oleh

Bila Stimulus Tidak Cepat dan Besar, Sejumlah Sektor Bisa Lumpuh Permanen

Temuan survei SMRC in line dengan apa yang terjadi dan apa yang diharapkan masyarakat.

Puncak tekanan ekonomi memang terasa di pertengahan bulan Mei. Segala kekhawatiran terjadi di waktu itu. Ketidak-pastiannya sangat tinggi. Untuk menggambarkan seriusnya kondisi ekonomi kita, angka-angka ini perlu disampaikan.

Laporan yang sampai ke kami, 6,4 juta orang pekerja formal sudah dirumahkan. Dan angka itu terus bertambah tiap bulan. Laporan dari Organda, yang dirumahkan 1,4 juta orang. Asosiasi Pertekstilan, 2,1 juta. Perhotelan, 430 ribu. Dua ribu hotel tutup, paling banyak di Jawa Barat. Sektor Alas kaki, 500 ribu. Dan seterusnya.

Dari yang 6,4 juta yang dirumahkan, 10 persen-nya di-PHK. Kenapa? Karena perusahaan tidak sanggup membayar pesangon. Laporan dari Asosiasi satpam, pada April yang diberhentikan 10 persen. Bulan Mei, sudah sampai 60 persen. Jadi, makin lama makin bertambah.

Jadi, ini sesuai dengan survei SMRC, yang paling terdampak adalah kelompok pekerjaan seperti satpam dan lain-lain. Pendidikan rendah, dan pendapatan rendah.

Begitu dilonggarkan, muncul harapan. Meski demikian, dunia usaha tahu, untuk pulih kembali, masih sangat jauh.

Karena produktifitas jauh menurun akibat tuntutan social distancing. Juga costly: masker, sanitizer, jaga jarak, shift, dll. Sementara pendapatan menurun. Faktor demand-nya juga sangat lemah.

Sektor UMKM, waktu krisis 98, jadi penyelamat. Saat covid ini, mereka terdampak yang paling pertama dan serius. Berdasar laporan OJK, sektor UMKM yang minta restrukturisasi ke perbankan sudah 50 persen. Total lending portofolio perbankan terhadap UMKM itu sekitar 1,100 triliun. Jadi sudah 500 triliun sudah minta restrukturisasi.

Kalau sektor korporasi, sudah di level 25-27 persen dari total landing perbankan. Total landing perbankan kurang lebih 5600 triliun. 1,100 triliun di sektor UMKM, Konstruksi 700 triliun, real estate 700 triliun, dll.

Kalau ini berkepanjangan, potensi yang akan minta restrukturisasi sudah mencapai 45-50 persen, pada bulan Oktober atau Nopember. Angka dari OJK, yang sudah direstruktrurisasi, per 15 Juni sudah 659 triliun.

Jadi, yang diperlukan dari kebijakan pemerintah adalah implementasi yang cepat dengan size yang besar. Sejauh ini masih kecil dan lemah.

Sesuai keterangan Menkeu, sektor-sektor UMKM yang sudah merasakan stimulus baik moneter maupun fiskal, baru 0,06 persen. Masih sangat sedikit. Kesehatan baru 1,5 persen.

Ini sejalan dengan survei SMRC. Bansos di level 28 persen lebih. Bansos sudah berjalan lebih baik dibanding sektor-sektor lain.

Pemerintah perlu menyempurnakan implementasinya. Kalau tidak, damage-nya makin besar. Akibatnya, yang minta restrukturisasi makin besar. Akibatnya, yang di-PHK dan di-rumahkan juga makin besar.

Setuju dengan Prof Chatib Basri, kita akan baru melihat lagi, setelah setahun. Atau kwartal pertama 2021.

Dua sisi harus dibangun. Suppy maupun demand. Demand didorong dengan cepat lewat BLT.

Jumlah 6,4 juta itu baru di sektor formal. Yang di sektor informal seperti tukang cukur, tukang pijat, pekerja salon, dll.. semua butuh waktu kembali pulih.

Yang kita khawatirkan, apablia stimulus tidak cepat dan sizenya kurang besar, sektor-sektor yang lumpuh sementara ini, bisa lumpuh permanen.

Hungry men, jangan sampai jadi Angry men.

 

Presentasi Rosan Roeslani, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), pada diskusi hasil survei SMRC “Kondisi Ekonomi Masa Covid-19 dan Respons Kebijakan: Opini Publik Nasional,” Kamis, 25 Juni 2020.

(Sumber: saifulmijani.com)

Komentar