oleh

Jacki Uly Road Show de Sumba dan Timor Menuju NTT Satu

-News-991 views

RADARNTT, Kupang – Setelah mendapat restu DPP Partai NasDem sebagai Calon Gubernur NTT periode 2018-2023, Drs. Jacki Uly, M.H. bersama Tim Partai yang terdiri dari unsur DPP dan DPW Partai NasDem NTT melakukan perjalanan lintas Sumba dan Timor, acara ini berlangsung sejak (26/7/2017) sampai (7/8/2017), yang dimulai dari Waitabula Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) dan berakhir di Kalabahi Kabupaten Alor.

Perjalanan panjang dan cukup melelahkan, tapi sungguh dinikmatinya. Jacki Uly bersama sejumlah Pengurus DPW dan Tim DPP yang dikomandani Ketua Fraksi DPRRI, Viktor Bungtilu Laiskodat, menyambangi tanah marapu.

Di ujung barat pulau Savana, Kota Waitabula, ibu kota kabupaten SBD menjadi pilihan pertama. Bukan suatu kebetulan, Sumba menjadi pilihan pertama, di tanah Marapu ini, yang baru saja menggelar event berskala nasional, Parade 1001 Kuda dan Festival Tenun Ikat Sumba, yang menghadirkan orang nomor satu negeri ini, presiden Jokowi.

Di negeri sandlewood, Jacki Uly bersua, bersulang minum dan makan sirih pinang bersama masyarakat di Kodi, Wewewa, Tambolaka, Waikabubak, Lamboya, Tana Rigu, Loli, Waibakul, Anakalang, Lewa, Waingapu, Kambaniru. Negeri Savana yang membentang luas, berdaya pikat mengikat inspirasi, berpadu aspirasi dalam balut semangat budaya, pacu kuda pasola dan pesona alam nan indah permai.

Tapak demi tapak ditempuhnya, berlanjut ke bumi cendana wangi, Timor. Bakatemu dan subasuka di Kota Kupang, Tarus, Oelamasi, Camplong, Takari, Soe, Niki-niki, Polen, Noemuti, Kefamenanu, Insana. Seterusnya, tiba Manlea, Besikama, Betun, Atambua (rai Malaka dan Belu) dan penerbangan ke negeri seribu moko Kalabahi-Alor jadi puncak perjalanan.

Di setiap perjumpaan dan persinggahan itu pula, berbagai wejangan dan petuah didapatnya, ada keluh kesah, sedikit gerutu, protes bahkan kritik pedas tak terelakan. Dari tanah yang subur ini, dahulu dunia barat berbodong datang, bertanding adu mengusai. Di ini tanah, rempah dikeruk habis tinggal nama, kini banyak penghuninya pergi mencari nafkah di negeri jiran, pergi normal pulang cacat, pergi hidup pulang mayat.

Negeri kaya, tapi miskin warganya. Negeri bertuhan, tapi penuh tipu daya dan pencuri. Mencuri dari hulu sampai hilir, dari kecil sampai besar, dari orang biasa sampai luar biasa berdasi. Mereka mengambil dengan penuh sopan santun dan dianggap biasa, lebih lagi kaum berdasi makin beringas bagai drakula penghisap darah.

Kemiskinan tak berujung, disemat erat, malah jadi perisai lindung dari gempuran badai reseki fulus dari pusat agar biar terus diberi bantu. Berulang terus sejak dahulu, tak ada ubah ke arah membaik, tapi cenderung makin buruk dan masuk nominasi teratas.

Mereka dalam gumam; apa yang salah dan siapa yang salah, mengapa bisa seperti itu. Seperti tak ada jawab, mereka terus merenung dan terdiam membisu. Ada pekik memecah sepi, “Politik, itu….!!! Kita selama ini tertipu oleh dagelan politik mereka, yang datang musiman memberi janji lalu hilang dan muncul lagi lima tahun berikutnya.

Begitu kah politik adalah kotor penuh tipu daya, seperti itulah fakta yang masih dirasa mereka. Selalu mendapat janji manis di setiap musim pemilu, setelah itu menguap pergi entah kemana.

Secuil harapan digantungkan, politik adalah masa depan, Pilkada sebagai jalan dan jabatan kepala daerah sebagai alat mencapai masa depan itu. Dalam keteguhan yakin, mantan jenderal bintang dua polisi, yang berdarah Sabu ini, Jacki Uly, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bahu membahu bekerjasama dan sama-sama bekerja memajukan NTT, dengan mengambil peran Gubernur sebagai alat pelayanan menuju masyarakat yang adil dan setara. (Yolf/RN)

 

Komentar