oleh

Profesional Tidak Gadaikan Kebenaran

Orang yang mengerjakan profesinya sesuai keahlian dan kode etik profesinya. Ada kompetensi yang dimiliki. Dilaksanakan sesuai tuntutan kode etik profesi.

Kode etik itu mencakup di dalamnya unsur disiplin, tanggung jawab, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, kesediaan melayani, kerelaan berkorban, kebijaksanaan, taat asas, menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Semuanya berbasis pada hati nurani yang berpihak kepada kemanusiaan.

Jika demikian, maka seorang profesional berjuang agar tidak terpengaruh oleh fulus agar urusan mulus. Tidak menggadaikan kebenaran, demi keuntungan.

Tidak membiarkan diri dikuasai amarah, dendam, benci, serakah, sehingga tetap komit pada tanggung jawab profesional. Urusan pribadi tidak bercampur aduk dengan urusan profesi.

Profesional sejati tahu membedakan mana urusan profesi, mana urusan pribadi. Karena profesi itu menyangkut kepentingan banyak orang, maka didahulukan. Kepentingan publik mesti menjadi prioritas.

Dengan itu, ia mampu melaksanakan tugas dan kepercayaan dengan baik dan benar. Maka pelayanan tuntas. Semua puas.

Masalah muncul kalau pemilahan itu tidak terjadi. Ada campur baur urusan profesi dan pribadi. Apalagi urusan pribadi yang dilatarbelakangi oleh amarah, benci dendam.

Urusan menjadi panjang, lama, berbelit, kacau, bahkan bisa gagal. Sialnya, masih banyak profesional yang sulit memilah. Akhirnya dia sendiri jadi masalah.

Mau menyelesaikan masalah, tapi dengan membuat masalah baru. Ketinggalan satu langkah dari Pegadaian. Dia harus belajar dari Pegadaian, bagaimana menyelesaikan masalah tanpa masalah. Tapi tak mengapa. Dengan cara itu, dia menunjukkan kualitas diri yang bobrok.

Di zaman transparan ini, semua terbuka untuk umum. Rekam jejak jelas terpampang. Baik jejak digital, maupun jejak manual. Publik akan menilai kinerja sang profesional. Yang berkualitas akan diapresiasi. Yang bobrok akan dieliminasi.

 

Oleh: Rm. Sipri Senda, Pr

Komentar

Jangan Lewatkan