oleh

NTT Ranking Satu Human Trafficking di Indonesia Timur

RADARNTT, Kupang – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menempati ranking satu kasus human trafficking atau perdagangan manusia di Indonesia bagian timur, kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Prof. Dr. Yohana Yembise di Kupang, Sabtu (25/11/2017).

Yohana Yembise mengatakan, kasus human trafiicking di Indonesia terbanyak ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB dan NTT. Di Indonesia Timur, sambungnya, NTT menjadi daerah yang paling tinggi kasus human trafficking dibanding daerah lainnya.

Dijelaskannya, upaya penyelesaian kasus human trafficking, dibentuk satuan gugus tugas. Ketua gugus tugas tingkat provinsi adalah Gubernur, juga di kabupaten/kota adalah bupati/walikota sebagai ketua gugus tugas di daerahnya.

Hal-hal yang terjadi mengenai human trafficking, katanya, masing-masing gugus tugas bertugas menyelesaikan masalah terutama korban trafficking di daerahnya.

“Saya selaku ketua harian tindak pidana perdagangan orang, tugas kami melakukan sosialisasi anti human trafficking di seluruh Indonesia, terutama daerah-daerah yang banyak kasus trafficking”, kata Yohana Yembise.

Menurutnya, kementerian PPPA melakukan pendekatan dengan pemerintah daerah (Pemda), untuk memperhatikan urusan perempuan dan anak, karena urusan perempuan dan anak adalah urusan wajib daerah. Pemda harus memberdayakan perempuan menggunakan anggaran daerah.

Kementerian tetap mendampingi, katanya, salah satu upaya pencegahan yang dilakukan adalah mendirikan sekolah perempuan, untuk melatih anak-anak perempuan yang masih muda, sehingga mereka bisa terampil dan berkualitas.

Dengan keterampilan yang cukup, katanya, mereka bisa melakukan usaha sendiri untuk meningkatkan ekonomi perempuan, dengan sendirinya ekonomi di provinsi NTT bisa ikut berkembang.

Selain itu, katanya, tahun depan pihak kementerian PPPA akan membangun moment technical college. Akademi kejuruan untuk perempuan yang sifatnya vocational goal, yang mempersiapkan tenaga perempuan terutama yang tamatan SMA, sehinga lebih terampil dan berkualitas.

“Kita membina sumberdaya manusia yang siap dikirim ke luar negeri jika mereka ingin kesana, tidak lagi kirim yang informal seperti selama ini hanya menjadi budak di negeri orang”, kata Yohana Yembise. (Yolf/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan