oleh

Revolusi Pendidikan dan Pembelajaran Global: Transdisciplinary Education and Learning

-Kolom-381 views

Pada saat ini, terutama sejak awal Abad ke-21 yang terus meningkat secara cepat dalam beberapa tahun belakangan ini, adalah terjadi Revolusi Pendidikan dan Pembelajaran yang berpindah secara cepat dan radikal dari Pendidikan dan Pembelajaran Tradisional menjadi Pendidikan dan Pembelajaran Modern atau Global. Revolusi Pendidikan dan Pembelajaran itu disebut sebagai Pendidikan dan Pembelajaran Transdisiplin (Transdisciplinary Education and Learning).

Sistem Pendidikan Indonesia sangat tertinggal dalam hal ini, karena masih menganut Sistem Pendidikan Tradisional. Sebagai konsekuensi perubahan radikal dalam Pendidikan Global ini, maka perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga bergeser secara cepat dari “Traditional Applied Science” menjadi “Post-Normal Science”.

Post-Normal Science” berkembang pesat, karena alasan paling mendasar adalah berkaitan dengan tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi yang terjadi di dunia saat ini serta membutuhkan keputusan-keputusan berisiko tinggi yang mendesak.

Transdisciplinary Education and Learning menjadi cepat berkembang karena dianggap paling sesuai pada masa kini untuk menyelesaikan masalah-masalah sistem yang sangat kompleks (Complex Problem Solving). Agar memahami Transdisciplinary Education and Learning ini membutuhkan perubahan paradigma berpikir sistem (Systems Thinking Paradigm).

Apa itu Transdisciplinary Education and Learning?

McGregor (2017:14) dalam buku Transdisciplinary Higher Education, mengungkapkan Sembilan Karakteristik dari Transdisciplinary Education and Learning yang secara garis besar adalah sebagai berikut.

1. Kurikulum Terintegrasi, yang mengajarkan siswa/mahasiswa untuk memiliki mental yang menemukan sesuatu hal melalui melihat pola-pola dalam dunia nyata (menyatukan hal-hal yang berbeda menjadi suatu keseluruhan yang baru—berpikir sistem), melibatkan pembelajaran melalui tema, isu-isu, masalah dan solusi masalah (pembelajaran berbasis masalah dan solusi masalah). Melalui kurikulum terintegrasi ini, maka siswa/mahasiswa akan memperoleh keterampilan solusi masalah.

2. Pembelajaran Transformatif, yang membantu siswa/mahasiswa agar melihat dunia nyata berdasarkan perspektif yang berbeda sehingga mampu bertindak secara berbeda pula. Hal ini berkaitan dengan perspektif berpikir sistem (systems thinking perspectives).

3. Pembelajaran Berbasis Penyelidikan (Inquiry-based Learning), yang mengajarkan siswa/mahasiswa melalui mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting agar mempertanyakan pola-pola yang ada dalam dunia nyata. Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa/mahasiswa untuk mengubah informasi menjadi pengetahuan (Knowledge), idealnya mencapai kebijaksanaan (Wisdom).

4. Kurikulum Otentik (Authentic Curriculum), agar Pendidikan menjadi bermakna atau berguna melalui memusatkan topik-topik pembelajaran di seputar masalah yang relevan dengan kehidupan nyata dari siswa/mahasiswa. Model kurikulum otentik ini akan memampukan siswa/mahasiswa memahami masalah dalam dunia nyata dan mampu menyelesaikan masalah dunia nyata yang kompleks itu.

5. Analisis Nilai (Value Analysis), yang membantu siswa/mahasiswa menjadi sadar akan nilai-nilai atau prinsip-prinsip nilai yang dimiliki orang lain melalui melakukan analisis berdasarkan perspektif orang lain. Melalui kemampuan analisis nilai ini, akan memampukan siswa/mahasiswa memahami perspektif orang lain yang berbeda.

6. Komunitas Pembelajar, yang memungkinkan siswa/mahasiswa membentuk komunitas pembelajar agar berbagi dalam hal keanggotaan, pengaruh, pemenuhan kebutuhan, mengikuti berbagai acara agar mampu belajar secara bersama dan membentuk jalinan kerjasama (networking).

7. Pendidikan Mendalam (Deep Education), yang memiliki konteks spesifik, partisipatif, holistik, terintegrasi melalui pembelajaran berfokus pada pembelajar (peserta didik) dan lingkungan dalam dunia nyata. Melalui Pendidikan mendalam ini, akan memampukan siswa/mahasiswa memperoleh pemahaman mendalam (Deep Understanding) yang mengarahkan kepada Tindakan mendalam (Deep Action) berdasarkan informasi nilai-nilai yang mendalam (Deep Values).

8. Pergeseran atau Perubahan Paradigma (Paradigm Shifts or Change), yang membantu siswa/mahasiswa untuk mengubah sudut pandang pribadi menuju paradigma global berdasarkan pandangan dunia global. Hal ini merupakan cara baru untuk melihat dan memahami paradigma global dalam dunia nyata yang sesungguhnya.

9. Pembelajaran Loop Ganda (Double Loop Learning), melalui bertanya tentang prinsip-prinsip, nilai-nilai dan norma-norma yang dimiliki orang lain, agar siswa/mahasiswa itu dapat mendekati situasi dan masalah menggunakan sikap dan perspektif yang berbeda.

Tujuh Kebiasaan Paradigma Pembelajaran Transdisiplin

Agar siswa/mahasiswa mampu mengikuti Transdisciplinary Education and Learning, maka membutuhkan Tujuh Kebiasaan yang harus ada dalam diri pembelajar itu. Tujuh Kebiasaan ini disebut sebagai “Seven Habits of Transdisciplinary Mind”. Ketujuh Kebiasaan Paradigma Transdisciplinary Learning ini serupa dengan GROWTH Mindset, adalah sebagai berikut:

1. Mempersepsikan (Perceiving): Mengingat atau mempersepsikan hal-hal apa yang telah diamati.

2. Mempolakan (Patterning): Melihat sesuatu secara berulang-ulang.

3. Mengakbstraksikan (Abstracting): Menggunakan analogi untuk menjelaskan atau memahami esensi tentang sesuatu yang dilihat atau diamati itu.

4. Mewujudkan Pemikiran (Embodied Thinking): Berpikir menggunakan panca indera kita dan berempati. Hal ini sesuai dengan prinsip dari Design Thinking.

5. Memodelkan (Modelling): Merepresentasikan sesuatu yang dilihat atau diamati itu menggunakan konsep-konsep, atau teori-teori.

6. Berpikir dan Memahami Secara Mendalam (Deep Understanding): Memikirkan jauh ke masa depan menggunakan kecerdasan yang dimiliki beserta dengan ide-ide yang mendalam agar menciptakan terobosan-terobosan baru.

7. Mensintesiskan (Synthesizing): Mensintesiskan melalui mengembangkan hubungan yang mendalam antara orang-orang dan ide-ide yang muncul secara terintegrasi. Hal ini merupakan integrasi tingkat tinggi (Higher Integration) dari semua ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki untuk menciptakan New Field of Practice agar mampu menyelesaikan masalah-masalah kompleks (Complex Problem Solving).

Berdasarkan pemahaman tentang Transdisciplinary Education and Learning yang dijelaskan di atas, maka menjadi tidak relevan lagi misalnya ada orang yang mempertanyakan tentang latar belakang Pendidikan VG, yaitu: Sarjana Peternakan, Magister Statistika Terapan, dan Doktor Teknik Sistem dan Manajemen Industri. Karena pertanyaan seperti itu berarti kita masih memiliki Paradigma Usang (Tradisional) yaitu: Mono/Uni Disciplinary (Level Terendah dalam Pembelajaran), sedangkan Transdisciplinary telah membentuk atau menciptakan New Field of Practice untuk menyelesaikan masalah-masalah sistem yang kompleks.

Siapa saja, apakah berlatar belakang ilmu pengetahuan dan teknologi apa saja, termasuk yang tidak bersekolah atau berpendidikan formal sekalipun, sepanjang orang itu memiliki kompetensi untuk solusi masalah-masalah sistem yang kompleks, maka orang itu akan SUCCESS dalam dunia nyata. Itulah alasan, mengapa banyak perusahaan bisnis dan industri global mulai menerapkan model Transdisciplinary Education and Learning ini, tanpa memandang lagi calon karyawan berlatar belakang disiplin ilmu tertentu, tetapi yang diutamakan adalah Kompetensi Solusi Masalah-masalah Kompleks (Complex Problem Solving) dalam dunia nyata sesuai kebutuhan dari IDUKA (Industri, Dunia Usaha, dan Dunia Kerja) Global itu.

Inilah relevansi dan revolusi Pendidikan dan Pembelajaran Transdisiplin yang sedang terjadi saat ini, yaitu: Transdisciplinary Education and Learning.

 

Oleh: Vincent Gaspersz

Penulis adalah Lean Six Sigma Master Black Belt and Certified Management Systems Lead Specialist

Komentar

Jangan Lewatkan