oleh

Kita Jadi Mudah Lupa dan Mudah Beralih dari Satu Kasus ke Kasus Lain

-News-1.438 views

Terkuaknya kasus korupsi KTP elektronik (e-KTP) membuat perhatian publik beberapa pekan lalu, tertuju pada KPK yang saat itu menetapkan Ketua DPR RI sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto (SN) sebagai salah satu tersangka dalam kasus itu. Harapan publik cuma satu: hukum ditegakkan!

Namun tiba-tiba SN sakit keras dan harus operasi di Rumah Sakit. Hebatnya, walau ia dikabarkan sekarat, ia masih sempat gugat, mem-praperadilan-kan KPK. Hakim tunggal Cepy di PN Jakarta mengabulkan permohonan SN. Status tersangka dari KPK yang disematkan pada SN pun dicabut Hakim sakti ini. Publik hanya bisa mengutuk dan akhirnya melupakan rangkaian kasus yang dramatis itu untuk sementara waktu.

Rupanya, pengungkapan kasus e-KTP masih menjadi perjuangan panjang yang penuh tantangan. Mengingat pula bahwa kasus korupsi e-KTP tersebut, menjerat banyak politisi di tingkat elit. Lebih-lebih, ketika pada sidang vonis terhadap dua terdakwa mantan pejabat Kemendagri, Irman dan Sugiharto, nama SN tidak disebut oleh hakim. Padahal, SN disebut dalam tuntutan Jaksa KPK sebagai salah satu pihak yang terlibat tindak pidana korupsi e-KTP.

Tidak disebutnya nama SN oleh hakim, membuat kita bertanya-tanya, apakah kali ini SN akan lolos lagi dari jerat kasus hukum? Banyak yang menyangsikan kasus e-KTP yang merugikan negara hingga 2,3 triliun rupiah ini bisa diusut tuntas.

Kita juga bertanya, apakah kasus e-KTP akan bernasib sama dengan kasus-kasus korupsi besar lainnya seperti, kasus BLBI dan Century yang tidak kunjung terungkap hingga hari ini? Sekali lagi, publik hanya bisa sampai pada kritikan, dan sesekali membuat meme dan plesetan nama SN menjadi ‘Sakti Novianti’. Tidak lebih.

Dua hari lalu, Anis Rasid Baswedan (ARB) pun dilantik jadi Gubernur DKI Jakarta. Pidato perdananya tentang “pribumi dan nonpribumi” juga tentang mata pelajaran sejarah penjajahan kolonial tempo doeloe. Perhatian publik, sontak tertuju pada ARB lagi. Kecaman, umpatan dan lain-lain mengisi halaman media sosial masyarakat.

ARB lalu dituding gemar mengangkat isu-isu berbau rasis, sekaligus melanggar UU No. 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dan IMPPRES No. 26/1998 tentang Larangan Penggunaan Istilah Pribumi dan Nonpribumi. Tak hanya itu, netizen sosmed pun banyak membuat meme, anekdot dan sejumlah plesetan nama ARB dengan sebutan ‘Anis Rasis Busway’.

Kembali ke soal Korupsi, saya akhirnya mengingat kembali apa yang pernah dikatakan oleh mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden yang menganalogikan korupsi sebagai penyakit kanker. Biden menyatakan; ‘Korupsi itu adalah Penyakit’, dan penyakit itu ‘memakan’ harapan terhadap demokrasi yang memberikan kesempatan kepada semua orang untuk mendapatkan hak-haknya. Perang melawan korupsi sering berhadapan dengan fakta bahwa korupsi sering melibatkan lingkaran dalam kekuasaan.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, juga menyebut; orang-orang yang memerangi korupsi harus terlebih dahulu membersihkan diri mereka dari ‘penyakit’ tersebut. Putin menyatakan dengan kalimat pendek: “…those who fight corruption should be clean themselves”.

Ya…itu semua benar. Dan benar juga ketika kita semua akhirnya mudah lupa akan satu kasus, dan mudah pula pindah ke kasus lainnya. Kasus hari ini, akan tergantung apa kasus esok harinya. Sungguh, kita ini memang mahkluk suka lupa.

 

Penulis : Bernadus Barat Daya

Komentar