar say hello. Ternyata dua hari setelah kematian Clif Muntu saya ditelepon,” kata Bala Pattyona saat saya wawancara beliau di rumahnya, Ciganjur.

Dalam pikiran Bala Pattyona, Inu Kencana Safiie tak pernah terbayang. Saat menerima telepon mahasiswa itu, si penelpon meminta agar Bala Pattyona membantu om-nya karena saat itu benar-benar berada dalam kondisi tertekan dan ancaman teror pihak kampus. Baik oleh rektor, dekan maupun mahasiswa. Si mahasiswa itu meminta Bala Pattyona membela om-nya itu yang belakangan ketahuan bernama Inu Kencana Safiie.

“Saya tak punya bayangan kalau om-nya itu bernama Inu Kencana Safii. Mahasiswa itu meminta kesediaan saya membela om-nya. Saya tanyakan, apa masalahnya. Ia mengatakan bahwa om-nya yang melaporkan kasus kematian Clif Muntu ke Polres Sumedang. Tapi kasus itu mau sengaja ditutup-tutupi agar tak diketahui pihak luar. Saat itu saya bicara langsung dengan Pak Inu,” jelas kisah Bala Pattyona.

Setelah berkenalan sebentar via telepon, Inu merasa puas bisa mengungkapkan isi hatinya terkait persoalan yang tengah melilitnya. Dalam perbincangan singkat itu, sang dosen mengaku bahwa sebenarnya kasus yang dihadapinya nggak ada masalah bila ditelaah dari aspek hukum. Namun, Inu merasa sangat tertekan karena diteror dan ditekan habis-habisan oleh lembaganya. Bahkan ia sangat sedih karena diskors tidak bisa mengajar di IPDN.

“Setelah mendengar sepintas, saya mengatakan bahwa melihat problem yang dialamainya, belum ada satu konflik hukum yang perlu saya tangani. Pak Inu kemudian mengatakan, kalau ada masalah serius maka ia segera menghubungi saya. Saat itu ia juga masih menanyakan apa saya bersedia membelanya. Ya, sebagai pengacara tentu saya tak mungkin menolak karena sudah jadi kewajiban sebagai hamba hukum. Saya masih menayanyakan bentuk ancaman dan teror kepada beliau,” lanjut Bala Pattyona.

Sang dosen kalem itu pun buka mulut. Ia mengaku pernah dikirim pesan singkat (SMS) kalau ia akan diusir dari IPDN. Ia juga pernah diancam untuk dibunuh. Istri dan anak-anaknya merasa terancam. Seolah tak percaya dengan kesediaan Bala Pattyona, Inu memintanya datang dan menemuinya di Sumedang, Jawa Barat.

“Saya bilang nggak bisa karena sebagai penganut Katolik, Jumat Agung itu Tuhan Yesus Kristus wafat di kayu Salib. Jadi, tentu saya tidak bisa bertemu di Sumedang. Saya menawarkan agar kami bertemu besoknya. Itu pun saya minta agar cuma bertemu setengah jam karena saya masih mengikuti Misa. Saya juga mesti ikut menyiapkan kelancaran Misa karena saya pengurus Gereja,” cerita Petrus lagi.

Saat itu, menurutnya, Inu memahami alasan yang dikemukakan. Tapi, sang dosen benar-benar tertekan. Demi memenuhi janjinya, pada Sabtu subuh subuh suatu Minggi, ia bertolak ke suatu restoran tak jauh dari kampus Unpad. Padahal, awalnya Inu memintanya untuk bertemu di Sumedang karena kalau bertemu di Bandung berarti ia harus keluar ongkos.

“Saya bilang kalau soal ongkos nanti kita atur tapi baik bertemu di Bandung karena pertimbangan kelancaran perjalanan. Apalagi, malamnya harus menghadiri Misa Malam Paskah. Jadilah kami bertemu di Bandung. Setiba di sana saya terenyuh melihat Pak Inu didampingi istrinya, seorang kerabat, dan seorang lagi dosen IPDN. Saat itu Pak Inu membawa serta berkas-berkas laporan ke Polres Sumedang dan pihak-pihak terkait sehubungan dengan kekerasan yang terjadi selama ini di kampus IPDN. Setelah membaca berkas-berkasnya saya masih menyampaikan bahwa data-data itu nggak perlu butuh pengacara,” kata Bala melanjutkan.

Bala Pattyona menegaskan bahwa laporan Inu sudah masuk ke polisi. Bahwa itu adalah tindak pidana pembunuhan orang sehingga biarkan polisi menangani. Inu akhirnya meminta Bala Pattyona menghubungi polisi agar segera memproses laporan itu. Setelah hampir setengah jam mereka berdiskusi, Bala Pattyona berpamitan untuk kembali Jakarta. Sang dosen menyampaikan terima kasih karena di tengah kesibukan menyiapkan diri merayakan Paskah, advokat dan pengacara itu masih menyisikan waktu untuk ikut memikirkan kasusnya.

“Saya senang karena Pak Inu berjanji memberikan 52 buku hasil karyanya selama menjadi dosen di IPDN. Pertemuan itu rupanya tercium media terbitan Jawa Barat. Mereka menulis di koran-koran lokal bahwa Inu sudah didampingi seorang pengacara dari Jakarta. Tapi mereka tak menyebut nama pengacara karena biar nggak heboh dulu. Ternyata, Minggu Paskah, saat lagi di rumah kakak saya di Menteng Atas merayakan Paskah, Pak Inu menelpon saya. Ia mengabarkan bahwa kasus yang dilaporkan ke Polres Sumedang sudah diketahui para petinggi di Mabes Polri,” kata Bala Pattyona. Hari ini Bala Pattyona merayakan miladnya. Selamat Ulang Tahun ke-61, kaka bonsu Peter. Semoga sehat selalu dan setia dengan hobi berkebun, profesi yang dijalani bapa Arnol Wolo Pattyona & mama Yuliana Anse Ndoen di kampung halaman, lereng Labalekan. Tuhan berkati selalu. Salam ke Ciganjur.

Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan