oleh

Jefri Riwu Kore dan Desa Belabaja

-Kolom-1.625 views

SUATU siang di salah satu sudut Plaza Senayan, pusat perbelanjaan, Jakarta Pusat, tahun 2010. Dr Jefirston Riwu Kore, MM dan putrinya, duduk santai sambil nikmati juice. Pak Jefri, begitu saya biasa sapa, ngobrol asyik mengisi waktu senggang akhir pekan di tengah kesibukan sebagai wakil rakyat.

Saya dan rekan Diaz Gwijangge, janjian bertemu dengan Jefri Riwu Kore di Plaza Senayan, pusat perbelanjaan di kawasan bisnis Sudirman, Jakarta. Diaz adalah anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Komisi ini membidangi masalah pendidikan, pariwisata, pemuda olahraga, dan perpustakaan nasional. Diaz, kolega Jefri, sesama anggota Komisi X DPR.

“Bah, kawan ini tara kosong (kira-kira artinya, wah kawan ini hebat). Tadi sa kira kawan deng anak bicara pake bahasa Kupang. Padahal, kawan dan anak bicara bahasa Inggris saja. Sungguh mati. Ini pelajaran sangat berharga buat kitong yang lain,” kata Diaz, anggota DPR RI Daerah Pemilihan Papua kelahiran Mapnduma, Kabupaten Nduga, Papua. Diaz, aktivis Elsam Papua ini buang suara dalam dialek Papua. Ia terpilih masuk Senayan setelah sekian lama mengadvokasi masyarakat di tanah Papua.

Saya dan Diaz akhirnya menyesuaikan ngobrol Jefri dan putrinya. Jefri menyampaikan, sang puteri, sekolah di sebuah sekolahan internasional yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah tersebut. Praktis, kata Jefri, di rumah maupun dalam keseharian bersama anak-anak mereka semua menggunakan bahasa Inggris. Selain tentu bahasa Melayu Kupang sebagai bahasa ibu.

Sebagai anggota DPR dari wilayah timur Indonesia, baik Jefri maupun Diaz kerap ngotot kalau pembahasan anggaran bersumber APBN di Komisi X dan distribusinya di wilayah timur. Di Komisi X DPR Jefri Riwu Kore adalah satu-satunya anggoa DPR asal NTT yang duduk di Komisi X yang bermitra dengan Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan Perpustakaan Nasional.

“Ada beberapa usulan dari NTT yang disampaikan juga kepada saya. Namun, saya mesti buang suara juga ke kawan agar bisa membantu pece bupati dan kepala dinas dorang menyuarakan usulan mereka saat rapat kerja dengan mitra. Usulan dari Papua juga banyak jadi saya fokus Papua. Tapi kawan kan wakil dari NTT jadi bisa ikut membantu melanjutkan kepada menteri terkait. Nanti teknisnya staf saya sampaikan karena usulan dari NTT melalui saya, mereka yang terima. Kita bagi tugas agar saya fokus ke Papua karena usulan serupa juga banyak saya terima dari daerah pemilihan saya,” ujar Diaz.

Tatkala Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggagas Program PNPM bidang pariwisata lahir Program Desa Wisata. Komisi X DPR bertugas membahas bersama Kementerian Pariwisata RI. Banyak desa disasar agar mendapatkan program ini sesuai kriteria yang ditetapkan agar masyarakat desa dibantu memberdayakan potensi yang dimiliki, terutama di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif. Sejumlah desa di Nusa Tenggara Timur dan Papua, misalnya, juga menjadi wilayah yang kecipratan program ini, termasuk Desa Belabaja di Kecamatan Nagawutun dan Desa Lamalera A di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, NTT. Tak lama, pada 2011, Belabaja dan Lamalera A beruntung. Selama dua tahun anggaran, setahu saya, Belabaja kecipratan Rp170 juta selama dua tahun anggaran dari Program Desa Wisata.

“Tolong sampaikan terima kasih Pak Bupati kepada Pak Jefri dan Pak Diaz karena sudah membantu meneruskan usulan desa wisata dari Lembata. Usulan ini sudah dijawab Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia,” kata Wens Pukan, Kepala Dinas Pariwisata Lembata kepada saya, kala itu.

Masyarakat Belabaja senang desanya mendapat perhatian melalui program-program kecil yang menyentuh. Tak terkecuali orang nomor satu Belabaja,
Alfons Prawin Pukan. Alfons, Kepala Desa Belabaja juga menyambut gembira. Ia mengaku, Desa Belabaja, Kecamatan Nagawutun, Lembata, Nusa Tenggara Timur, mendapat bantuan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata Tahun Anggaran 2011 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Republik Indonesia.

“Beberapa waktu lalu Pak Kepala Dinas Pariwisata Lembata bersama staf tiba di Kluang, guna bersama-sama masyarakat mempersiapkan pembentukan kelompok masyarakat dalam menyambut program bantuan tersebut. Ini menjadi kebanggaan bagi kami masyarakat di kampung karena pemerintah care dengan kami,” ujar Alfons Prawin dari dusun Kluang, Belabaja (Boto) kepada saya melalui telepon selular, Rabu, 1 Maret 2011.

Prawin sebelumnya, mengaku pihaknya mendapat informasi bahwa desa Belabaja dan Lamalera A di Lembata merupakan dua dari 27 desa di Propinsi NTT masuk dalam rencana wilayah sasaran PNPM Mandiri Pariwisata Tahun Anggaran 2011 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Adalah Jefri Riwu Kore yang menyampaikan soal desa-desa di NTT yang mendapat dana melalui Program Desa Wisata. Jefri menyampaikan hal itu usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) komisi X dengan jajaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang dipimpin Menteri Jero Wacik di Ruang Rapat Komisi X, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin 13/12 2010) malam.

“Tahun Anggaran 2011, sebanyak 27 desa di NTT mendapat alokasi anggaran PNPM Mandiri Desa Wisata. Ia mengaku ini merupakan berita baik dalam rangka ikut memajukan dan mengembangkan pariwisata Nusa Tenggara Timur,” ujar Jefri Riwu Kore kepada wartawan usai menghadiri Rapat Paripurna DPR di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Selasa (14/12 2010).

Kala itu Jefri yang kini Walikota Kupang mengaku, 27 desa tersebut tersebar di 11 kabupaten/kota. Desa-desa di 11 kabupaten yaitu Desa Koposili, Pemo, dan Nduaria di Kecamatan Kelimutu dan Desa Wologai Tengah di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Kemudian Desa Wae Sano, Cunca Lolos, dan Liang Dara di Kecamatan Sononggoang dan Desa Labuan Bajo, Komodo, Pasir Panjang, Desa Batu Cermin di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Kemudian Desa Satarlenda, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai dan Desa Nangalabang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur. “Di Lembata adalah Desa Belabaja, Kecamatan Nagawutun dan Desa Lamalera A di Kecamatan Wulandoni. Sementara itu di Flores Timur adalah Desa Sinar Hadung dan Bantala, Kecamatan Tanjung Bunga,” katanya.

Sementara Kota Kupang kebagian satu kelurahan yaitu kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima. Di Kabupaten Rote Ndao masing-masing Desa Nembrala dan Boa di Kecamatan Rote Barat. Sementara itu Kecamatan Kakolo Mesak, Kabupaten Belu adalah Desa Fatuketi, Kenebibi, dan Dua Laos. Kemudian Desa Rindi di Kecamatan Rindi Umalulu dan Desa Londa Lima di Kecamatan Panda Wai, Kabupaten Sumba Timur. Juga Desa Fatumnasi dan Boto di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengemukakan, PNPM Mandiri Bidang Pariwisata Tahun Anggaran 2011 didukung anggaran sebesar Rp. 61,7 miliar untuk mengembangkan 569 desa wisata di 33 propinsi. “Jumlah ini mengalami peningkatan anggaran sebesar 315,19 persen dibandingkan tahun 2010 sebesar Rp. 19.575.000.000 untuk 200 desa wisata di 29 propinsi di Indonesia,” kata Jero Wacik kala itu. Jero menyampaikan, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Tahun Anggaran 2011 mengalokasikan anggaran penataan dan pembangunan pariwisata melalui Program Peningkatan Penyiapan Infrastruktur untuk Penambahan Destinasi Wisata dengan dukungan anggaran sebesar Rp. 4 miliar untuk 12 destinasi wisata di kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Usai terpilih jadi Walikota Kupang, komunikasi saya dengan Jefri Kore masih terjaga. Tatkala bersama rekan Monic mendampingi anggota DPR RI Irjen Pol Drs. Y. Jacki Uly, MM di Sabu Raijua, saya menghubungi Jefri Kore melalui WhatsApp (WA). Ia welcome saja.

“Om ke kantor saja tapi kita mungkin bertemu sebentar saja karena agenda saya padat. Kalau masih lama dampingi Pak Jacki di Kupang, betong cari waktu usai beta dinas. Mungkin lebih baik di rumah saya agar lebih banyak waktu,” kata Jefri sesaat berada di ruang kerjanya.

Pak Jacki Uly, mantan Kapolda NTT menggantikan Pak Viktor Laiskodat di DPR RI. Saya menjadi salah satu staf Pak Viktor setelah beliau terpilih jadi Gubernur NTT. Jefri sempat cerita bagaimana memulai bekerja bersama warganya menata kota Kupang agar makin indah di mata. “Gedung kedua di bawah putaran balik ke SMA 2 depan kantor Pak Wali arah ke Kelapa Lima dulu saya salah satu buruh kasar. Di situ saya nyambi cari uang saku saat kuliah di Undana. Konsultan pengawasnya, Pak Rikard Daton, dosen Unwira, asisten Pak Paul Iwo, mantan Dekan Fakultas Teknik Unwira,” kata saya.

Tak lama Jefri segera pamit. Ia bersama Pak Herman Man, Wakil Walikota Kupang segera beranjak ke acara lain. Saya dan rekan Monic juga pamit dan menuju Terminal Kota Kupang. Di sana kami nikmati kuah asam Pasar Solor. Bergerak ke Terminal Kota, saya dan rekan sesama staf di DPR ini sejenak melihat lalu lalang bemo dengan musik yang keras. “Kalau balik Lembata, saya naik bemo dari sini ke Pelabuhan Fery Bolok. Bawaan saya klombu (kantong) dan kantong plastik hitam berisi baju. Ongkosnya Rp. 3.500 sekali jalan. Sangat mahal kala itu bagi kami mahasiswa dari keluarga yang pas-pasan,” kata saya.

“Kupang sangat indah. Orangnya ramah sekali. Logatnya kaya orang Ambon. Saya senang sekali kita bisa sampe Pulau Raijua dan mampir di Kelaba Maja. Wah, NTT sangat indah. Ini kabar baik bagi teman-teman bisa menjadikan Kupang dan daerah-daerah lainnya di NTT tempat wisata pilihan,” kata Monic, perempuan berdarah Batak.

Kupang juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung seperti rekan Monic. Ia juga bisa memanjakan lidah dengan masakan khas Batak. Maklum di Kupang juga ada Lapo, rumah makan khas Batak yang tak hanya ditemui di sudut-sudut kota Jakarta. Kupang juga ada. Tak jauh dari kantor Gubernur NTT, di bagian timur. Kota Kupang di bawah Walikota Jefri Kore juga terus berdandan. Bahkan Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat pun tak sungkan-sungkan mengajak stafnya membersihkan sampah di Kupang, yang juga merupakan Ibu Kota Provinsi NTT. Membayangkan Kupang tatkala saya mulai kuliah tahun 1991 dan Kupang di bawah kendali Jefri Kore, banyak perubahan di setiap sudutnya.

Warga masyarakat punya kesadaran tinggi membenahi kota Kupang. Jefri Riwu Kore tentu terus memutar otak bagaimana kotanya makin asri dan warganya punya kesadaran kolektif menata kota itu lebih indah di mata. Saya percaya Ibu Hilda Manafe, isteri Jefri Riwu Kore, juga akan all out memperhatikan Kupang dan NTT melalui tugas formalnya sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Pemilihan NTT selama masa tugas tahun 2018-2023.

Hari ini, Jefri Riwu Kore merayakan Ulang Tahun ke-61. Selain tentu rasa syukur kepada Tuhan atas berkat yang ia terima melalui capaian usia itu, ia tentu juga berdoa agar Kota Kupang makin maju dan masyarakatnya kian sejahtera. Selamat Ulang Tahun Walikota Kupang, kaka Jefri. Tuhan berkatimu selalu. Selamat bekerja, amatana. Terima kasih Lembata, utamanya Belabaja dan Lamalera A juga mendapat perhatian selama Pak Jefri ngepos di DPR RI. Salam ke Kupang, kota Karang.

 

Jakarta, 13 Januari 2021
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan