oleh

Natal Momen Mengubah Revolusi Karakter

-Info, News-1.493 views

RadarNTT, kupang– perayaan Natal harus mengubah cara berpikir dan bertindak untuk menghayati Pancasila. Natal harus menjadi habitus dalam menjalankan iman, harap dan kasih Tuhan. Artinya, Natal harus bisa menjalankan dan mengubah revolusi karakter mental yang lebih disiplin, gotong royong, dan bekerja keras. Bangsa Indonesia ini sudah bergerak meninggalkan dunia yang penuh kotor, semu dan kemunafikan yang mementingkan diri sendiri.

Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Perayaan Natal Nasional bertempat di alun- alun rumah jabatan gubernur NTT di Kupang, Senin (28/12).

Jokowi mengatakan, perayaan Natal kali mengingatkan semua orang akan pemahaman tentang hidup bersama sebagai keluarga, tidak hanya keluarga inti yang terdiri dari suami, isteri dan anak- anak, tapi keluarga dalam kesatuan Bangsa Indonesia sebagai satu kesatuan Umat Tuhan.

“Kita semua hidup sebagai satu keluarga dan hidup di bumi yang satu. Kita mempunyai tanggung jawab untuk hidup bersama agar hidup menjadi lebih baik dan saling tolong menolong,” kata Jokowi.

Dia mengungkapkan, leluhur bangsa ini telah bersumpah untuk hidup bersama sebagai satu bahasa dan satu bangsa, bukan satu agama. Ini merupakan warisan leluhur sebagaimana ada dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai sebuah warisan, semboyan ini harus dilestarikan agar bisa mewujudkan cita- cita Indonesai yang damai, tenteram, dan aman. Tentunya sangat diharapkan agar semboyan ini tetap bergema dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Perayaan Natal harus bisa mengubah karakter dalam kehidupan bersama sebagai satu keluarga. Natal harus membawa kesederhanaan, rela berbhakti, dan semangat untuk tidak menghambur- hamburkan uang. Natal tanpa perubahan perilaku, jangan sampai sampai hanya seremonial belaka,” kata Jokowi mengutip pernyataan Paus Fransiskus, “Natal tanpa pembaharuan dan perubahan perilaku, hanyalah sandiwara.

Sementara itu, Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang dalam refleksi Natalnya mengungkapkan, tema Natal tahun ini adalah “Hidup Bersama sebagai Satu Keluarga.” Menurutnya Tema yang diangkat ini didasarkan pada seruan para malaikat, sebagai satu keluarga, tentunya dicuptakan Allah dengan sumber daya yang banyak. Selain itu, harus mampu mewujudkan hubungan yang baik dengan Allah dan sesama.

Namun Uskup menjelaskan, dalam kehidupan saat ini, hubungan ini sering retak dan putus sehingga muncul berbagai masalah seperti radikalisme, narkoba, kerusakan lingkungan alam, narkoba dan kekerasan terhadap anak dan perempuan. “berbagai masalah ini membuat kehidupan tidak nyaman. Akar semua adalah cinta diri. Perayaan kelahiran Yesus Kristus adalah sebuah ajakan hubungan baru yang ditaktakan Sang Ilahi yakni cinta kasih,” pesan Uskup Turang.

Dirinya mengungkapkan, dengan perkembangan teknologi, umat Kristiani harus hidup arif dan sesama untuk kemaslahatan bersama. Terpanggil untuk memelihara dan merawat keberagaman. Yesus adalah kasih karunia Allah kepada manusia. (men/rn)

Komentar