oleh

Pantai Raihenek, Potensi Wisata Bahari Yang Dilupakan

RADARNTT, Betun – Pantai Raihenek berada di desa Rainawe, kecamatan Kobalima, kabupaten Malaka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai salah satu potensi wisata bahari yang selalu dipadati pengunjung. Namun, kondisi pantai masih dibiarkan apa adanya tanpa sentuhan kebijakan dengan pengelolaan yang profesional dan terkesan dilupakan.

Padahal di pantai yang indah nan mempesona ini, tidak ada pohon rindang yang menjadi tempat berteduh pengunjung.

Kondisi yang amat memprihatikan ini, mendorong para pemuda Karang Taruna desa Rainawe berinisiatif membangun lopo sederhana, terbuat dari material lokal dengan beratap daun gewang.

“Kita bangun sendiri lopo, panggung dan lainnya di pesisir pantai Raihenek ini, kita sudah koordinasi ke aparat desa dan camat cuma mereka semua tidak ada respons sedikit pun juga tentang program ini”, ujar Ketua Karang Taruna, Diego Neves kepada radarntt.co, Selasa (12/12/2017).

Mereka juga memiliki komunitas pengelola yang diberi nama Zerro R, yang diurus oleh 9 orang pemuda/pemudi yang bekerja swadaya membangun fasilitas lopo dan panggung di pinggir pantai. 

Diogo Neves menjelaskan, awalnya kegiatan ini dikerjakan oleh 4 orang, tapi sekarang pengunjungnya semakin banyak, sehingga menambah 5 orang tenaga menjadi 9 orang.

“Fasilitas yang sudah dibangun dengan swadaya ada lopo 1 tiang sebanyak 4 buah, dilengkapi kursi gandeng meja ada 4 unit, juga kursi permanen ada belasan buah”, kata perintis kegiatan ini.

Menurut Diego Neves, jumlah pengunjung yang datang setiap hari bisa mencapai belasan mobil, termasuk mobil mewah dan plat merah, sedangkan pengunjung yang menggunakan kendaran roda dua setiap hari tak terhitung jumlahnya.

Dia mengatakan, mereka berniat menarik retribusi kepada setiap pengunjung, uang tersebut digunakan untuk membeli material membangun lopo dan tempat duduk tambahan.

“Kita mau adakan retribusinya setiap minggu, terus uangnya kita mau fungsikan untuk beli material, untuk penambahan lopo, tempat duduk dan kursi”, kata Diego Neves.

Tapi pemerintah desa dan kecamatan tidak mengijinkan pihaknya untuk menarik retribusi. Karena belum diatur regulasinya dalam bentuk peraturan desa.

Menurutnya, di lokasi pantai ini kekurangan pohon maka perlu memperbanyak lopo sebagai tempat bernaung pengunjung.

Pantai yang selalu ramai pengunjung ini, kata Diego Neves, sampai orang Atambua juga datang walapun dibikin dalam keadaan sederhana.

‘Kita ingin, daerah kita ini yang dulunya tidak dipandang, kedepannya menjadi lebih bagus dengan keindahan alamnya”, ujar Diego Neves. 

Pihaknya berharap ada keseriusan pemerintah, mulai dari tingkat desa sampai kabupaten untuk memberikan perhatian terhadap pengelolaan potensi wisata pantai Raihenek, agar ke depan menjadi lebih bagus penataannya.

Pemerintah perlu menyediakan sarana air bersih, MCK, Listrik dan fasilitas pendukung lainnya.

Selain itu, tegas Diego Neves, pemerintah desa perlu mengadakan sosialisasi dengan masyarakat karena saat membangun di pesisir pantai ini ada masyarakat yang kontra dengan alasan mereka pemilik tanah tanah di bibir pantai. “Kami butuh aparat desa turun atasi masalah ini, karena desa yang tahu tentang hal ini”, tutupnya. (Yolf/RN)

Komentar