oleh

Menjaga NTT sebagai Rumah Pancasila

-Daerah, News-833 views

“Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara, dalam nilai-nilai praksisnya telah banyak bergeser dari pengertian awal. Beberapa kalangan memperjuangkan ideologi non Pancasila di bumi Indonesia. Negara tidak mewajibkan organisasi politik, kemasyarakatan untuk menggunakan Pancasila sebagai asas tunggal. Media massa telah menjelma menjadi agenda setter yang menyemaikan hal-hal yang a-pancasila.  Kenapa kita tidak kembali ke Pancasila secara konsekuen, doktriner dan implementatif?” Demikian cuplikan pengantar Sampe L. Purba dalam Makalah bertajuk Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi radikalisme, terorisme dan separatisme.

Indonesia dewasa ini dihadapkan dengan persoalan dan ancaman radikalisme, terorisme dan separatisme yang kesemuanya bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD NRI 1945. Radikalisme, Terorisme dan Separatisme merupakan ancaman terhadap ketahanan ideologi. Apabila Ideologi negara sudah tidak kokoh maka akan berdampak terhadap ketahanan nasional.

Radikalisme dapat diartikan sebagai sikap atau paham yang secara ekstrim, revolusioner dan militan untuk memperjuangkan perubahan dari arus utama yang dianut masyarakat. Radikalisme tidak harus muncul dalam wujud yang berbau kekerasan fisik. Ideologi pemikiran, kampanye yang masif dan demonstrasi sikap yang berlawanan dan ingin mengubah mainstream dapat digolongkan sebagai sikap radikal.

Dalam masa orde baru, untuk menanamkan dan memasyarakatkan kesadaran akan nilai-nilai Pancasila dibentuk satu badan yang bernama BP7.  Badan tersebut merupakan penanggung jawab (leading sector) terhadap perumusan, aplikasi, sosialisasi, internalisasi terhadap pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila, dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara.

Saat ini Pancasila adalah ideologi yang terbuka., dan sedang diuji daya tahannya terhadap gempuran, pengaruh dan ancaman ideologi-ideologi besar lainnya, seperti liberalisme (yang menjunjung kebebasan dan persaingan), sosialisme (yang menekankan harmoni), humanisme (yang menekankan kemanusiaan), nihilisme (yang menafikan nilai-nilai luhur yang mapan), maupun ideologi yang berdimensi keagamaan.

Ende sebagai Rahim Pancasila

Sejarah tak dapat dipungkiri bahwa Pancasila lahir di Ende, Flores, NTT. Pancasila merupakan hasil refleksi atau permenungan Ir. Soekarno dalam masa pembuanganya yang puncaknya itu terjadi di Ende. Tak heran bila muncul berbagai jargon atau sebutan yang menyematkan kata Ende seperti Ende Kota Pancasila, Ende Rahim Pancasila, Tidak Ada Ende Tidak Ada Pancasila dan masih banyak macam sebutan atau ungkapan.

Pernyataan-pernyataan tersebut sah-sah saja. Paling tidak hal tersebut menggambarkan ekspresi patriotik kita. Bahwa seluruh rakyat Indonesia dari pelosok manapun memiliki kontribusi yang sama besar dalam pencapaian kemerdekaan bangsa Indonesia.

Akan pencapaian bersejarah ini, kita tidak dapat mengabaikan begitu saja sejarah pembuangan Soekarno di Ende.  Di satu sisi, membuang Soekarno di Ende merupakan langkah politik penjajah yang paling menyakitkan bagi bangsa dan Soekarno sendiri.

Namun, di sisi lain, sebagai pribadi beriman, kita yakin semua yang terjadi pada Soekarno – terutama pembuangannya di Ende – merupakan kehendak Tuhan. Kita bisa membayangkan seandainya Soekarno tidak dikucilkan di Ende, apakah kita akan memiliki Pancasila?

Selama masa pembuangan, Soekarno bergumul dalam ‘proses kristalisasi nilai-nilai Pancasila’ setelah berinteraksi dengan masyarakat jelata. Namun demikian, Ende, tempat yang paling terbelakang jika dibandingkan beberapa tempat pembuangan yang lain.

Berdasarkan nilai kesejarahannya itu, NTT sebagai provinsi kepulauan yang terdiri atas seribuan pulau, ratusan etnis, puluhan suku, bahasa dan beragaram tradisi. Menjadi tempat yang aman dan nyaman sebagai rumah bersama, menjunjung tinggi toleransi dan gotong royong, saling menghormati dan melindungi. NTT menjadi miniatur Indonesia, tempat belajar Pluralisme dan Rumah Besar Pancasila.

Masyarakat NTT berkomitmen menolak segala bentuk pemikiran dan tindakan radikal yang betentangan dengan nilai-nilai Pancasila, tetap berpegang teguh pada Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara Indonesia. Pancasila sudah sesuai nilai luhur dan kebudayaan bangsa.

Sekarang saatnya, kita menjalankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara murni dan konsekuen dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara. Mari bergerak bersama, baik pemerintah pun masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. (Tim/RN)

Komentar