oleh

Menteri Yohana Yembise Bertemu Tokoh Adat NTT

-Nasional, News-1.247 views

RADARNTT, Kupang – Dalam upaya mendukung pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Prof. Dr. Yohana Susana Yembise, Dip.Apling, MA bertemu Tokoh Adat se-provinsi NTT, di Swiss-Bellin Kristal Hotel Kupang, Sabtu, (25/11/2017).

Kegiatan Temu Tokoh Adat Mendukung Pelaksanaan Pengarus Utamaan Gender, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di provinsi NTT ini dilaksanakan atas inisiatif Kementerian PPPA, melibatkan Dinas PPPA Provinsi NTT, yang berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu, (24-25/11/2017) di Swiss-Bellin Kristal Hotel Kupang.

Dalam kesempatan ini, Menteri Yembise mengatakan perempuan dan anak adalah dua pilar penting yang harus diperhatikan.

Karena perempuan dan anak sering menjadi obyek kekerasan dalam lingkungan sosial sehingga perlu mendapat perhatiaan yang lebih dari tokoh masyarakat dan pemerintah.

Menurutnya, untuk mewujudkan hidup tanpa kekerasan terhadap perempuan dan anak, butuh kerjasama semua pihak terutama antara kaum laki-laki dan perempuan.

Kerjasama ini, katanya, paling utama dimulai dari rumah tangga, di kelompok yang paling kecil sebagai fondasi membangun kesadaran gender.

“Kita tidak bisa mengharapkan orang luar datang untuk mengurus daerah kita. Tapi kita harus menyiapkan generasi-generasi kita untuk membangun masa depan daerah yang lebih baik”, ungkap Menteri asal Papua.

Ibarat tiga batu tungku, katanya, dalam mewujudkan tantanan hidup bermasyarakat yang baik membutuhkan tiga unsur penting; tokoh adat, tokoh agama dan pemerintah.

“Tokoh adat, tokoh agama dan pemerintah adalah tiga unsur yang sangat penting dan punya peran dalam perlindungan terhadap perempuan dan anak”, kata Yembise.

Dia menegaskan di tengah kuatnya budaya patriarki, kita butuh peran tokoh adat sebagai salah satu pilar yang bertugas membangun kesadaran pentingnya stop kekerasan terhadap perempuan.

Selain itu, kata Yembise, perlu juga peran aktif tokoh agama memberikan pembinaan rohani melalui ceramah dan kotbah dengan memperhatikan hal ini sebagai materi yang penting disampaikan kepada umat.

Sedangkan pemerintah, dalam hal ini pemerintah daerah perlu menyiapkan sejumlah anggaran dan regulasi yang mengatur tentang perlindungan perempuan dan anak.

“Saya katakan kepada gubernur NTT, kita tidak rugi memberdayakan anak-anak. Investasi terhadap anak dan perempuan  tidaklah rugi. Karena anak-anak kita adalah generasi masa depan daerah kita”, kata Yembise.

Upaya menyiapkan generasi muda tidaklah rugi kita mengeluarkan sumberdaya dana yang besar, karena menurutnya di negara-negara maju uang negara lebih banyak disiapkan untuk investasi terhadap anak-anak dan perempuan.

Peserta yang hadir dalam acara tersebut adalah unsur tokoh adat yang berasal dari 22 kabupaten/kota, tokoh agama dan unsur dinas PPPA se-provinsi NTT serta tamu undangan lainnya. (Yolf/RN)

Komentar