oleh

Responden Pertanyakan Survei Cagub NTT oleh Laboratorium Psikologi Politik UI

Foto: istimewa

RADARNTT, Kupang – Diduga ada ‘titipan sponsor’ dari figur bakal calon gubernur tertentu, responden dan kalangan masyarakat mempertanyakan profesionalitas dan kredibilitas survey calon gubernur (Cagub) NTT yang dilakukan oleh Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia yang dilakukan sejak Selasa (24/10/17).

Dugaan tersebut mencuat karena tidak dimasukannya nama sejumlah figur bakal calon gubernur (Bacagub) NTT dalam kuisener. Padahal figur-figur tersebut sudah dikenal luas dan telah mendaftar di partai-partai politik.

Informasi yang dihimpun dari responden, ada sekitar 29 pertanyaan. Sekitar 20 pertanyaan merupakan pertanyaan tertutup dan sisanya adalah pertanyaan terbuka. Dalam beberapa pertanyaan tertutup, antara lain responden ditanyakan siapa figur calon gubernur yang paling disukai dari 10 nama yang sudah disebutkan. Responden juga ditanyakan, siapa figur yang paling tidak disukai dari 10 nama tersebut.

Dari sepuluh nama tersebut, Beny K. Harman berada di urutan pertama dan Robert Jawang di urutan ke-10. Beberapa figur cagub yang disebutkan dalam kuisener antara lain, Kristian Rotok, Marianus Sae, Esthon Funay, Ibrahim Medah, Lusia Adinda Lebu Raya, Goris Mere dan Robert Jawang.

Petrus salah satu responden di Kota Kupang yang sempat dihubungi wartawan melalui telepon selularnya kemarin, membenarkan bahwa dirinya menjadi salah satu responden yang dilakukan oleh Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI). Namun setelah membaca 10 nama figur calon gubernur yang tertera dalam kuisener tersebut, ia tidak melihat beberapa nama figur calon gubernur NTT yang sudah dikenal luas oleh masyarakat NTT.

“Saya heran kog ada beberapa nama figur cagub yang sudah dikenal luas dan mengikuti proses pendaftaran di Partai tidak ada dalam daftar kuisener tersebut. Pahadal mereka ini mendaftar sebagai cagub di Parpol besar,” ujar Petrus yang menjadi salah satu responden kuisener tersebut.

Yang lebih mengherankan, lanjutnya, figur-figur cagub yang tidak pernah mendaftar di Parpol justru ada namanya. “Kog figur yang tidak mendaftar di partai, justru ada namanya dalam daftar kuisener tersebut. Survey ini survey asal-asalan. Bisa saja ada masyarakat menduga ada ‘pesan sponsor’,” kritik Petrus.

Hal senada juga dikemukakan responden lainnya, Beni yang juga berdomisili di Kota Kupang. “Saya mempertanyakan kredibilitas lembaga yang melakukan survey. Saya tidak tahu apa kepentingan dibalik itu tapi jelas bahwa survey ini tidak professional,” ujarnya.

Ia sangat menyesal karena survey yang dilakukan Lembaga Psikologi Politik Universitas Indonesia tersebut tidak mengakomodir realitas politik yang terjadi di NTT saat ini.

“Sangat disayangkan sekali lembaga sekelas UI melakukan survey dengan kuisener yang abal-abal. Masyarakat bisa saja menduga ada ‘pesan sponsor’ dibalik survey ini. Saya juga pertanyakan provesionalisme dan kredibilitas lembaga tersebut,” tandasnya.

Koordinator survey Lembaga Psikologi Politik Universitas Indonesia, Rufus Pati Wutun yang dikonfirmasi wartawan melalui telepon selularnya mengakui adanya nama sejumlah figur cagub NTT yang tidak masuk dalam daftar kuisener yang dibagikan kepada 500 orang responden.

Namun ia membantah kalau ada ‘titipan sponsor’ dalam survey yang dilakukan oleh lembaga tersebut.
“Survey tersebut merupakan survey uji coba dengan metode stimulus respons.

Kami mau lihat bagaimana situasi di masyarakat. Ada beberapa nama yang sengaja kami sembunyikan. Kalau di bawah ada respon dari masyarakat berarti masyarakat punya perhatian. Hari ini sudah ada 11 orang yang menelepon saya mempertanyakan hal itu,” ujar Rufus.

Karena ada respon dari masyarakat, lanjut Rufus, maka pihaknya menarik dua nama figur dalam daftar nama figur cagub dalam kuisener tersebut, yakni Goris Mere dan Robert Jawang.

“Lalu saya masukan 3 nama baru yakni Melki Laka Lena, Daniel Tagu Dedo dan Kristo Blasin. Besok sudah keluar kuisener versi terbaru, bukan lagi dengan 10 nama tapi dengan 11 nama bakal calon gubernur. Survey besok (hari ini, Kamis 26/10/17), red), bukan uji coba lagi,” jelasnya.

Dengan demikian, kata Rufus, pihaknya akan mengedarkan kuisener versi baru dengan 11 nama. “Bukan survey stimulus respon lagi. Tahap stimulus respon sudah lewat. Kalau survey sebelumnya kita pancing dahulu respon di masyarakat. Tapi besok (26/10/17, red), kita keluarkan versi baru dengan 11 nama cagub. Jadi bukan survey uji coba lagi,” tandasnya.

Mengenai adanya sponsor dibalik survey tersebut, Rufus membantahnya. “UI itu universitas besar, tidak ada titipan sponsor dari partai politik atau figur tertentu. Survey ini dilakukan oleh Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia. Saya salah satu anggotanya,” katanya.

Menurut Rufus, pihaknya tidak punya kepentingan politik dalam survey tersebut. “Yang perlu diingat, pertama, kami tidak dapat diintervensi oleh kepentingan politik. Karena yang lebih penting dari kami adalah bukan calon tapi faktor atau kriteria yang digunakan untuk mengukur seorang figur yang layak,” jelasnya.

Yang kedua, lanjut Rufus, pihaknya punya kewajiban untuk memberikan pendidikan politik yang benar. “Pendidikan politik yang benar itu adalah pendidikan politik yang benar-benar merujuk pada kepentingan rakyat.

Ketiga, perlu ada kejujuaran. Itu yang menjadi sangat penting.

Karena itu ketika kami mendapat informasi dari lapangan, kita harus merubah kuisener tersebut. Karena bagaimanapun orang-orang partai dan masyarakat juga punya calon,” paparnya.

Saat ditanya apakah Laboratorium Psikologi Politik UI tidak mengetahui nama figur-figur bakal calon gubernur NTT, pihaknya sengaja memasukan hanya 10 nama untuk mengetahui respon masyarakat.

“Jadi begini, kan ada banyak nama figur bakal calon gubernur yang ada. Jadi kita bilang kita turunkan dulu 10 nama ini sebagai stimulus respon. Jadi kami bilang ini tahap uji coba. Jadi kami mengharapkan adanya komentar dan perbaikan dari publik baru kami melakukan perbaikan kuisener,” kilahnya. (yos/ian/tim)

Komentar

Jangan Lewatkan