oleh

Taman Nasional Komodo Benteng Perlindungan Konservasi yang Rapuh

RADARNTT, Kupang – Taman Nasional Komodo (TNK) merupakan kawasan perlindungan satwa purba Komodo (Varanus komodoensis) dan ratusan satwa endemik lainnya. Selain itu Taman Nasional Komodo juga merupakan rumah bagi 253 spesies terumbu karang yang dilindungi karena merupakan salah satu kekayaan biota terindah di dunia.

Sayangnya, status dilindungi tidak selamanya menjadikan keanekaragaman di kawasan TNK bebas dari pencurian dan pengrusakan.

Misalnya per Januari 2020, sebanyak 41 ekor bayi komodo diselundupkan untuk dijual ke luar negeri dan ditangkap oleh kepolisian Jawa Timur. Lalu pada Desember tahun 2020, Polres Manggarai Barat juga menangkap pembantai puluhan ekor rusa yang merupakan makanan utama komodo untuk diselundupkan ke Bima, Provinsi NTB.

Aksi pencurian dan pengerusakan dalam TNK tidak hanya sebatas pencurian Komodo dan pembantaian rusa, namun pencurian terumbu karang di perairan Taman Nasional Komodo mulai marak terjadi.

Pemberitaan Media Online Pos-Kupang Rabu 21 Juli 2021 memberitakan terkait dugaan aksi pencurian terumbu karang di kawasan TNK marak terjadi selama satu bulan terakhir. Aksi pencurian tersebut dilakukan dengan menggunakan perahu motor tanpa sepengetahuan petugas penjaga pos TNK.

Oknum pencuri bekerja sendiri dengan kapal yang dimiliki. Mereka berjumlah puluhan dan terbagi dalam 10 kapal. Maraknya pencurian terumbu karang juga ini pun bukan hal baru. Di tahun 2019, hal yang sama juga pernah diberitakan.

Saat itu pemerintah berkomitmen akan bekerja sama dengan Balai Taman Nasional untuk memperketat pengawasan terhadap segala aktivitas di perairan Komodo. Akan tetapi sampai saat ini pemerintah masih saja kecolongan dalam pengawasan.

WALHI NTT menilai bahwa Balai TNK lalai dalam melakukan pengawasan dan perlindungan dalam kawasan konservasi tersebut. Kejadian-kejadian tersebut menambah rentetan panjang bukti bahwa Taman Nasional merupakan benteng perlindungan terhadap keanekaragaman hayati yang rapuh.

Di tengah-tengah kerapuhan itu, TNK malah digadang-gadang sebagai salah satu kawasan pariwisata super prioritas dengan kelas super premium. Alih-alih memprioritaskan permasalahan-permasalahan konservasi karpet merah malah digelar bagi investasi yang rakus lahan, rakus energi, rakus air dan berbasis investor skala besar untuk masuk ke TNK.

Melihat fakta-fakta tersebut WALHI NTT menyampaikan tuntutan sebagai berikut:

  1. Balai TNK membenahi dan menata sistem pengawasan dalam Taman Nasional Komodo.
  2. Balai TNK menguatkan kerja-kerja konservasi dalam kawasan untuk memulihkan daya tampung dan daya dukung dalam kawasan yang sudah mulai rusak.
  3. Balai TNK serius mengurusi urusan-urusan pemulihan lingkungan di Taman Nasional Komodo.
  4. Balai TNK menghentikan praktek praktek pemberian ijin pariwisata skala besar yang justru kontraproduktif dengan kepentingan konservasi dan pemberdayaan warga

Demikian pernyataan sikap ini disampaikan Manajer Kampanye WALHI NTT, Rima Melani Bilaut, Jumat (23/7/2021) menyikapi maraknya pencurian terumbu karang di perairan TNK akhir-akhir ini.

Dilansir poskupang.com, edisi Rabu (21/7/2021). Dugaan aksi pencurian terumbu karang di kawasan TNK marak terjadi selama satu bulan terakhir.

Aksi pencurian tersebut dilakukan menggunakan perahu motor tanpa sepengetahuan petugas penjaga pos TNK.

Modus yang digunakan dengan berpura-pura menjadi nelayan, namun setelah berada di beberapa titik yang terdapat terumbu karang, mereka akan menyelam dan mengambil terumbu karang. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan