oleh

Indonesia Tertinggal Jauh Dalam Kemampuan Membaca dan Sains

-Nasional, News-1.046 views

Kualitas pendidikan di Indonesia sangat tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara maju, khususnya negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Untuk kemampuan membaca saja, Indonesia harus menghabiskan waktu 45 tahun agar mencapai tingkat kemampuan setara mereka.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, di penghujung Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia 2017, di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu (14/10) petang waktu setempat.

Menurut Sri Mulyani, temuan itu tercantum dalam hasil penelitian World Development Report (Laporan Pembangunan Dunia) yang baru saja dirampungkan Bank Dunia.

“Itu hanya untuk yang (kemampuan membaca) . Kalau sains dibutuhkan 75 tahun untuk bisa mengejar ketertinggalan bila sistem pendidikan kita masih kayak gini,” tutur Sri Mulyani.

Hasil penelitian Bank Dunia tersebut, kata Sri Mulyani bakal dipakai sebagai refernsi untuk memperbaiki kualitas pendidikan nasional. Kementerian Keuangan akan mengonsultasikan masalah tersebut dengan Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Pemerintah-pemerintah daerah juga dilibatkan karena tata kelola pendidikan banyak didelegasikan ke daerah. Sri Mulyani menegaskan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20% anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) harus menghasilkan kualitas pendidikan yang setara dengan negara-negara OECD.

Selain isu pendidikan, lanjut Sri Mulyani, hal konkret lain yang didapat dari Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia adalah pengembangan energi terbarukan, terutama panas bumi. Para calon investor menunjukkan minat untuk membahas hal itu secara lebih detail.

“Bahkan Jerman tadi wakil menterinya ingin membantu masalah geotermal ini karena mereka memiliki dana yang dulu mereka investasikan tapi ternyata belum mendapatkan proyek yang cocok,” ungkap Sri Mulyani.

Pengembangan transportasi massal juga mendapatkan prospek kerja sama dengan swasta. Anak usaha Bank Dunia, International Finance Corporation (IFC) pun ingin masuk ke sektor tersebut.

Dikatakan Sri Mulyani, Kementerian Keuangan akan mengundang para pemangku kepentingan untuk membahas minat dan kebutuhan beberapa kota di Indonesia membangun transportasi massal. (MI/RN)

Komentar