oleh

Pers Tak Pernah Mati

-Kolom-317 views

Oleh: Primus Dorimulu

Seperti makanan bernutrisi, manusia membutuhkan informasi yang baik dan benar. Tanpa informasi yang baik dan benar, kehidupan manusia akan didera masalah yang tak berkesudahan. Karena itu, selama ada kehidupan manusia, informasi yang baik dan benar akan selalu dibutuhkan. Pers tak pernah mati.

Pers akan selalu hidup selama manusia ada. Yang mati akibat perkembangan teknologi informasi dan perubahan perilaku masyarakat pembaca hanyalah platform berita. Sejak beberapa dekade lalu, ketika dunia memasuki era digital, media cetak mulai terdisrupsi dan kian hari disrupsi kian tak terbendung.

Kemajuan teknologi informasi memungkinkan berita datang menghampiri pembaca dalam hitungan detik. Di era digital, bukan lagi pembaca yang mencari berita, tapi justru berita yang menghampiri pembaca. Ketika membuka smarphone, Anda langsung melihat berbagai informasi memenuhi email, WhatsApp, Facebook, dan akun sosial media lainnya.

Pembaca membutuhkan kecepatan untuk mendapatkan berita aktual. Berbagai peristiwa penting langsung bisa diperoleh dalam hitungan detik dan itu hanya bisa dipenuhi oleh berita berbasis digital. Media online dan media sosial bertumbuh subur kerena kemampuan mengabarkan berita dengan cepat. Media massa yang membutuhkan waktu lama, apalagi dalam hitungan hari untuk bisa menjangkau pembaca, perlahan namun pasti, kehilangan pembaca.

Hari ini, Jumat, 29 Januari 2021, adalah hari terakhir HU Suara Pembaruan menyapa pembaca setianya. Ke depan, tidak ada lagi koran yang sudah berusia 34 tahun itu, baik dalam bentuk cetak maupun e-paper. Namun, kami akan tetap hadir memenuhi kebutuhan pembaca akan informasi yang sehat lewat platform digital dan audiovisual.

Penutupan HU Suara Pembaruan merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk terus hadir memberikan kontribusi kepada bangsa dan kemanusiaan. Sejak media cetak terkena disrupsi, kami mulai berkonsentrasi pada pengembangan media online dan televisi. Sejak 2012, para jurnalis HU Suara Pembaruan mengelola Beritasatu.com, mempersiapkan sebuah langkah peralihan dari cetak ke digital. Era 4.0 yang ditandai internet of things (IoTs) atau serba internet, memaksa berbagai jenis bisnis untuk shifting untuk mengembangkan usaha berbasis digital.

Koran cetak HU Suara Pembaruan boleh mati, namun jurnalismenya tetap hidup di platform berita yang sesuai perkembangan teknologi dan perilaku masyarakat. Selama 34 tahun, bahkan 60 tahun jika dihitung sejak HU Sinar harapan, harian ini melahirkan banyak jurnalis hebat. Mereka tidak saja bekerja di HU Suara Pembaruan dan sejumlah media di bawah bendera Beritasatu Media Holdings, melainkan di berbagai media massa di Indonesia.

Para pembaca akan tetap mendapatkan Informasi berkualitas lewat Beritasatu.com, Beritasatu TV, Investor.id, Harian Investor Daily, Majalah Investor, dan Jakartaglobe.id. Harian Investor Daily edisi cetak dan e-paper masik tetap eksis karena segmen pasarnya yang khusus. Majalah Investor yang terbit bulanan juga masih sehat berkat informasi komprehensif yang disuguhkan dan berbagai pemeringkatan perusahaan yang bergerak di pasar modal dan sektor keuangan. Untuk mengantisipasi perubahan, kami mengembangkan Investor.id, portal berita pasar modal, keuangan, dan bisnis. Sedang untuk pembaca berbahasa Inggris, ada Jakartaglobe.id.

Dalam pada itu, Beritasatu TV terus berkembang sebagai televisi berita yang memberikan porsi besar pada masalah pasar modal, keuangan, bisnis, dan metropolitan. Beritasatu Media Holdings menjadi sebuah multimedia yang lengkap untuk melayani kebutuhan pembaca, memberkan kontribusi bagi perjalanan hidup bangsa dan umat manusia.

Di era digital, masyarakat tidak kekurangan informasi. Berita justru datang seperti air bah lewat media online dan media sosial. Namun, era digital melahirkan masalah baru, yakni pemberitaan yang tidak sesuai fakta dan hoaks yang diproduksi dalam skala masif. Era digital melahirkan banyak media online yang tidak bertanggung jawab. Mereka membuat berita hanya untuk mengejar jumlah “klik” demi perolehan iklan. Era digital juga melahirkan media sosial yang memungkinkan setiap orang menjadi reporter amatir.

Dalam situasi seperti inilah, media massa arus utama, yang bekerja dengan standar jurnalistik dibutuhkan. Apa pun kemajuan teknologi informasi dan digital, masyarakat tetap membutuhkan pers, yakni lembaga yang melaksanakan kegiatan jurnalistik: mencari, memperoleh, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Pers memiliki jurnalis profesional yang bekerja dengan standar jurnalistik yang tinggi sesuai UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

Setiap jurnalis profesional menghayatii fungsi pers sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Pers nasional melaksanakan peranannya dalam memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan hak asasi manusia, serta menghormat kebhinekaan.

Pers nasional berperan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar. Untuk mendapatkan informasi yang tepat, akurat, dan benar, pers selalu melakukan verifikasi berita sebelum dipublikasikan. Pers melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. Pers nasional wajib memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Keberadaan media arus utama sangat penting bagi sosialisasi dan pemantapan nilai-nilai Pancasila, UUD, dan kemanusiaan yang universal. Media mainstream bekerja dalam panduan idealisme, tidak mengejar keuntungan finansial semata. Aspek komersial penting untuk menopang idealisme, namun bukan tujuan utama. Para pemodal yang bergerak di media massa adalah figur yang memiliki idealisme untuk mencerdaskan dan membawa bangsa ini ke level kehidupan yang lebih tinggi sesuai cipta-cita Proklamasi.

Dengan fungsi dan peranan sepenting ini, pers tidak akan mati. Profesi jurnalistik tidak tergantikan. Media cetak boleh mati. Platform media massa bisa saja tak lagi relevan dan hilang ditelan zaman, tapi pers akan tetap eksis dan jurnalis profesional akan selalu dibutuhkan.

 

Penulis adalah Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings

Komentar

Jangan Lewatkan