oleh

Gagasan Besar, Teknokrasi dan Ekonomi Politik

-Kolom-236 views

Seorang intelektual muda yang terkenal dengan berbagai gagasan besarnya mendapat tanggung jawab, memimpin sebuah lembaga strategis. Namun baru seumur jagung dan belum merealisasikan gagasan besarnya, tiba-tiba dia mengundurkan diri. Tampaknya, dia tidak tahan dengan birokrasi dan teknokrasi. Mungkin juga tidak tahan tekanan, saya kurang tahu.

Gagasan besar memang pra-syarat utama, namun jauh dari cukup. Untuk merealisasikan gagasan besar, butuh kemampuan teknokrasi. Ambil contoh yang gampang diimajinasikan, meningkatkan pertanian. Ini bukan hal mudah. Dari bibit, pupuk, air, cuaca, teknologi, SDM, monitoring dan early warning system, pembiayaan, infrastruktur dan logistik, pemasaran, stabilitas harga, irisan kewenangan, mengatasi mafia pangan, tekanan dari kelompok kepentingan, dll, itu semua ada detailnya. Dalam level tertentu, tentu tidak harus masuk sangat teknis. Namun teknokrasi tetap mensyaratkan, ketahanan terhadap detail pada level tertentu dan tahan terhadap kebosanan. Pada akhirnya the devil is in detail, untuk memastikan semua berjalan.

Akan tetapi, teknokrasi tidak boleh menenggelamkan gagasan besar. Kelelahan pada teknokrasi, janganlah mematikan arah besar. Bila ditelan bulat oleh teknokrasi, akhirnya kehilangan pemaknaan. Kerja hanyalah menjalankan tugas dan kerja administratif. Nyala mimpi besar redup dihembus angin dan mati, lalu berlalu ditelan waktu. Saya banyak melihat teman-teman yang semangat pada awalnya waktu kuliah S2 atau S3 (entah dalam/luar negeri) untuk mewujudkan idealisme, tiba-tiba habis ditelan teknokrasi.

Di sisi lain, harus ada pula kesadaran bahwa pemerintah juga bukan segala-galanya penentu arah kemajuan. Tentu saja pemerintah merupakan salah satu faktor utama, namun bukanlah dewa. Kita belajar banyak dari estatisme (seeing like a state) revolusi kebudayaan China di masa lalu yang justru mengorbankan jutaan manusia mati kelaparan, atas nama ambisi lompatan kemajuan. Dan ini, jelas sudah bukan jamannya lagi. Korea Utara kini menjadi contoh paling kontemporer dan vulgar, estatisme menyebabkan kemandegan.

Jalan pedang ini sangat saya sadari, sedikit banyak saya jalani. Berselancar dengan memanfaatkan berbagai ombak kecil dan besar, meski terkadang tiba-tiba tenggelam ditelan ombak besar. Namun, selancar harus terus berjalan meski juga terkadang terluka terkena karang.

Sebelumnya memang lebih mudah, di luar sistem. Terlibat berbagai diskusi gagasan besar, riset dan advokasi, lalu berjejaring dalam berbagai dinamika level internasional, regional dan nasional. Bahkan lalu mengkoordinasi jejaring regional, antar negara. Bersuara dengan lepas dan menjadi “jagoan”. Sungguh masa yang menyenangkan dan terasa heroik.

Tiba-tiba saya teringat di Utrecht (kota menengah di Belanda), berhari-hari diisolasi diskusi bersama dengan para pegiat social movement berbagai negara/kontinen membicarakan kampanye bersama sustainable finance. Atau di Senegal Afrika, membicarakan gerakan tax justice dunia, lalu ke Peru Amerika Latin mendiskusikan ketika think tank dari tax justice dituntut hukum perusahaan raksasa ekstraktif multinasional yang dicurigai melakukan manipulasi pajak atas liputan di majalah prestisus The Economist, lalu membicarakan strategi agar social movement yang sudah establish di berbagai benua tidak tercerai berai.

Lalu ingat juga dalam rangka mendorong penggunaan kemiskinan multidimensi di Indonesia, terpaksa memutar dulu bertemu dari Oxford, Washington dan Vietnam untuk meyakinkan inisiatornya. Kadang-kadang saya merasa lucu, kini saya berjumpa sahabat-sahabat itu dalam beberapa pertemuan online regional/internasional, namun kini saya tidak dalam posisi sebagai civil society.

Refleksi dan memori ini bertaburan, ketika mempersiapkan materi diundang INDEF menyampaikan keynote tentang ekonomi politik pengelolaan sumber daya berkelanjutan, di sebuah acara. Mungkin ini salah satu acara yang saya isi, termasuk paling banyak waktu mempersiapkan.

Disamping tentu banyak membaca buku atau paper kembali, lalu merefleksikan perjalanan ijtihad intelektual serta praksis. Serta tentu saja, karena saya sangat menghormati lembaga INDEF yang banyak dikenal tokoh-tokohnya berintegritas dan saya kenal baik.

 

Oleh: Setyo Budiantoro / Peneliti Senior Perkumpulan Prakarsa

Komentar