oleh

Yesus Teladan Mewujudkan Revolusi Mental

-Kolom-823 views

“Revolusi Mental” adalah salah satu mimpi yang diwacanakan oleh Jokowi sebelum ia terpilih jadi presiden atau pada saat kampanye. Apakah Revolusi Mental itu sudah terwujud sampai sekarang? Baragam jawaban yang muncul, misalnya; belum sama sekali, masih dalam proses dan sebagian sudah terwujud.

Dari situ kita kerap mendengar kritik-kritik bernada sarkastik dan seolah-olah lambungan revolusi mental hanya di atas kertas saja. Beberapa contoh disampaikan seperti korupsi yang masih merebak, kekerasan di tingkat masyarakat termasuk berlabelkan agama, hukum dan disiplin yang belum tegas. Mengritik namun berdiam dan tidak memberi solusi sama saja dengan omdo atau kata orang omong doang. Gereja tidak boleh ikut arus omdo.

Yesus adalah teladan dalam revolusi mental

Orang Yahudi mengharapkan Yesus sebagai pemimpin sesuai dengan angan-angan mereka, yakni pemimpin seperti pemimpin negara pada umumnya yang “super hero”, kemana-mana diapit ajudan atau pengawal, tinggal di istana mewah, pemimpin yang mempunyai pengaruh dalam pembuatan kebijakan dan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat. Maka kaum Yahudi sangat kecewa ketika harapan mereka tidak nyata – malah sebaliknya – Yesus wafat di salib.

Malah orang Kristen bangga dan mensyukuri peran kepemimpinan Yesus yang jelas-jelas bukan seperti gaya kepemimpinan dunia. Ia adalah pemimpin yang datang dari atas dengan atribut kasih, pelayanan, hamba dan pengampunan. Inilah muatan revolusi mental yang dibawa oleh Yesus, dan inilah yang perlu diteladani oleh elemen bangsa ini baik pemerintah maupun rakyat dan elemen gereja baik kepemimpinan maupun umat.

Datang untuk melayani

Sama seperti Anak Manusia, Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Misi Yesus ini jelas tertuang dalam pelayanan-Nya. Ia mengunjungi rumah umat-Nya dan membawa kabar baik untuk mereka. Yesus lahir di dunia sebagai pelayan dan hamba. Ia mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Yesus dengan rela menanggalkan atribut ke-Ilahian-Nya dan mengambil rupa seorang manusia seperti kita. Ini adalah satu bentuk pengabdian yang tertinggi ketika seorang Putera Allah mengambil tempat sebagai pelayan bagi hamba-hamba. Yesus tidak terbuai dengan statusnya sebagai Putera Tunggal Allah, Revolusi mental-Nya nyata dalam tindakan Yesus menjadi pelayan dan hamba.

Saat ini kita kerap dikuasai oleh mental tuan. Jabatan yang kita miliki bukan kita anggap sebagai amanah, namun lebih kepada sebagai kesempatan untuk menunjukan kesombongan diri, sebagai wadah untuk mendominasi orang lain. Kita bangga ketika memberi perintah dan orang lain tunduk manut melaksanakannya. Ini terjadi di semua lini kehidupan kita baik dalam keluarga, Gereja dan dalam negara kita ini.

Dalam keluarga tidak mustahil jabatan sebagai pasangan digunakan sebagai alat memerintah se-isi rumah tangga dengan pola pembinaan dan dalam negara, jabatan sebagai wadah untuk menujukan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat. Kita harus kembali ke spiritualitas dasar bahwa jabatan itu adalah panggilan untuk melayani dan bukan menguasai.

Semangat Kasih

“Begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Putera-Nya yang Tunggal dengan setiap orang yang percaya tidak binasa melainkan beroleh kehidupan yang kekal.” (Yoh 3 : 16)

Yesus adalah wujud kasih terbesar dari Allah kepada kita, Yesus datang untuk menujukan betapa besar kasih Tuhan akan kita, umat-Nya. Pelayaan Yesus terus singkron dengan kehendak Bapa-Nya yang mengutus Dia,

“Sama seperti Bapa Yayasan Aku demikian juga Aku juga telah menyerahkan kamu, maka tinggalah dalam kasih-Ku itu.” (Yoh 15 : 9)

Kasih itu meretas batas suku, daerah dan agama. Itulah kasih sejati yang diwariskan oleh Yesus kepada kita. Kasih itu akan mendorong setiap orang untuk mengalahkan ego masing0masing dan mengedepankan kebersamaan, Kasih itu akan menginspirasi kita untuk melihat skala prioritas dalam hidup.

Orang yang dikuasai oleh kasih maka tidak akan ada lagi kebencian karena kasih itu sendiri akan mengajak kita untuk saling menghargai dan mendukung kendati di masa lalu kita saling menyakiti, saling menyinggung perasaan orang, dan saling mengkritik habis-habisnya tanpa dasar. Yesus sendiri bahkan mengajak kita untuk mendoakan orang yang menyakiti dan menganiaya kita. (Mat 5 : 44).

Semangat pengampunan

Maaf adalah spiritual hidup umat beragama. Ini mau menandakan bahwa setiap orang tidak luput dari kesalahan. Kita dituntut untuk memperbaiki hubungan yang renggang karena salah paham, persaingan dalam tingkat masyarakat, negara (politik elit) dan dalam Gereja.

Ungkapan maaf adalah jalan terbaik untuk menciptakan kembali rasa damai dan kasih persaudaraan yang hilang karena gesekan itu. Yesus sendiri mengampuni orang yang mencambuki dan menganiaya diri-Nya saat mengalami sengsara menuju Golgota. Ia berseru, “Ya Bapa, ampunilah mereka kerana meraka tidak tahu apa yang diperbuatnya.” (Luk 23-34)

Mengampuni bukan berarti bahwa perbuatan salah. Malah, dengan mengampuni kita mendidik diri kita masing-masing untuk tidak menyakiti satu sama lain karena dampaknya cukup besar bagi kedua pihak.

Semngat pengampunan akan mendorong kita masuk ke level selanjutnya, yakni membina relasi dengan semakin ber-wajah-kan kasih persaudaraan.

Menit terakhir

Yesus telah menaburkan benih sabda untuk revolusi mental. Tiga titik di atas (melayani, kasih dan mengampuni) adalah jalan untuk perwujudan harapan itu.

Revolusi mental bersama dua arah:

Pertama, bagi para pimpinan untuk memuat semangat untuk melayani, memupuk semangat kasih dan pengampunan.

Hendaknya mereka berada di kalangan atas itu atau mereka yang ber’label ‘kan seorang pemimpin (dalam negara dan gereja) harus menunjukan semangat rendah hati dan menghilangkan ego masing-masing. Kritik emosional cencerung mau melepaskan saja tanpa ada keinginan mau memberi jalan atau solusi. Para pemimpin adalah pelaksana amanah rakyat dan jemaat. Kalau para elit politik dan elit gereja yang sibuk membangun argumen, kritik dan debat kusir, kapan terwujud pelayanan yang maksimal untuk kepentingan bangsa, negara dan masyarakat.

Yesus sebagai seorang pemimpin pertama melaksanakan revolusi mental. Ia melayani, mengungkapkan, dan mengampuni maka teladan-Nya itu harus menjadi inspirasi bagi para pemimpin yang menjalankan tugas kepemimpinanya.

Kedua, bagi masyarakat dan jemaat. Semangat revolusi mental juga harus dimiliki oleh tingkat dasar.

Basis yang umumnya diwarnai oleh perbedaan suku, budaya, dan agama sangat rentan terjadinya gesekan baik karena kecemburuan, persaingan, hasutan, dan konflik sosial yang lain.

Revolusi mental akan membuka mata dan pikiran masyarakat untuk berpikir kritis dan bertindak bijak. Masyarakat harus menumbuhkan semangat persaudaraan dan memiliki kontrol diri sehingga tidak mudah dihasut oleh tindakan keras atau yang melawan hukum baik hukum negara maupun hukum Tuhan yakni hukum cinta kasih.

Tuntutan revolusi mental tentu mengarahkan kita semua untuk berpikir bahwa kita adalah bagian dari yang lain. Ketika kita bergerak untuk melayani, melayani dan mengampuni, maka revolusi mental itu akan nyata di semua lini kehidupan kita baik dalam hidup bernegara maupun hidup menggereja.

 

Dari buku “The Church Concerns” oleh RP Yosafat Ivo Sinaga, OFMCap

Sumber: stpauluspku

Komentar

Jangan Lewatkan