oleh

Dua Jam SD Inpres Liliba Dalam Ketegangan, Saat itu Dinas Pendidikan Ada Dimana?

Ket: Abiyati Isu mewakili Dewan Guru SD Inpres Liliba suarakan aspirasi secara spontan pada Hari Selasa pagi kemarin (04/09/2018).

Radar NTT, Kupang — Ada apa dengan SD Inpres Liliba? Demikian sekian banyak orang bertanya, baik para orang tua murid, para guru dan masyarakat awam.

Mencuatnya persoalan dana BOS yang disorot media ini pada tanggal 17 Juni 2018 rupanya membutuhkan penyelesaian secara komprehensif, belum adanya sikap yang jelas dan tegas Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikannya menimbulkan rentetan gejolak para guru di SD Inpres Liliba yang mencapai anti klimaks pada Hari Selasa Kemarin (04/09/2018).

Kejadian itu dipicu sebagian para guru mengancam mogok mengajar bilamana Rosina Menoh Sang Kepala Sekolah tetap memaksakan kehendak memecat bendahara BOS Rinjani Kapiluka.

Pada apel pagi di Hari Selasa kemarin sekitar pukul 07.15 WITA setelah Rosina Menoh memimpin apel pagi, seorang guru yang bernama Abiyati Isu berorasi menyuarakan aspirasi para guru yang selama ini menimbulkan resah di SD Inpres Liliba.

Dalam orasi itu secara gamblang dikatakan beberapa tuntutan fundamental yang dianggap sebagian besar para guru sebagai jawaban atas pokok permasalahan yang sedang terjadi. Sikap arogan Kepala Sekolah memecat Bendahara BOS tanpa alasan yang jelas dan tanpa mendengar pertimbangan yang diberikan dewan guru bersama komite sekolah menimbulkan kegeraman, dewan guru merasa dilecehkan karena rapat bulanan di Hari Jumat pada tanggal 31 Agustus 2018 tidak ada keputusan aklamasi baik dari dewan guru maupun komite sekolah yang mengamini tindakan kepala sekolah memecat bendahara BOS.

Tak cukup sampai disitu dewan guru secara lantang menyuarakan pencopotan Rosina Menoh sebagai Kepala Sekolah di SD Inpres Liliba, menurut para guru keberadaannya menimbulkan ketidakharmonisan diantara guru dan pegawai.

Sorak sorai dukungan dari sebagian besar para guru dan murid terhadap pernyataan Abiyati Isu mendapat jawaban langsung dari Sang Kepala Sekolah yang mengatakan, Saya datang dengan SK, kalau saya dicopot saya menunggu SK, kalau soal pemecatan bendahara mari kita bicara dalam ruang guru sembari meminta murid murid untuk tenang dan kembali ke kelas.

Jawaban singkat dari Rosina Menoh urung membuat sikap para guru melunak, namun justru membuat para guru bersikeras untuk meminta klarifikasi langsung yang disampaikan secara terbuka dihadapan peserta apel pagi menyangkut beberapa pokok persoalan. Abiyati menyatakan, Kami meminta ibu kepala sekolah untuk tetap berdiri di depan dan mengklarifikasi, kami tidak mau lagi masuk dalam ruang kelas, supaya publik tahu apa yang menjadi keputusan, dan meminta kepala sekolah untuk menarik kembali keputusan pemecatan terhadap bendahara BOS SD Inpres Liliba yang cacat prosedural.

Tekanan maha hebat yang sekonyong konyong datang dari para guru dan murid murid SD Inpres Liliba akhirnya membuat Rosina Menoh bergeming, setelah para murid meneriaki kepala sekolah untuk segera keluar ruangan, dalam tempo kurang dari 3 Menit akhirnya Kepala Sekolah mengabukan salah satu tuntutan dewan guru untuk mencabut keputusan pemecatan bendahara BOS. Kalau memang itu permintaan dewan guru yang disampaikan melalui ibu Abiyati maka saya berencana membuat surat pembatalan dan saya menarik kembali keputusan pemecatan itu sampai ada keputusan selanjutnya, ini saya menyatakan secara lisan dan ini masih saya batalkan secara lisan, saya pikir hanya itu yang saya bisa sampaikan dan saya minta anak anak tetap masuk kelas dimana hari ini kita tetap belajar, ucap Rosina dengan nada tenang.

Sontak jawaban Kepala sekolah tersebut ditanggapi Abiyati perwakilan guru dengan mengatakan secara lugas, Terima kasih Ibu Kepala Sekolah yang telah membuat keputusan untuk menarik kembali surat pemecatan terhadap bendahara BOS Ibu Rinjani Kapiluka, tuntutan kami sudah dijawab didepan dewan guru, anak anak dan didepan pers.

Kemudian dalam orasinya Abiyati menandaskan, “Untuk itu hari ini Ibu Rinjani masih berhak untuk menjadi bendahara BOS SD Inpres Liliba. Tetapi kami masih menuntut, dengan kehadiran Ibu Kepala Sekolah SD Inpres Liliba Rosina Menoh di sekolah ini menciptakan hubungan yang tdak harmonis antara guru dan pegawai, sekolah ini menjadi hancur padahal dahulu sekolah ini dikenal sebagai sekolah ramah anak yang berbasis nilai nilai kehidupan, sekolah ini dahulu sekolah yang berkarakter menjadi tidak baik lagi di mata pers dan dimata dunia, sekolah tidak bisa aman lagi karena hubungan tidak harmonis antar guru, tidak bisa mengajar dengan baik karena ada grup grup, ada guru yang mendukung dan tidak mendukung sehingga hubungan antar guru semakin tidak harmonis lagi.”

“Untuk itu masih ada satu tuntutan kami lagi kami minta kepada Bapak Walikota Kupang untuk mencopot jabatan Ibu Rosina Menoh Sebagai Kepala Sekolah SD Inpres Liliba agar proses belajar mengajar di sekolah ini bisa aman sesuai yang diamanatkan,” tegas guru senior itu.

Pantauan media radarntt dilapangan saat gejolak itu terjadi, tidak ada satupun dari unsur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang untuk meredakan situasi yang sedang terjadi. Diketahui Pengawas Pembina SD Inpres Liliba Salomi Dethan yang pada Hari Sabtu Tanggal 1 September 2018 yang melakukan sosialisasi K 13 sama sekali tidak menyinggung kericuhan dalam rapat dewan guru bersama komite yang terjadi sehari sebelum kunjungan pengawas ke sekolah itu.

Demikian pula saat peristiwa ancaman mogok mengajar terjadi, lagi lagi lagi Dinas Pendidikan tidak segera turun tangan untuk mengatasi, namun justru pihak Kelurahan Liliba yang mengambil peran memediasi gejolak yang sedang terjadi di lembaga pendidikan ini. Hal inilah yang menyisakan tanda tanya besar bagi publik atas tidak responnya terhadap dinamika yang sedang terjadi di Sekolah Dasar yang cukup berprestasi ini.

Berdasarkan catatan, dokumen, data audio dan data audio visual hasil investigasi yang dimiliki media ini cukup membuktikan gejolak yang terjadi di SD Inpres Liliba selama ini tidak bisa dianggap main main dan dianggap enteng.

Lembaga pendidikan ini menurut sebagian besar kalangan termasuk Komisi IV DPRD Kota sudah tidak kondusif, rasa curiga, rasa tidak percaya tertanam dalam benak masing masing pihak yang dengan kata lain telah terjadi pro dan kontra diantara para guru. (TIM/RN)

Komentar