oleh

Ada ‘Perintah Khusus’ Membelokkan Dana BOS di SD Inpres Liliba Kota Kupang

Kepala Sekolah SDI Liliba Di Kediamannya.

RADARNTT, Kupang –Teka teki dugaan skandal penyelewengan di SD Inpres Liliba Kotamadya Kupang memang belum berujung, namun tim investigasi radarntt terus berupaya menyisir modus operandi dugaan penyelewengan dana BOS di SD tersebut .

Berdasarkan informasi serta data valid dari seorang guru dan meminta identitasnya dirahasiakan menceritakan, bahwa nota nota belanja barang oleh kepala sekolah sering digelembungkan dengan alasan untuk membayar pajak. Bila dianggap kentara maka kepala sekolah meminta bendahara merubah nota dengan cara menghubungi pemilik toko serta menyuruh memasukan dalam pencatatan belanja barang habis pakai.

Bila ada selisih uang Rosina Menoh lantas menyuruh mensiasati pencatatan dengan alasan untuk membayar teman teman atau untuk transport pergi ke dinas, ujar guru tersebut dengan nada geram.

Lebih lanjut sumber itu menjelaskan secara detail, bahwa Kepala Sekolah SDI Liliba Rosina Menoh pernah mengakui selalu memberi sejumlah setoran uang ke orang dinas yang diambil dari dana BOS. Hal yang mencengangkan tersebut menurut sumber itu adalah ketika Rosina memberi perintah secara blak blakan, “Sebagai kepala sekolah saya harus setor, kita harus bisa menjaga kecuali guru biasa itu tidak apa apa.”

Dalam pencatatan pengeluaran keuangan dana BOS khusus setoran ke oknum pejabat dinas, kepala sekolah SDI Liliba melarang bendahara mencantumkan nama dalam pelaporan, tutur sumber itu.

Ditegaskan oleh sumber itu bahwa bendahara sempat menolak permintaan Rosina Menoh, “Dinas sudah melarang kami memberi setoran uang.” Namun hal itu langsung dibantah mentah mentah Kepala Sekolah SD Liliba dengan menjawab, “Orang dinas selalu minta, tidak mungkin orang dinas membuka kedok mereka sendiri, ibu harus tahu itu.”

Menurut sumber kuat itu penjelasan Rosina kepada bendahara, bahwa barang barang harga 250 ribu ke bawah itu merupakan inventaris dan harga 250 ribu ke atas dijadikan aset, mereka yang periksa itu hanya minta mengisi pelaporan saja bila ada pemeriksaan.

Bila ada pertanggungjawaban dana BOS biasa hanya mengisi format lalu dicatat dan pelaporan itu tidak dibawa, ujar Rosina kepada Bendahara.

Kemudian hal lain juga dijelaskan sumber itu, bahwa setiap memesan buku dari beberapa penerbit selalu mendapat bonus namun Rosina melarang bendahara menceritakan kepada siapapun.

Di lain kesempatan ada seorang guru di SDI Liliba yang menyatakan secara tegas, bahwa kepala sekolahnya memberikan perintah kepada bendahara keuangan, bila belanja kebutuhan sekolah yang bernilai besar diambil alih kepala sekolah sedangkan yang belanja yang kecil itu diurus bendahara BOS.

Untuk diketahui selama kepemimpinan Rosina Menoh, bendahara keuangan dana BOS SD Inpres Liliba sudah mengalami pergantian bendahara sebanyak tiga kali, mantan bendahara yang pertama kini menjabat kepala sekolah SD Naimata, mantan bendahara kedua mengundurkan diri dan saat ini masih menjadi staf pengajar di SDI Liliba dan bendahara yang ketiga  baru menjabat mulai bulan Februari tahun ini.

Beberapa guru yang ditemui wartawan mengatakan secara serempak siap menjadi saksi, manakala ada pemeriksaan intensif terkait dugaan penyelewengan ini termasuk bila mengarah ke ranah hukum.

Pasca mencuat tudingan, adanya penyelewengan pengelolaan dana BOS, bendahara keuangan SDI Liliba yang berinisial RK mengaku kepada sejumlah rekannya, bahwa dirinya mengalami tekanan dari seseorang via seluler diikuti teror di kediamannya dan hingga saat ini yang bersangkutan sulit dihubungi wartawan.

Tim media berupaya mengkonfirmasi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang (Selasa, 26/06/2018) terkait beberapa fakta  ‘perintah khusus’ Rosina Menoh  kepada bendahara BOS, namun sampai di dinas dicegat seorang pegawai yang mengatakan, “Pak Kadis sedang ada di kantor walikota.” (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan