oleh

Forum Solidaritas Untuk Kemanusiaan NTT Kecewa Atas Isi Moratorium Penghentian Pengiriman Pekerja Migran

Ardi Milik, Koordinator Umum Forum Solidaritas Untuk Kemanusiaan NTT

 

RADARNTT, Kupang – Menjelang Hari Ulang yang ke – 60 Provinsi Nusa Tenggara Timur, Forum Solidaritas Untuk Kemanusiaan NTT menggelar Konferensi Press di Kantor Institute Research of Governance and Social Change (IRGCS) pukul 18.00 kemarin (Selasa, 18/12/2018).

Dalam keterangan persnya Koordinator Umum Forum Solidaritas Ardy Milik menegaskan, “Tidak seperti biasa kita merayakan ulang tahun, dengan Kado, kue maupun balon kami berpikir bahwa kita perlu rayakan HUT NTT dengan melakukan suatu peringatan malam refleksi terhadap persoalan persoalan utama yang selama ini menjadi mimpi buruk bagi pemerintah, gereja dan masyarakat.

Seperti tingkat korupsi yang makin tinggi, kemiskinan, perdagangan manusia, ketidakadilan, penggangguran, guru honorer, penyerobotan lahan , pelanggaran HAM, isu lingkungan, paparnya.

Hari ini NTT sudah menerima 100 jenazah pekerja migrant Indonesia , Tahun 2017 ada 64 jenazah, lalu 60 jenazah Tahun 2016, dan sebanyak 50 jenazah pada Tahun 2015.

Angka angka ini dipaparkan disini bukan sekedar kita telah menerima banyak jenazah, yang paling penting bagi pemerintah provinsi, kabupaten/kota dan gereja,

Lalu masyarakat harus bergerak bekerja keras untuk menuntaskan semua ini?, sambung Ardi.

Inti dari malam refleksi ini tujuannya membangun kesadaran multi dimensi, multi pihak. Kegiatan refleksi ini akan diikut oleh 50-an organisasi, tokoh agama, tokoh masyarakat dan semua pihak terkait.

Ketua Forum Solidaritas Untuk Kemanusiaan NTT itu juga menyatakan, “Kami sangat kecewa terhadap isi SK Moratorium No. 357/KEP/HK/2018, tentang pemberhentian pemberangkatan calon pekerjaan migran Indonesia asal NTT keluar Negeri, bahwa dalam SK tersebut tidak ada satu katapun yang menyebutkan tentang perdagangan orang.”

Padahal Tujuan dalam SK tersebut adalah memberhentikan migran yang mengakibatkan perdagangan orang, tandasnya.

“Kita harus tahu bahwa perdagangan orang itu, tidak dikategorikan hanya karena legal atau ilegal yang selama ini menjadi sorotan. Banyak pihak yang ngotot dikategorikan legal, padahal perdagangan orang itu ilegal secara administratif, ilegal tapi tidak dikatakan perdagangan orang. Bagi kami itu suatu yang sesak. Maka kami berpikir bahwa mereka mengabaikan kemanusiaan, hanya karena urus bisnis mereka saja, sehingga rela mengorbankan nyawa saudara dan saudari kita yang dari kampung,” ungkap Ardi Milik.

Maka dari itu pada hari ini (Rabu-Red), Tanggal 19 malam pukul 18.00 kami akan melakukan aksi malam refleksi NTT, untuk memperingati Hari Ulang Tahun NTT yang ke – 60, didepan kantor Gubernur NTT, tambahnya. (AA/UM/SET/RN)

Komentar