oleh

Bagaimana Menciptakan Kreativitas Pribadi?

-Kolom-582 views

Oleh: Vincent Gaspersz

Dalam artikel singkat tentang Bagaimana Menciptakan Kreativitas Pribadi? (Seri 1) telah dijelaskan tiga hal utama sebagai pemicu kreativitas pribadi, yaitu: (1) Mencermati asumsi yang ada secara seksama agar tidak ada asumsi-asumsi yang menyesatkan, (2) Selalu belajar mengajukan pertanyaan yang benar untuk menumbuhkembangkan rasa ingin tahu agar otak terus berpikir dan berkembang, dan (3) Berusaha keluar dari Zona Nyaman, karena Zona Nyaman itu adalah Penjara Pikiran (Prison of Mind).

Dalam tulisan seri kedua akan dibahas tiga faktor lain yang memicu pengembangan Kreativitas Pribadi, yaitu: (4) Menyederhanakan Proses Kerja atau Proses Belajar. (5) Memandang Segala Sesuatu Fenomena dari Berbagai Sudut Pandang atau Perspektif, dan (6) Mempercayakan pada Intuisi yang Berkembang.

Point 4 yang akan dibahas adalah Menyederhanakan Proses Kerja atau Proses Belajar. Setiap proses kerja atau proses belajar selalu mengandung nilai tambah (value added) dan bukan nilai tambah (non value added). Nilai tambah merupakan hal-hal pokok sehingga diberikan label sebagai Esensial (Value Added), sedangkan hal-hal yang tidak penting diberikan label sebagai Non Esensial (Non Value Added). Mereka yang kreatif akan berfokus pada hal-hal yang penting sesuai prinsip Pareto, sehingga waktu dan energi hanya memfokuskan pada 20 persen hal-hal pokok yang telah memberikan hasil sampai 80 persen.

Dalam prinsip Pareto hal-hal esensial ini adalah berada pada Kuadran II, yaitu: melaksanakan hal-hal yang penting tetapi tidak mendesak. Dalam buku Innovative Leader yang ditulis oleh Paul Sloane dikemukakan contoh proses penjualan rumah, melalui membagi aktivitas mana yang termasuk ke dalam Esensial (Nilai Tambah), dan aktivitas mana yang termasuk Non Esensial (Bukan Nilai Tambah). Tetapi agar menyesuaikan dengan fokus pembelajaran yang efektif dan efisien, maka akan ditunjukkan proses pembelajaran berpikir tingkat tinggi (HOTS = Higher Order Thinking Skills) yang diterapkan pada Aldi Vinchristo yang saat ini menjadi Mahasiswa Program Doktoral Linguistik Terapan Bahasa Inggris (LTBI) dari Universitas Katholik Atma Jaya Jakarta.

Agar kita mengetahui hal-hal apa yang menjadi Esensial (Nilai Tambah), maka kita selalu mengacu pada sasaran utama, dalam kasus ini adalah sasaran utama pembelajaran Semester 1. Sebagai target utama yang dirumuskan Aldi adalah (1) Lulus mata kuliah dengan pemahaman penuh memperoleh indeks prestasi A (4.00), dan (2) Rangkuman pembelajaran akan didokumentasikan ke dalam buku. Dengan demikian telah diperoleh dua tujuan utama, yaitu: (1) Memperoleh Nilai A (merupakan Uncontrollable Factor BUT Predictable), karena wewenang memberikan nilai A berada pada orang lain, dalam hal ini adalah dosen mata kuliah, dan (2) Menulis Buku yang 100 persen adalah Controllable Factor.

Agar mencapai tujuan No. 1, maka berbagai proses belajar harus diidentifikasi dan diberikan label sebagai penting (Esensial) agar memenuhi persyaratan memperoleh nilai A (80 – 100). Persyaratan dari dosen untuk memperoleh nilai A, adalah sebagai berikut:

(1) Tugas mingguan melakukan Latihan dalam Google Class untuk tiga soal selama 13 minggu berturut-turut adalah: 20 persen; (2) Quiz 1 = 10% persen, (3) Quiz 2 = 10 persen, (4) Mid Semester Exam = 30 persen, dan (5) Final Semester Exam berupa menulis laporan riset berskala kecil (Small-scale research report) = 30 persen.

Karena target untuk memperoleh nilai A dan wewenang pemberian nilai A berada pada dosen, maka Aldi harus mencapai nilai rata-rata 80 (nilai minimum agar memperoleh nilai A) dari lima tugas di atas.

Langkah pertama adalah membuat Weekly Strategic Learning Plan selama 13 minggu berturut-turut mulai dari tugas pada Chapter 1 dari Textbook sampai dengan Chapter 13 dalam Textbook. Sebagai pembimbing, maka Vincent Gaspersz menyuruh Aldi membuat Weekly Strategic Learning Plan untuk setiap mata kuliah yang dipelajari. Dalam kasus ini, misalkan pada studi tentang Generative Grammar, pada Chapter 6 dengan topik X-Bar Theory, maka dibuatkan Strategic Learning Plan (SLP) seperti ditunjukkan dalam Tabel berikut:

Tugas Esensial adalah: memahami objectives dari setiap Chapter, mengunduh Videos dengan topik yang ingin dipelajari, mengunduh powerpoints dari internet, belajar ujian melalui Workbook, sesuai kolom-kolom yang telah didesain, agar pada hari H mengikuti kuliah dan mengikuti Latihan ujian mingguan telah siap untuk memperoleh Grade A.

Strategic Learning Plan (SLP) ini diulang pada mata kuliah yang lain (ada empat mata kuliah) yang dipelajari pada Semester 1 itu. Dengan cara pembelajaran model ini, maka akan memudahkan mengikuti Quiz 1 dan Quiz 2, mengikuti Mid Semester Exam, dan menuliskan laporan akhir berdasarkan Small-scale research. Inilah model pembelajaran mandiri (Heutagogy/Self Determined Learning) yang berfokus pada Langkah keempat dari Kreativitas Pribadi, yaitu: Menyederhanakan Proses Belajar. Diharapkan melalui cara ini, maka target untuk memperoleh Nilai A sebagai tujuan pertama akan SUCCESS. Demikian tujuan kedua adalah penulisan buku akan lebih mudah karena 100 persen pengendalian berada pada diri Aldi (Controllable Factor).

Langkah kelima dalam menumbuhkembangkan Kreativitas Pribadi adalah: Melihat dari berbagai sudut pandang (perspektif), yang di dalam buku Innovative Leader itu disebutkan boleh melihat dari sudut pandang Produsen, Customer, Pemasok, Anak-anak, Makhluk Luar Angkasa, Pelawak, Diktator, Arsitek, Salvador Dali, Leonardo Da Vinci, Orang Gila, dll.

Vincent Gaspersz sebagai pembimbing Aldi sering membawa Aldi untuk melihat bagaimana orang gila berperilaku, kemudian menanyakan kepada Aldi mengapa Orang Gila selalu tertawa melihat semua fenomena yang terjadi di dalam dunia nyata? Aldi mulai berpikir dan menemukan jawaban bahwa Orang Gila tidak lagi memiliki masalah kehidupan. Nah belajar dari sudut pandang Orang Gila, maka jika kita memiliki masalah, bukan berlarut-larut memikirkan masalah itu, tetapi segera mencari Solusi Masalah itu. Ternyata Orang Gila telah menjadi sumber inspirasi agar JANGAN memikirkan masalah, TETAPI harus menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif itu.

Langkah Keenam adalah Mempercayai intuisi yang muncul. Jika kita telah menerapkan Langkah pertama sampai Langkah kelima secara konsisten dengan disiplin diri yang kuat, maka otak mulai bekerja dengan FOCUS (Follow One Commitment Until SUCCESS) pada Solusi Masalah, BUKAN berfokus pada masalah itu saja tanpa solusi, seperti sudut pandang Orang Gila itu. Dalam buku Innovative Leader, Paul Sloane menyatakan bahwa logika dan analisis akan selalu skeptis terhadap ide-ide kreatif dan inovatif. Oleh karena itu kita harus berhati-hati ketika menggunakan logika dan analisis, karena apabila tidak berhati-hati akan meniadakan atau menolak INTUISI yang sering muncul. Oleh karena itu disarankan apabila INTUISI kita memunculkan ide-ide yang hebat dan luar biasa, maka tidak ada salahnya untuk menerapkan ide-ide itu agar mengaktualisasikan secara nyata. Inilah prinsip GILA versi Vincent Gaspersz, yaitu: GILA = Gali Ide Langsung Aksi.

Demikian tiga faktor utama yang disebut sebagai Faktor 4, 5, dan 6 sebagai penambah Faktor 1, 2, dan 3 sebagai pemicu pertumbuhan Kreativitas Pribadi. Akan bersambung pada Seri 3 dengan Tiga Faktor Lain. (Bersambung)

Komentar

Jangan Lewatkan