oleh

Peras WNA, Mantan Kapolsek Kuta Segerah Disidangkan

RADAR NTT,Denpasar – Sidang terhadap mantan Kapolsek Kuta, Kompol Ida Bagus Dedi Januartha dalam kasus tindakan pemerasan terhadap WNA rencananya akan digelar dalam pekan ini. Hal tersebut disampaikan oleh Kabid Humas Polda Bali Kombes Hery Wiyanto pada, Senin (09/11/2015) di Polda Bali siang kemarin.

Namun Kombes hery belum mengetahui secara pasti apakah sidang tersebut digelar secara terbuka ataukah tidak. “Saya selalu sampaiakan bahwa kita harus memberikan moril kepada anggotanya. Bukan hanya saja terhadap dia ( IB Dedy Januartha, red) tetapi juga terhadap anggota anggoat yang lain,” ujar Hery.

Saat ditanya apakah sudah dihukum secara internal kepolisian, kombes Hery menjawa ia. “ dia (IB Dedy Januartha, red) sudah dihukum. Orang dia sudah dilepas dari jabatannya. Secara internal kepolisian dia sudah dihukum,” jawab terang mantan Kabid Humas Polda Bengkulu ini. “ muda mudahan dalam minggu minggu inilah (sidang, red). Kalau menurut saya sih sudah terlambat,” sambung Hery.

Terkait keterlambatan ini, perwira asal Jogja ini menjawab bahwa itu tergantung Satker masing masing. “tanya Kapolresta sana kenapa terlambat. Apakah banyak kegiatan. Kan begitu. Ketentuaannyakan kalau sudah satu bulan harus disidangkan,” lanjut Hery.

Seperti yang diberitakan bahwa Kapolsek Kuta, Kompol Ida Bagus Dedi Januartha melakukan tindakan pemerasan terhadap WNA. Dari pemberitaan tersebut pun membuat institusi polri gerah. Karena pemberitaan Cameron Houston dan Chris Vedelago tersebut, pada Rabu (26/8) Propam Polda Bali akhirnya memeriksa Kapolsek Kuta Kompol Ida Bagus Dedy Januartha berserta jajarannya bertempat di Mapolda Bali.

Kasus tersebut berawal dari pemberitaan media a sing tersebut yang berjudul Melbourne men pistol-whipped, Tasered and extorted in Bali (Sekelompok pria asal Melbourne ditodong senjata dan diperas di Bali). Berita tersebut diunggah di Fairfax Media pada Minggu (21/6) pukul 11.55 waktu setempat. Berita tersebut dibuka dengan kalimat Bali terkenal karena pantainya yang keemasan dan senyum penduduk setempat, tapi sekelompok pria Melbourne telah sangat trauma karena mengalami kekerasan dengan oknum polisi dan petugas keamanan  di pulau tropis yang menarik ribuan warga Australia setiap minggu.

 Keenam belas pria ini terbang ke Bali untuk traktiran akhir pekan dari konsultan pemasaran dan mantan model, Mark Ipaviz, dan akhirnya malah ditodong senjata dan dipaksa untuk membayar suap sekitar $ 25.000 untuk menghindari tuduhan palsu dan ancaman 10 tahun penjara. Kelompok itu beranggotakan pemilik klub malam terkenal Nick Russian, beberapa mantan model, penata rambut selebriti Joey Scandizzo, dan rekan lainnya seperti Simon Phan dan Dan Beckwith, dan beberapa orang yang tubuh besar dengan Mr Ipaviz di Semenanjung Mornington. (*rio/rn)

Komentar