oleh

Sekilas Mengetahui Alor Negeri di Timur Matahari

RADARNTT, Kalabahi – Kabupaten Alor merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terletak di bagian timur laut. Berdasarkan batas wilayah Kabupaten Alor, sebelah Timur dengan Pulau-pulau di Maluku, sebelah Barat dengan Selat Lomblen Lembata, sebelah Utara dengan Laut Flores, sebelah Selatan dengan Selat Ombay dan Timor Leste.

Kabupaten Alor sebagai daerah kepulauan, terdiri dari tiga pulau besar dan enam pulau kecil yang berpenghuni saat ini dengan luas wilayah 2864.64 Km² terdiri dari 17 Kecamatan. Pulau-pulau yang berpenghuni, yaitu Alor, Pantar, Pura, Ternate, Buaya, Tereweng, Kangge, Kura, dan Kepa. Dan terdapat 4 pulau yang tak berpenghuni, yaitu Batang, Rusa, Kambing dan Sika. Silakan bagi yang hendak berhuni disana, Alor welcome selalu.

Secara geografis, kondisi daerah ini merupakan daerah pegunungan tinggi yang dikelilingi oleh lembah-lembah dan jurang-jurang. 63.94 % dari wilayah di Kabupaten Alor merupakan daerah dengan kemiringan lebih dari 40 °.

Masyarakat Alor memiliki beragam kekayaan budaya; ada Bahasa Ibu (Bahasa Daerah/Lokal) antara lain: Bahasa Alor, Abui, Blagar, Hamap, Kabola, Kafoa, Kmang, Klong, Kui, Kula, Lamma, Nedebang, Reta, Sawila, Tereweng, Tewa, dan Wersing. Salah satu keunikannya, Alor terdiri atas puluhan bahasa ibu, kurang lebih mencapai empat puluhan bahasa.

Ada potensi wisata budaya di kampung-kampung tradisional Takpala, Bampalola, Monbang, Matalafang, Mabur dan Kalaweni. Ada juga sanggar-sanggar budaya; Sanggar Budaya Gapura Takpala, Ehenghulu – Monbang, Ekosari – Alor Kecil, Piridiail – Alor Barat Laut, Koligang – Pantar Barat, Batulolong – Alor Selatan, Lakatul-Bukapiting.

Kabupaten Alor pun ditetapkan sebagai salah satu dari lima Kawasan Strategis Pariwisata Nasional ((KSPN) di NTT, yaitu Komodo, Kelimutu, Manupeh Tanah Daru, Alor, dan Nembrala. Daerah yang terletak diujung timur NTT ini, memiliki taman laut terindah dan arena diving serta snorkeling yang sangat menghibur.

Masyarakat Kabupaten Alor sangat majemuk dalam berbagai dimensi kehidupan. Kemajemukan atau pluralitas itu menjadi bagian dari kekayaan Kabupaten Alor.

Beberapa sumber sejarah mengungkapkan bahwa sebelum masuknya agama-agama di wilayah Alor, masyarakat asli telah hidup menyatu berkat ikatan keturunan yang sama, warisan budaya yang sama, warisan tanah suku dan harta material yang sama, perkawinan antar individu dengan keterlibatan keluarga dan suku yang selanjutnya membentuk sebuah keluarga besar.

Relasi sosial antar warga masyarakat wilayah ini diwarnai oleh pola relasi kekerabatan yang begitu kuat. Pola relasi kekerabatan dimaksud adalah ikatan keanggotaan seseorang individu kedalam suatu keluarga yang terbina secara vertikal dan horisontal baik lewat perkawinan maupun lewat keturunan darah.

Kemajemukan yang ada direkatkan oleh semangat saling menghargai, bekerja sama, rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Hal ini dapat ditemukan dan dibaca dari ungkapan – ungkapan tradisional yang banyak berkisah tentang pentingnya membangun kerja sama dan semangat kekeluargaan untuk membangun daerah Kabupaten Alor .

Masyarakat Alor juga menyadari adanya potensi konflik yang terjadi antar kelompok. Karena itu dalam upaya perdamaian atau untuk menjalin persaudaraan, masyarakat sudah sejak lama telah memiliki konsep aliansi tradisional yang disebut “BELA”.

Bela dibentuk melalui upacara yang disebut “BELA BAJA”  yaitu upacara ritual untuk menjalin rasa persaudaraan yang menunjukan adannya rasa afinitas. Ada juga pembentukan aliansi tradisional berdasarkan perjanjian biasa tanpa upacara Bela Baja.

Hubungan yang dibangun berdasarkan Bela mengisyaratkan bahwa antara para pihak harus saling melindungi tidak boleh menciptakan konflik satu sama lain bahkan marah atau mengeluarkan kata-kata yang kasar menjadi bagian yang dilarang. Yang tidak setia pada Bela atau yang melanggarnya dipercaya akan mendapat kutukan berupa berbagai bencana.

Beberapa contoh aliansi tradisional yang terpelihara hingga kini antara lain, antara Alor Kecil dengan Manatutu dan Atauru, Kolana dengan Liukisa, Bungabali dengan Taruamang, Lendola dengan pendatang Atauru, Pantar dengan Kolana serta Galiau Watang Lema dengan Solor Watang Lema dan masih banyak lagi aliansi tradisional yang ada di Daerah ini.

Tara Miti Tominuku” kita berbeda-beda tapi tetap satu, “Ma pi Tominuk Alor Gening Akhung” mari kita bersatu membangun Alor, “Mapi Tomnu Tatangpuny Bang Palik Aten Ahome” mari kita satu hati bergandengan tangan membangun daerah, “Yemai Temira Tadi Nokida Mana Sepir (Alor) Gapai Mikang” mari kita satu hati bergandengan tangan membangun Alor. (***)

 

(Created by: Yoseph Letfa)

Komentar