oleh

Reformasi Pendidikan Tinggi di China

-Kolom-183 Dilihat

Oleh: Vincent Gaspersz

Munculnya ekonomi global telah memaksa banyak bangsa dan negara untuk membentuk kembali atau mereformasi sistem pendidikan tinggi mereka agar membuat sistem pendidikan tinggi itu kompetitif secara global.

Sejak tahun 1978, China telah melakukan serangkaian reformasi pendidikan tinggi. Sistem pendidikan tinggi China hancur dan rusak selama sepuluh tahun Revolusi Kebudayaan tetapi dipulihkan kembali pada 1977 ketika universitas mengadakan ujian pertama untuk menerima mahasiswa belajar pada perguruan tinggi.

Selama era reformasi pasca-Mao setelah 1978, kepemimpinan baru Partai Komunis China (PKC) melakukan Empat Modernisasi: Modernisasi Pertanian, Industri, Pertahanan Negara, dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Partai Komunis China meluncurkan reformasi ekonomi dan kebijakan “keterbukaan” untuk mencapai pembangunan sosial, ekonomi, dan pendidikan.

Pendidikan tinggi diberikan prioritas utama untuk mendidik dan melatih sejumlah besar personel khusus tingkat lanjut di berbagai bidang dan disiplin ilmu untuk memfasilitasi reformasi ekonomi bangsa. Pemerintah China mengumumkan pendidikan, sains, dan teknologi sebagai strategi kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pemimpin politik China dan pembuat kebijakan telah lama menganggap pendidikan tinggi sebagai instrumen penting untuk mencapai perkembangan kesejahteraan ekonomi individu dan ekonomi nasional.

Antara 1978 dan 1985, pendidikan tinggi China berkembang dengan laju sangat pesat. Pendaftaran meningkat dari 625.319 pada tahun 1977 menjadi 1.703.115 pada tahun 1985. Sampai tahun 1985, terdapat 1.080 lembaga pendidikan tinggi, tidak termasuk lembaga pendidikan lanjutan, TV dan Radio Universitas, dan institusi perusahaan.

Tahap kedua reformasi terjadi antara 1985 dan 1992. Di mana terjadi perubahan dari periode sebelumnya yaitu perubahan pada pola sistem administrasi dan struktur manajemen perguruan tinggi sangat sentralistik. Pada masa itu Pemerintah pusat dan provinsi mempertahankan kontrol yang berlebihan atas pembiayaan pendidikan tinggi, kebijakan penerimaan, desain instruksi, kurikulum, dan penugasan dan promosi kepemimpinan.

Sistem terpusat ini menghambat pengembangan pendidikan tinggi dan menghambat institusi dari perubahan untuk memenuhi tantangan sosial, politik, dan ekonomi.

Untuk mendelegasikan lebih banyak otonomi kepada institusi pendidikan tinggi dan meningkatkan efisiensi mereka, dua keputusan dibuat oleh Komite Sentral Partai Komunis China (PKC) pada tahun 1985, yaitu: melakukan lagi reformasi sistem pendidikan. Keputusan tentang Reformasi Sistem Pendidikan pada Mei 1985 menetapkan salah satu tujuan strategi pendidikan tinggi China sebagai “berkontribusi besar terhadap China” dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi independen, dan untuk memecahkan masalah-masalah utama secara teoritis dan praktis yang muncul dalam perjalanan modernisasi sosialis.

Menurut Keputusan Komite Sentral Partai Komunis China (CCPCC) pada Mei 1985, kunci keberhasilan reformasi sistem pendidikan tinggi adalah dengan mentransformasikan sistem manajemen yang berada di bawah kontrol pemerintah yang berlebihan terhadap lembaga-lembaga pendidikan tinggi, memperluas otonomi lembaga-lembaga di bawah pedoman kebijakan dan rencana pendidikan terpadu negara, memperkuat hubungan antara institusi pendidikan tinggi dan organisasi produksi, organisasi penelitian ilmiah, dan sektor sosial lainnya, dan memungkinkan institusi pendidikan tinggi mengambil inisiatif untuk memenuhi kebutuhan pembangunan ekonomi dan sosial.

Kesimpulan:

Kemajuan Pendidikan beserta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China sekarang ini tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi karena keberhasilan reformasi pendidikan China yang dilakukan atas dasar kerelaan Pemerintah China yang dalam hal ini Partai Komunis China untuk melonggarkan kontrol ketat oleh pemerintah terhadap institusi pendidikan di China.

Pemerintah Indonesia belum siap untuk hal ini, karena masih melakukan kontrol ketat atas berbagai kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan beserta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

Sumber Referensi: Wang, X. (2010). Higher Education As A Field of Study in China: Defining Knowledge and Curricullum in Structure. Rowman & Luttlefield Publishers, Inc. New York.

 

Penulis adalah Lean Sx Sigma Master Black Belt & Certified Management Systems Lead Specialist

Komentar