oleh

Aggota DPRD Tuding Bupati Malaka Tidak ‘Transparan’ Terkait Program RPM

RADAR NTT, Kupang – Krisantus Yulius Seran Anggota DPRD MALAKA yang sekaligus juga ketua Komisi II menyampaikan keluhannya kepada radarntt (Rabu, 14/3/2018) terkait tidak transparannya pengelolaan dana Revolusi Pertanian Malaka atau yang dikenal dengan istilah RPM selama dua tahun anggaran berturut turut yakni 2016 dan 2017. Ia mengatakan, pertama pemerintah daerah Malaka sulit sekali untuk transparan terkait kegiatan teknis dan pengelolaan anggaran program RPM ini. Dan yang kedua, “mereka yang berkoar koar bahwa program ini berhasil mana hasilnya.” sambungnya.

Yulius Seran menjelaskan, kalau pelaksanaan balik lahan di tanah masyarakat dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan program unggulan bupati itu tidak tepat karena bukan jumlah produksi komoditi yang dihasilkan dari Program RPM ini.

Selanjutnya ia menegaskan, harga gabah tetap mahal, harga jagung juga mahal itu tanda bahwa komoditi komoditi itu tidak melimpah di masyarakat yang artinya produk hasil pertanian tidak bertambah.

“Coba masalah bawang pemerintah hanya membantu memasarkan sekitar 20 ton dari jumlah 500 ton hasil panen bawang dari Program RPM ini.”terangnya.

Ia menambahkan , sebagai anggota DPRD mempertanyakan dimana keberhasilan program RPM ini,” saya heran program tidak ada hasil namun anggaran minta tambah, contoh untuk bawang dianggarkan 5 milyar pemerintah minta dana ditambah menjadi 12 Milyar untuk tahun anggaran 2018. “pungkas Yulius Seran.

Seperti yang di kutip dari pos kupang.com (26/2/2018)bahwa Program Revolusi Pertanian Malaka (RPM) yang dicanangkan Bupati Malaka, dr. Stef Bria Seran semakin meyakinkan dari waktu ke waktu.

Diawali dengan geliat budidaya bawang merah 50 ha yang telah menghasilkan hampir 500 ton bawang merah di beberapa desa, kini musim tanam tahun 2018 semakin diyakinkan lagi dengan tampilan pertumbuhan jagung dan padi.

Program RPM ini mengembangkan sembilan komoditas utama yaitu, bawang merah, padi sawah, jagung, kacang hijau, pisang kapok, itik, kambing dan ikan bandeng. Semua komoditas ini telah direncanakan target dan teknologi, geliat budidaya bawang merah 50 ha telah menghasilkan hampir 500 ton bawang merah di beberapa desa, seperti Desa Fafoe, Oan Mane, Umatoos dan Sikun, musim tanam 2017. Kini musim tanam tahun 2018 semakin diyakinkan lagi dengan tampilan pertumbuhan jagung dan padi.

Pogram RPM tidak semata hanya melalui gerakan himbauan dan kucuran dana semata, tetapi yang terpenting adalah program ini telah diarahkan oleh grand design yang disusun sebelumnya serta pendampingan/pengawalan teknis yang ketat oleh penyuluh lapangan dan 10 orang tenaga ahli RPM. (Tim/RN)

Komentar