oleh

Catatan Kritis Imparsial untuk Reformasi TNI di HUT ke 72

-News-1.151 views

RADARNTT, Jakarta – Momentum Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia ( HUT TNI) yang ke-72 hari ini, Kamis 5 Oktober 2017, perlu dijadikan ajang evaluasi bagi instansi militer tersebut, dengan reformasi ditubuh TNI.

Direktur Imparsial Al Araf mengatakan bahwa didalam reformasi TNI, ada lima hal yang paling penting, harus mengakui bahwa reformasi TNI selama ini sudah berjalan dengan baik, karena banyak capaian positif yang sudah tercapai, seperti Dwi fungsi TNI sudah dicabut, yang sudah diambil alih dan lain sebagainya.

“Tapi masih ada sisa agenda reformasi TNI, yakni reformasi peradilan militer itu menjadi suatu PR, dan revisi UU No 31 tahun 1997 tentang peradilan militer,” kata Al Araf.

Pertama, ia mengatakan, bagaimana memastikan profesionalisme prajurit TNI itu menjadi suatu hal yang penting. Karena keprofesionalan prajurit itu membutuhkan 4 hal, yakni pertama, modernisasi alutsista, persenjataan, kedua, peningkatan kesejahteraan prajurit, ketiga, pendidikan bagi prajurit, dan keempat adalah pelatihan yang baik.

“Itu empat hal untuk menunjukan reformasi secara keprofesionalan TNI,” ujarnya.

Namun, kata dia, problemnya adalah modernisasi alutsista tersebut ada program minimum essential Forces, dan itu menggunakan dana multi years (kontrak tahun jamak) yang kurang lebih Rp 100 triliun.

“Nah problem dalam modernisasi alutsista, transparansi dan akuntabilitasnya masih minim, itu yang harus diperbaiki, dengan adanya skandal-skandal dugaan korupsi di sektor alutsista. Itu menjadi PR,” tuturnya.

Kedua, dikatakannya, bahwa modernisasi alutsista harus ditingkatkan, karena kekuatan negara dalam bidang pertahanan baru mencapai 50 persen yang layak, dan 50 persen lagi tidak layak pakai.

Ketiga, lanjut dia, terkait kesejahteraan prajurit harus ditingkatkan, karena itu menjadi bagian yang sangat penting.

“Dengan meningkatkan kesejahteraan prajurit, diharapkan akan mengurangi penyimpangan didalam tubuh TNI. Sehingga prajurit bisa profesional, dan nggak berpikir macam-macam,” ujarnya.

Keempat, ia menambahkan, TNI perlu dilakukan training, karena dimasa damai seperti ini tugas militer adalah melakukan latihan-latihan, maka harus ada peningkatan kualitas dan kuantitas training atau pelatihan didalam TNI agar jauh lebih baik.

“Kemudian yang kelima, tentu adalah pendidikan dalam TNI perlu memasukan lebih banyak norma-norma tentang penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), negara demokrasi, dan prinsip negara hukum, itu menjadi suatu hal yang penting,” pungkasnya. (Yolf/RN)

Komentar