oleh

In Memoriam : Laurens Tato Gani Yang Hidup Dalam Dua Dunia

Oleh : Daniel Dhakidae

Hubungan kami agak unik dan juga aneh. Dari segi darah dia adalah paman. Mamanya adalah adik bungsu dari nenek perempuan saya —mama dari mama saya. Dari segi umur dia jauh … jauh… lebih muda karena itu selalu jadi soal untuk sapa-menyapa dan akhirnya soal umur yang lebih jadi penentu karena itu saya selalu dipanggil “Kak Dan”, dan saya juga terima saja dan semua adik, kakak, keluarga kami juga terima saja; tidak ada soal dengan itu.

Dengan posisi seperti itu memang saya mengambil posisi kakak dan dengan itu memperkenalkan Laurens ini ke dalam kehidupan metropolitan Jakarta sejak kedatangannya di kota ini dari segi yang lain terutama kehidupan intelektual-politik-jurnalistik.

Semua itu sangat membantunya, dan dia sendiri terbantukan oleh studinya sendiri di FISIP-UI, Jakarta. Dalam perjalanan profesionalnya semuanya berpuncak dengan semua karianya—terutama di harian MEDIA INDONESIA, di mana dia pernah menjadi PEMIMPIN REDAKSI, dan kelak di televisi Metro-TEVE.

Perjalanan hidupnya mengungkapkan sesuatu jenis hidup yang biasa karena jarak antara pekerjaan seorang wartawan dan politikus adalah jarak pendek, dan ini hanya untuk mengatakan bahwa sangat mudah seorang wartawan bergeser posisi menjadi seorang politikus.

Sebagai wartawan dia menjadi wartawan yang dengan berbagai ukuran termasuk seorang wartawan dan editor yang berhasil. Kesaksian teman-temannya memperkukuh anggapan ini: “Bang Laurens adalah sosok penulis editorial dan guru yang tidak tergantikan. Diksi bang Laurens selalu terpilih, orisinal, otentik, jenaka, dan kaya paradox.”

Kejenakaannya, misalnya keluar dalam editorial yang ditulisnya tentang ketidaksetujuannya terhadap Dewan Perwakilan Rakyat membangun gedung besar-baru-mewah. Itu disebutnya sebagai “penghuni miring di gedung tegak”.

Namun, dia meninggalkan dunia yang menjadi tempat akrabnya yaitu dunia jurnalistik dan masuk ke dalam dunia politik, dunia baru praktis untuk Laurens. Baru dari suatu dunia yang penuh intrik, innuendo, dan jebakan-jebakan yang kentara dan tidak kentara.

Dan itulah urutan terakhir yang dijalankan Laurens yaitu menjadi politikus profesional dari Partai NASDEM. Di tengah kampanye pada pemilihan umum 2014 dia berkampanye di Flores, tanah tumpah darahnya sendiri. Berkampanye di kampung sendiri belum tentu menjadi suatu wilayah mudah.

Untuk itu dia berkampanye tanpa mengenal lelah dan justru bekerja tanpa mengenal lelah di tengah keluarga sendiri jauh lebih penuh risiko. Semuanya itu yang menyebabkan dia terkena stroke yang keras dan sejak itu tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi sampai akhir hayatnya.

Ini menjadi titik-balik yang sangat menentukan hidupnya. Berpolitik artinya mengeluarkan suara; tanpa suara tidak bisa berpolitik. Berjurnalistik tidak perlu mengeluarkan suara akan tetapi memberikan tenaga, power dan empowerment pada kata-kata yang berlangsung sebegitu rupa sampai mengubah dunia. Dia berhasil di sini meski tidak mencapai tujuan politiknya.

Namun, semuanya itu cukup untuk menjadi bekal di akhirat karena di sana tidak akan ditanya “siapa yang sudah kau kalahkan dan siapa kau taklukkan”—pertanyaan khas politik; akan tetapi “siapa yang sudah kau cerahkan, agar hidupnya lebih bermakna” di bumi— pertanyaan khas untuk dunia jurnalistik dan intelektual.

Saya pikir paman, adik saya Laurens berhasil menjawab pertanyaan terakhir ini. Dan dengan itu semoga cukup untuk menjadi bekal mendapatkan tempat di sisi Bapa di surga.

Selamat Jalan!

Jakarta, 18 Septembert 2017

Komentar