oleh

Usai Aniaya Anak Dibawah Umur, Oknum Polres Mabar Terima Uang Tutup Kasus  

RADARNTT,Labuan Bajo – Lagi – lagi oknum anggota Polisi Resort (Polres) Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur(NTT) berulah melakukan tindakan penganiayaan terhadap anak dibawah umur. Aldo (15).

Kalau sebelumnya, warga Labuan Bajo dihebohkan dengan aksi brutal beberapa oknum anggota Polres Manggarai Barat dengan  melakukan penyerangan terhadap siswa SMK Stelah Maris yang sedang mengadakan kegiatan belajar mengajar (KBM). Namun kali ini, seorang oknum anggota Polres Mabar yang bertugas sebagai Babinmas di Desa Macan Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat bernaman Cristian atau biasa disapa Fian ini memukul anak yang masih dibawa umur.

Peristiwa ini terjadi pada, Senin (15/5) sekitar pukul 24. 00 Wita di Translok, Desa Macan Tanggar, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat. Melalui peristiwa naas ini menambah rentetan catatan buruk bagi institusi Polri dan Polres Mabar khususnya.

Orang tua si bocah sangat menyayangkan tindakan brutal oknum anggota polres Mabar tersebut. “saya sebagai orang tua sangat menyesal dengan tindakan polisi ini. Apa alasan dia (polisi, red) memukul anak saya, Kalau anak saya benar benar salah ya katakan apa salahnya dan panggil saya sebagai orang tuanya, jangan main pukul pukul begitu saja. Untung saja ada RT setempat pada saat kejadian, kalau tidak anak saya pasti sudah mati,” ujar orang tua korban, Engel Bertus Jelahu saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler pada, Rabu (17/5).

Berdasarkan keterangan orang tua si bocah dan RT setempat dan juga Janda Andi Raja Kati (saksi mata) ini menjelaskan bahwa kasus ini berawal ketika Babinmas setempat ini melakukan penggerebekan terhadap rumah salah seorang janda di Translok yang diduga sebagai tempat perselingkuhan dan dijadikan rumah “merah”.

Penggerebekan ini menurut Babinsa Fian berawal dari adanya laporan warga bernama Mandril bahwa ada sebuah rumah janda sering didatangi laki laki (untuk berselingkuh) dan sebagai rumah “Merah”. Atas pengaduan tersebut, Babin Fian ini langsung mendatangi TKP. Pada saat penggerebekan, Cristian atau Babin Fian ini menemukan dua orang dari luar di dalam rumah janda tersebut yakni Alfonsius Tanggung dan si bocah Aldo (15) sedang duduk di ruang tamu.

Polisi Fian yang bertugas sebagai Babinkantibmas ini melakukan penggerebekan tanpa ditemani oleh anggota Polisi yang lain dan parangakat desa atau tokoh masyarakat setempat. Dan pada waktu itu hanya ditemani oleh salah seorang sahabatnya yang bukan polisi yakni Lamber.

Anehnya sampai di dalam rumah, polisi ini langsung menginterogasi si bocah yang masih dibawa umur dan bukanya menginterogasi si Janda bernama Andi Raja Kati dan Alfonsius Tanggung orang yang dicurigai melakukan tindakan perselingkuhan. Dan yang ikut menginterogasi juga adalah sahabatnya Babin ini yakni si Lamber.

Setelah menginterogasi Polisis Fian ini langsung melayangkan pukulan ke bagian wajah si bocah. Pada saat aksi pemukulan, Alfonsius Tanggung dan RT setempat menyaksikan kejadian naas tersebut.

Untuk diketahui Alfonsius Tanggung adalah Majikannya si Aldo. Karena tiap hari si bocah ini sering bantu bantu Alfonsisu kalau bekerja seperti mengangkut kayu yang sudah di potong pakai mesin sensor. Pada saat pemukulan terhadap si bocah, Alfonsius sempat merontah dan mengatakan jangan pukul si Aldo. Karena Aldo tidak mengetahui masalah ini. Namun, oleh polisi ini langsung membentak Alfons dan terus menginterogasi si bocah yang hanya duduk diam dan menahan air mata.

Bahkan saat anak ini hendak memanggil orang tuannya yang berada tidak jauh dari TKP hanya 50 meter, namun tidak diijinkan oleh polisi tersebut.  Hal inilah yang membuat orang tua korban menangis dan marah karena anaknya dipukul tanpa sebab. “antara anak saya dan anak mama Dunung (janda) itu teman akrab karena mereka seumuran. Dan mereka ini tetangga, sejak kecil bermain bersama dan kadang tidur di sana dan giliran mereka.

Malam itu anak saya pulang cas HP di rumahnya pak RT. Pas pulang dia singgah di rumah mama dunung karena dia melihat ada teman kerja dia di sana akhirnya dia singgah. Pas dia masuk tiba tiba polisi ini grebek dan pukul,” ujar ayah korban.

Rupanya ada yang janggal dengan kerja Babin Desa Macan Tanggar ini. Pasalnya berdasarkan keterangan si Alfonsius Tanggung, pasca penggerebekan polisi ini tidak mengamankan si Janda dan si Aflons yang dituduh berselingkuh. Justru malam itu, polisi ini meminta uang senilai 2 juta rupiah kepada si Alfons. Uang ini untuk menutupi kasus tersebut agar jangan di bawa ke Polres Mabar. “jadi masalahnya saya juga tidak tahu. Tapi malam itu mereka minta uang 2 juta rupiah. Katanya untuk tutup kasus ini. Tapi saya tidak ada uang. Tapi mereka paksa saya katanya kalau begitu 1, 5 juta saja. Kau pakai saja orang punya uang kalau sekarang belum punya uang. Tapi malam itu saya tidak punya uang. Tapi pas hari Selasa (16/5) saya bersama teman saya si Dias (anak dari RT setempat, red) membawa uang tersebut ke rumahnya. Karena dia telpon terus dan menanyakan uang tersebut,” ujar Alfons saat dikonfrimasi, Rabu (17/5).

Saat dikonfirmasi secara terpisah, Babin Fian membenarkan penggerebekan yang terjadi malam itu. “io benar itu penggerebekan karena berawal dari adanya laporan warga bernama Mandril bahwa ada sebuah rumah janda sering didatangi laki laki. Akhirnya saya ke sana,” ujarnya. Namun, Babin Fian membantah jika ada pemukulan terhadap bocah dibawa umur. Sementara RT setempat memberikan keterangan jika Aldo dipukul.

“saya tidak memukul saya hanya menepis dipipinya,” kelitnya.  Sementara itu, saat ditanya terkait dengan uang sejumlah 1,5 juta rupiah tersebut, Fian menjelaskan jika uang tersebut sebagai ucapan terimakasi dari Alfonsius karena kasus ini tidak dibawa ke Polres Mabar. “io uangnya masih ada di sini, uang itu dikasih sama Alfonsius sebagai ucapan terimakasih, karena kasus ini tidak diteruskan,” ujarnya. Babin ini pun membantah jika dirinyalah yang meminta uang tersebut. “saya tidak meminta. Alfons sendiri yang kasih, uang masih ada di sini,” ujarnya.

Selang beberapa hari pasca kejadian tersebut, yakni pada, Rabu  (17/5) sekitar pukul 19. 00 Wita, Babin Fian dan beberapa anggota masyarakat lainnya meminta maaf kepada orang tua si bocah karena telah melakukan tindakan pemukulan yang menyebabkan anak dibawa umur tersebut sedikit mengalami gangguan mental karena marasa takut untuk keluar rumah. Polisi Fian ini pun harus merogoh empat ratus ribu rupiah (400. 000,-) untuk memberikan kepada si bocah sebagai denda adat. “tadi kemarin malam pa Fian sudah datang ke rumah untuk meminta maaf. Dia memberikan uang 400 ribu,” ujar orang tua korban saat dikonfirmasi pada, Jumat (19/5) .

Meski sudah minta maaf namun kasus ini rupanya agak merembes. Pasalnya, kepala dusun setempat, Hendi Lihi dan RT setempat, Frans Dias berencana akan melanjutkan kasus ini keproses hukum. Hal ini untuk membuktikan bahwa apakah memang benar bahwa rumah janda yang digrebek oleh polisi fian itu adalah rumah “merah” sebagaiman yang disebut oleh Fian dan pelapor Mandril. “ kami akan meneruskan kasus ini keproses hukum. Kami ingin mengetahui bahwa apakah aduan dari Mandril bahwa di dusun dan RT kami itu ada rumah “merah”. Jika memang ada kami akan laporkan si pemilik rumah “merah” tersebut. tapi kalau tidak, kami sebagai warga disini merasa tercemar. Karena kami disini saja tidak tahu ada rumah “merah” di dusun dan RT kami. Kami juga akan meminta bukti bukti apa saja yang dimiliki oleh Mandril dan polisi Fian terkait dengan rumah merah seorang janda di Translok, Blok B tersebut, ujar ketua RT setempat, Frans Dias.

Menurutnya, penggerebekan malam itu tidak melibatkan kepala dusun setempat. Meskipun RT ada pada saat itu, namun tidak ada pemberitahuan sebelumnya bahwa akan ada penggerebekan terhadap rumah seorang janda yang diduga rumah “merah” tersebut. selain itu, pihak setempat juga sesalkan proses penggerebekan tersebut karena tidak membawa orang yang diduga selingkuh dan beraktivitas di rumah “merah” tersebut. “katanyakan penggerebekan, tapi kenapa dia tidak membawa orang yang ada pada saat itu. Malah polisinya minta uang 2 juta untuk tutup mulut.kan aneh bagi kami. Kalau dia ingin menertibkan masyarakat kenapa dia minta uang sebagai tutup mulut,” ujarnya.  (*Rio/RN)

 

Komentar