oleh

Menelusuri Jejak Kesuksesan Indonesia di Museum KAA

-News, WisBud-135 views

RadarNTT.com – Bandung tidak hanya identik dengan wisata kuliner, alam dan belanja. Kota terbesar di Jawa Barat itu juga memiliki banyak tempat bersejarah yang agaknya cukup menarik dan mendidik untuk dijadikan tujuan wisata.

Salah satunya adalah Museum Konferensi Asia Afrika (KAA). Museum yang terletak hanya beberapa puluh meter dari Alun-Alun Bandung ini berada di Gedung Merdeka.

Dari alun-alun kota, mereka yang hendak ke museum yang berlokasi di dalam sebuah gedung yang dibangun pada 1922 oleh arsitek Van Gallen & C.P.W. Schoemaker itu harus menyeberang jalan melalui jembatan penyeberangan untuk menghindari lalu lalang kendaraan di ruas Jalan Asia Afrika yang ramai.

Setelah tiba di seberang jalan, lalu berjalan kaki lagi lurus di sepanjang trotoar sampai tiba di depan pintu masuk gedung yang di zaman Kolonial Belanda bernama “Societeit Concordia” dan di era pemerintahan Presiden Soekarno pernah menjadi Gedung MPRS ini.

Sebelum menaiki tangga di depan pintu masuk gedung yang berada di Jalan Asia Afrika No.65 ini, terpampang papan pengumuman waktu kunjungan dimana museum ini dibuka Selasa sampai Kamis dari pukul 08.00-16.00 WIB sedangkan Jumat pukul 14.00-16.00 WIB dan Sabtu-Minggu pukul 09.00-16.00 WIB.

Dengan kata lain, museum yang dilengkapi ruang pameran tetap, diorama, perpustakaan dan audio visual serta menfasilitasi riset bagi kalangan peneliti dalam dan luar negeri ini tutup pada Senin dan hari-hari libur nasional.

Saat berkunjung ke museum ini, Rabu (21/1/2015) pagi, seorang petugas keamanan gedung (satpam) membukakan pintu dan lalu mengarahkan setiap pengunjung ke meja registrasi yang berada di sisi kiri.

Di meja registrasi para pengunjung itu, Elda Tartilla yang sehari-hari bertugas sebagai pemandu museum dengan ramah melayani para pengunjung. Di antara mereka yang pada hari itu datang berkunjung adalah Imas Shohifah Ali, wali kelas 6 SD Babakan Ciparai, Jalan Caringin, Kota Bandung.

Ibu guru berkerudung ini mendampingi 26 orang muridnya untuk mengikuti program ekskursi bertema sejarah KAA sebagai bagian dari pelajaran IPS selama satu jam di museum yang berdiri sejak 24 April 1980 itu.

Elda Tartilla pun meminta 26 anak-anak SD yang datang dengan berseragam putih-merah itu untuk duduk di lantai persis di depan patung Bung Karno yang sedang berpidato di konferensi yang pada 18 April 1955 diikuti para delegasi dari 29 negara itu.

“Adik-adik, untuk apa museum didirikan?” tanya Elda kepada para pelajar SD Babakan Ciparai itu.

Dia pun menjelaskan sejarah pendirian, peran dan fungsi serta koleksi-koleksi yang ada di museum ini dalam bahasa yang mudah dimengerti anak-anak.

Menurut Elda, museum yang dilengkapi koleksi benda-benda tiga dimensi yang menggambarkan suasana sidang pembukaan konferensi itu tidak hanya dikunjungi kalangan pelajar dan mahasiswa serta peneliti tetapi juga wisatawan asing. “Pada setiap hari kunjungan, selalu ada tamu asing,” katanya.

Bagi turis Belanda, yang menjadi fokus mereka umumnya adalah bangunannya, sedangkan para tamu dari Tiongkok tertarik ke Museum KAA karena sosok Chou En-Lai (Zhou Enlai), Perdana Menteri Tiongkok yang hadir di perlehatan yang menghasilkan Dasa Sila Bandung itu.

“Ada pun fokus para pengunjung asal Amerika Serikat, Jepang maupun negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam lebih melihat aspek sejarahnya,” kata Elda menjelaskan tentang perbedaan karakteristik para pengunjung asing dari pengalaman memandu mereka.

Berdasarkan data pengunjung museum dari Kasi Promosi dan Publikasi Museum KAA, Asep Bahrimansyah, ada sebanyak 177.981 orang pengunjung sepanjang 2014 dan 8.295 orang di antaranya adalah wisatawan asing.

Jumlah turis asing yang menyempatkan diri untuk melihat rekam jejak sejarah KAA saat mereka berkunjung ke Bandung itu jauh di atas angka kunjungan dari kalangan perguruan tinggi, peneliti, jurnalis, tamu negara, serta kalangan instansi/organisasi asing dan dalam negeri.

Data yang dikumpulkan karyawan museum yang berada di bawah pengelolaan Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI itu menunjukkan jumlah pengunjung dari kalangan pelajar TK-SD/Madrasah Ibtidaiyah mencapai 28.050 orang dan SMP/Madrasah Tsanawiyah (68.511).

Seterusnya, kalangan pelajar SMA/SMK/Madrasah Aliyah sebanyak 20.899 orang, perguruan tinggi (5.601), peneliti (74), jurnalis (65), organisasi asing (620), organisasi dalam negeri (7.349), wisatawan nusantara (38.247), dan tamu negara (270).

Pada Rabu pagi itu, Maarten Geuzendam, turis asal Belanda, tampak di antara puluhan orang pengunjung ruang pameran museum yang menempati gedung yang selama era pemerintahan Kolonial Belanda menjadi tempat berkumpul orang-orang Eropa itu.

“Museum satu tema ini lumayan bagus tapi ukurannya kecil. Saya berharap Bandung punya museum yang lebih besar seperti di banyak kota Eropa. Bagi saya, museum merupakan bagian dari cermin identitas diri dan sejarah bangsa,” kata Maarten.

Seperti pengunjung lain, Maarten memulai penelusurannya dari ruang pameran tetap yang memamerkan foto-foto mengenai peristiwa yang melatarbelakangi KAA serta dampak KAA bagi dunia internasional, Gedung Merdeka dari masa ke masa, dan profil negara-negara peserta.

Kemudian langkah kaki dilanjutkan ke ruang-ruang lain seperti perpustakaan dan audio visual serta ke aula tempat berlangsungnya konferensi dimana ratusan kursi yang dibalut busa berwarna merah dan deretan bendera negara peserta berada. Dari situ, kunjungan berakhir di kedai cenderamata.

Menyaksikan berbagai foto dan gambar para tokoh maupun peristiwa mulai dari persiapan hingga hasil konferensi yang digelar hanya sekitar 10 tahun setelah Indonesia merdeka itu, para pengunjung agaknya merasakan kekuatan kepercayaan diri serta visi dan misi Bangsa Indonesia yang menembus batas zamannya.

Bahkan, sebagaimana terpampang di salah satu koleksi yang ada di ruang pameran utama museum itu, Bung Karno ternyata telah menegaskan “mimpi besarnya” untuk membangun kerja sama antar-kekuatan bangsa-bangsa Asia dan Afrika demi kemerdekaan dan perdamaian dunia 22 tahun sebelum KAA digelar.

Proklamator dan presiden pertama Indonesia itu berucap di Bandung pada Maret 1933: “Jikalau Banteng Indonesia sudah bekerja bersama-sama dengan Sphinx dari Negeri Mesir, dengan Lembu Nandi dari Negeri India, dengan Liong Barongsai dari Negeri Tiongkok, dengan kampiun-kampiun kemerdekaan dari negeri lain, jikalau Banteng Indonesia bisa bekerja bersama-sama dengan semua musuh kapitalisme dan internasional-imperialisme di seluruh dunia-, wahai tentu hari-harinya internasional-kapitalisme itu segera terbilang!”

Di Museum KAA yang pada 2013 mendapat predikat “museum terbaik di Kota Bandung dalam bidang pelayanan publik yang berbasis pada konsep keterlibatan publik” itu, tersimpan bukti sejarah kekuatan diplomasi Indonesia di saat negeri ini masih berumur 10 tahun.

Di Gedung Merdeka ini, Indonesia berhasil menggelar konferensi internasional yang melahirkan Dasa Sila Bandung yang menjadi pedoman bagi bangsa-bangsa terjajah dalam memperjuangkan kemerdekaannya dan dianggap banyak pihak sebagai salah satu faktor penting yang turut menentukan jalannya sejarah dunia. (via Kompas.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru