oleh

Dewan Pers Desak Polres Mabar Tindak Lanjuti Laporan Kekerasan Terhadap Wartawan

radarntt.co, Denpasar- Anggota Dewan Pers Indonesia, Imam mengecam keras adanya upaya menghalangi halangi tugas jurnalistik dan tindakan kekerasan verbal terhadap seorang wartawan di Manggarai Barat, Sirilus Ladur dari berita satu yang diusir dan diancam oleh Florianus Adu selaku koordinator aksi dan beberapa anggota aksi lainnya.

Menurutnya, upaya untuk menghalang halangi wartawan dalam proses peliputan bisa dikenakan pidana “secara normatif sesungguhnya harus dijaga bahwa wartawan dalam menjalankan tugasnya itu selalu dilindungi oleh Undang Undang. Dan kemudian itu diturunkan dalam perlindungan profesi wartawan sesuai pertauran dewan pers,” ujar Imam saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler pada, Rabu (31/5).

Imam menambahkan bahwa perlindungan terhadap wartawan itu adalah perlindungan terhadap wartawan yang profesional sesuai dengan amanat Undang Undang dan peraturan dewan pers dalam menjalankan tugasnya.

Wartawan dalam menjalankan tugasnya selalu dilindungi oleh undang undang. Karena itu, upaya untuk menghalang halangi wartawan dalam proses peliputan bisa dikenakan pidana. Meski demikian, dewan pers menyikapi kasus ini secara independen.

“kita akan melihat kasus perkasus dan melihat variabel variabel yang berperngaruh. Karena perlindungan terhadap wartawn itu adalah perlindungan terhadap wartawan yang profesional,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Dewan Pers ini juga mendesak kepada polisi setempat dalam hal ini Polres Manggarai Barat agar segerah menindaklanjuti laporan yang dilaporkan oleh wartawan yang menjadi korban kekerasan verbal.

“kita berharap Polisi segerah menindaklanjuti. Karena kami konsepnya dalam menyikapi kasus seperti ini itu mengacu pada Undang Undang karena wartawan itu ada perlindungan hukumnya,” ujar Imam.

Sementra itu, Imam menghimbau kepada wartawan agar dalam menjalankan tugasnya selalu berpegang pada kode etik jurnalistik dan selalu independen. “perlu diingat bahwa wartawan itu harus menjaga profesionalitasnya dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.

Untuk diketahui Sirilus Ladur, Wartawan BeritaSatu TV yang bertugas di Labuan Bajo menjadi korban pengusiran dan kekerasan verbal. Ia dilarang meliput oleh Florianus Surion Adu selaku Koordinator Aksi Damai mendukung program kerja Bupati, Agustinus Dula dan Wakil Bupati Mabar, Maria Geong di halaman Kantor Bupati Mabar pada, Rabu (24/5/2017).

Peristiwa ini berawal ketika koordinator aksi yang akrab disapa Feri Adu sedang memimpin orasi dan pada saat itu wartawan Beritasatu TV, Sirilus Ladur, melakukan perekaman video menggunakan handycam. Pada saat sedang melakukan perekaman tersebut, Feri Adu menghampiri wartawan dan meminta untuk tidak melakukan peliputan dan diumumkan ke publik menggunakan pengeras suara.

Pada saat melarang untuk peliputan tersebut, FA mengeluarkan kalimat dengan nada yang kurang sopan dan kasa. “Sirilus kau buat apa di sini. Kau jangan liput kegiatan ini, ini kegiatan saya,” teriak Feri Adu.

Atas tindakan pengusiran ini, Perhimpunan Wartawan Manggarai Barat (PWMB ) melaporkan kasus ini ke Polres Mabar dengan nomor laporan polisi: LP/62/V/2017/NTT dengan materi laporan menghalang-halangi tugas jurnalistik. (Rio)

Foto: istimewa

Komentar