oleh

Setnov Pamitan Rakyat NTT dan Kabur dari Kejaran KPK

Pada beberapa hari yang lalu Setya Novanto (Setnov) datang ke Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa, (14/11/2017), sekaligus jadi ajang pamitan dengan rakyat NTT yang memilihnya jadi Anggota DPR selama tiga periode (2004-2019).

Kedatangan Setnov pun dijadikan moment terakhir mengunjungi warga pemilihnya, pasalnya pada (10/11/2017) dia ditetapkan kembali sebagai tersangka yang kedua kalinya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk kasus yang sama yaitu korupsi dana proyek e-KTP senilai 2,3 triliun rupiah.

Status kali ini sepertinya tak bisa dihindarinya, karena sehari setelah keluar Sprindik, KPK langsung melayangkan pemanggilan paksa, dilanjutkan dengan jemput paksa karena mangkir dari panggilan sebagai tersangka oleh KPK.

Tim penyidik KPK hendak menjemputnya ke kediamannya, ternyata Setnov tidak berada di tempat alias kabur dari incaran KPK.

Jika benar dia kabur dan dikejar-kejar KPK, hal ini menunjukan preseden buruk dan memalukan bangsa Indonesia.

Karena seorang Ketua DPR bangsa sebesar ini, bisanya tidak taat asas dan hormat pada proses hukum. Sungguh memalukan dan memilukan hati ibu pertiwi.

Sebagai seorang politisi yang saat ini menjabat posisi penting negeri ini, mestinya dia menyerahkan diri atau memenuhi panggilan dan mengikuti proses hukum yang sedang dihadapinya.

Dia harus menjadi contoh bagi proses penegakan hukum yang baik di negeri yang diakui bersama sebagai negara hukum dan menganut sistem demokrasi Pancasila. (Tim Redaksi/RN)

Komentar