oleh

Mitigasi dan Adaptasi Pulau Kecil Terhadap Ancaman Kedaulatan Pangan dan Air

RADARNTT, Kupang – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tanpa bencana pun sudah sulit, apalagi dengan tekanan bencana yang makin ekstrim akhir akhir ini, akibat pemanasan global dan anomali iklim, hal ini sampaikan oleh Luigi Michael Riwu Kaho dalam Seminar Nasional WALHI di Aula Ben Mboy Kupang, Jumat 21/4/2017.

Secara geografis NTT terdiri atas tiga pulau kategori sedang yakni, Timor, Flores dan Sumba. Sedangan sisanya ada seribuan pulau pulau kecil, yang berpenghuni 42 pulau dan sisanya belum berpenghuni.

Ia menambahkan, dua per tiga wilayah NTT bertopografi curam dan sangat curam, beriklim semi kering 3-4 bulan hujan, 8-9 bulan kering. Kisaran curah hujan 800-3000 milimeter per tahun, lama hari hujan rata-rata 100 hari per tahun.

NTT juga memiliki 1.227 buah daerah aliran sungai (DAS) dengan daerah tangkapan kecil, mengapa daerah tangkapan air kecil karena terdiri atas pulau kecil dan tipe lahan curam dan sangat curam, sehingga sangat tingginya aliran permukaan (run off) saat musim hujan, dan berpotensi terjadi banjir dan tanah longsong, sambungnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, luas NTT terdiri atas 4.735.000 hektar lahan, terdapat 20,85% sangat kritis, 47,63% kritis, 25,02% agak kritis, 5,96% potensial kritis dan 0,51% tidak kritis. Kondisi ini mencerminkan secara natural kita sudah miskin atau sulit, maka sangat dibutuhkan tindakan ekstra untuk keluar dari situasi yang serba terbatas dan sulit.

Sesuai data WWF tahun 2008, luas tutupan hutan NTT 11,34% dari luas daratan, data ini menunjukan belum ada upaya serius untuk mengelola kondisi lahan yang sangat kritis

“kita perlu meningkatkan kerja nyata untuk memperluas dan meningkatan vegetasi pada lahan kritis yang masing sangat tinggi di daerah ini.” imbuhnya.

Menurutnya, defisit air di NTT dalam setahun adalah 2 milyard meter kubik, kebutuhan air di NTT sebesar 4,8 milyard meter kubik per tahun, sedangkan ketersediaan air di NTT sebesar 2,82 milyard meter kubik per tahun.

Dosen prodi Kehutanan Undana ini juga menjelaskan bahwa potensi hujan 16,67 milimeter per tahun, pada bulan kelebihan air atau bencana banjir bisa mencapai 5 juta meter kubik, sementara bulan bencana kekeringan atau kekurangan air cuma 400 meter kubik. Dirinya meminta agar diperlukan upaya sadar bagaimana menampung banjir di musim hujan dan dimanfaatkan di musim kemarau.

upaya sadar sudah dilakukan sejak masa Hindi Belanda pada 1768”,  Gubernur Hindia Belanda memerintahkan, agar masyarakat Timor menanam jagung untuk mengganti jewawut sebagai makanan pokok setelah 3 tahun berturut-turut gagal panen (Ormeling, 1948 – the Timor Problem).

Selanjutnya pada 1912, kata dia pemerintah Hindia Belanda, menginisiasi penempatan sapi Bali di Pulau Timor sedangkan sapi Madura di pulau Flores bagian Barat. Sapi Ongole dari India ditempatkan di Sumba pada 1914. Ternak ini dimasukkan dengan tujuan memperkuat eknomi masyarakat, konsumsi lokal dan Nasional (Dinas Peternakan NTT, 2014).

Selain itu, ia mengatakan menurut Ataupah (1996) bahwa sapi diintroduksi belanda guna strategi ketahanan pangan dan dipandang lebih baik dari ternak asli Timor, yakni kerbau, kuda, babi, kambing dan ayam buras. Jika musim tak menentu dan terjadi gagal panen, ternak dapat dijual guna membeli bahan makanan.

Untuk menghadapi persoalan ini ada dua hal yang perlu dilakukan, yakn,  pertama; Strategi ketahanan pangan orang Timor melalui pertanian tumpang sari (salome) dan tumpang gilir plus pertanian polivalen.

Layer ketahanan pangan orang Timor sebagaimana hasil riset (Ormelling, 1950; Ataupah, 1996 dan Therik, 1997), yakni; Layer 1 adalah tanaman pangan (dan perkebunan), Layer 2 adalah ternak, Layer 3 adalah hutan.

Kedua Pengaturan ruang. Yaitu, forbidden space, dwelling space, cultivation space. Baginya, kearifan lokal mengikuti falsafah ruang ini, dengan pengaturan ruang hidup ini layer ketahanan pangan diatur. Asumsi ketahanan pangan dipengaruhi oleh curah hujan yang singkat dan musim yang tak menentu. Jadi, adaptasi dan mitigasi dalam perspektif tradisional telah dikenal sejak dahulu.

Ia menambahkan, definisi dan batasan pulau kecil dan pesisir, yaitu ukuran P3K lebih kecil dari 10.000 kilo meter persegi, ekologi dan habitat terpisah dari mainland island, flora dan fauna endemik dan aktivitas geologi yang labil, keterbatasan fisik SDA, tidak mampu mempengaruhi hidroklimat, daratan dan lautan dekat, keterbatasan area tangkapan air. (*Yolf/RN)

Komentar