oleh

Cerdaskan Anak Bangsa,  Daur Ulang Sampah Jadi Alat  Berhitung

RADARNTT,  Kupang – Daur Ulang Sampah dewasa ini cukup membumbing didunia usaha dan undustri bahkan bisa mendatangkan penghasilan yang hampir tidak beda jauh dengan produk baru, keunggulan dari daur ualang sampah ini memiliki nilai ekonomi yang cukup diperhitungkan didunia bisnis serta bahan produksinya mudah didapat.

Tak hanya itu, daur ulang sampah ternyata bisa berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa khususnya pengetahuan matematika  yakni penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian,  demikian kata salah satu guru SD Inpres Liliba Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT), Abiyati Isu, S. Pd saat dihubungi radarntt. co via seluler,  Jumat 29/03/2018.

Membuat anak- anak bisa berhitung  penjumlahan, pengurangan,  perkalian dan pembagian, jelas Yati ternyata tidak hanya terpaku pada konsep dan rumus dasar matematika saja, akan tetapi media pembelajaran lain yang mudah dipahami anak-anak itu lebih tepat dan cepat implementasinya.

Guru senior sekaligus pegiat daur ulang sampah ini,  yang sebelumnya sering membuat aksesoris, tas, vas bunga, tempat tisu, dan masih banyak lagi hasil karyanya, dengan tujuan mengasa keterampilan anak serta bisa menjual hasilnya untuk kepentingan bersama, lewat program literasi keuangan siswa yang digagasnya. Ingin menampilkan hal yang unik namun bernilai edukasi sehingga tekat inilah yang memotivasi dirinya menciptakan alat pembelajaran daur ulang sampah, yang bisa dimanfaatkan oleh guru sebagai media pembelajaran.

Melihat potensi sampah yang mudah didapat lalu disingkronkan dengan psikologi anak dalam mengenal angka dan dijabarkan lewat berhitung, baik penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.  Yati Isu berpendapat bahwa permainan yang menyenangkan anak, maka dampak dari permainan itu pasti akan tersimpan rapih dalam memori anak yang konon masih jernih.

“Saya yakin anak-anak pasti lebih cepat paham kalau di ajarkan dengan metode permainan yang menyenangkan, seperti yang saya buat saat ini yakni media pembelajaran dengan menggunakan bahan daur ulang sampah.” ujar Yati.

Alat berhitung yang dibuat dari daur ulang sampah ini,  ternyata sudah dipresentasikan dibeberapa Kabupaten melalui kegiatan  implementasi pendidikan kecakapan hidup dan literasi keuangan yang dilaksanakan di Hotel Neo Aston beberapa waktu lalu, saat dirinya hadir sebagai nara sumber pada kegiatan tersebut.

Lebih jauh dikatakannya,  daur ulang sampah dijadikan sebagai alat pembelajar terutama operasi perhitungan, sebetulnya merangsang anak terutama kelas bawah yakni kelas  satu sampai tiga sekolah dadar. Pasalnya kelas tersebut tingkat kemampuan penyerapan pengetahuan harus disajikan lewat metode permainan yang bernilai edukasi.(Tim/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan