oleh

Warga Manggarai di Bali Pentaskan Tari Caci

-Nasional, News-1.384 views

DENPASAR – Warga Bali asal Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mementaskan tarian caci dalam memeriahkan Dirgahayu RI ke – 72 Republik Indonesia di Nusa Dua, Badung, Bali pada, Minggu (20/8).

Ketua Ikatan Keluarga Manggarai Nusa Dua, Bali, Benny Hamu menjelaskan bahwa tarian ini sengaja digelar sebagai bentuk keikutsertaan dalam memeriahkan HUT kemerdekaan Indonesia. selain itu, dipentaskan untuk mempererat kekeluargaan antara warga Manggarai yang tinggal di Nusa Dua, Bali.

Pantauan media ini, Acara begitu meriah dan disaksikan ribuan warga Manggarai yang merantau di Pulau Dewata juga puluhan wisatawan asing lainnya. Baik pementas caci dan penonton, semuanya menggenakan pakayan adat tradisional asal Manggarai.

Untuk penari caci semuanya dari kalangan laki laki dan mengenakan celana panjang warnah putih, kain songke, destar, tubu rapa, selendang dan aksesoris lainnya dan tidak mengenakan baju. Tarian perang itu mampu menyedot perhatian tidak hanya warga keturunan NTT di Bali, namun juga masyarakat lainnya di Bali.

Tarian ini melibatkan kurang lebih 100 orang pemain caci. Pentas ini mempertemukan dua kelompok pemuda. Mereka membentuk kelompok masing-masing siap untuk berperang satu lawan satu dengan berbalas pukul.



Mereka secara bergiliran berperang bak kesatria satu lawan satu dengan telanjang dada. Sembari mengenakan ikat kepala dan sarung songke saat peperangan berlangsung peserta lainnya memberi semangat berperang. Sementara dari masing-masing kelompok sembari menari dan menyanyikan lagu-lagu daerah khas Manggarai.

Ketika pertempuran terjadi di gelanggang yang disediakan, peserta membekali diri dengan senjata berupa tameng (nggiling) yang terbuat dari kulit kerbau dan tangan lain menggenggam pecut (koret terbuat dari anyaman bambu). Selain itu, mereka juga membekali diri dengan senjata yang disebut larik terbuat dari anyaman kulit kerbau yang kering.

Dengan senandung mereka saling menantang, sampai akhirnya terjadi peperangan antar masing-masing kelompok pemuda. Satu kelompok dengan kelompok lainnya, sama-sama memperagakan tarian. Tangan, kepala, dan kakinya bergerak seirama lagu yang dinyanyikan.

Aturan berperangnya, pemuda yang mendapat giliran menyerang menggunakan senjata larik menyerang ke arah tubuh bagian perut ke atas atau sampai wajah.

Sedangkan pemuda yang mendapat serangan berusaha bertahan menggunakan tameng dan senjata pecut melindungi serangan lawan. Demikian juga sebaliknya, ketika giliran pemuda yang bertahan tadi, balik menyerang dengan senjata larik sementara pemuda lawannya gantian bertahan dengan tameng dan pecut.

Berbekal kemampuan yang dimiliki masing-masing pemuda memang permainan ini berisiko luka bagi yang tidak lincah untuk menghindari pecutan. Menariknya, meski tarian ini tampak keras hingga lawan terluka berdarah-darah, namun tidak ada dendam di antara mereka.

Selain tarian caci, Warga Manggarai ini juga mempertunjukan tarian “Ndundu Ndake”. Tarian ini dibawakan oleh gabungan mahasiswi, pelajar, dan para ibu yang masih bersemangat. Ndundu Ndake adalah tarian khas asal Manggarai untuk penyambutan tamu. tarian ini biasanya selalu dibawakan oleh perempuan.

Salah seorang mahasiswi yang ikut ambil bagian dalam tarian Ndundu Ndake mengaku sangat senang bisa ambil bagian dalam tarian tersebut karena dizaman sekarang anak anak muda semuanya sok serba gaul sehingga melupakan tarian adat dan budaya asal. “saya mengajak anak muda zaman sekarang agar tidak boleh melupakan tarian adat yang merupakan warisan nenek moyang kita. Karena itu mari kita melestarikan tarian adat kita,” ujarnya. (Rio)

Komentar

Jangan Lewatkan