oleh

Gerakan Literasi untuk Perubahan

RADARNTT, Kupang – Komunitas Buku Bagi NTT menggelar diskusi publik bertempat di aula Perpustakaan Daerah NTT dengan mengusung tema “Gerakan Literasi untuk Perubahan”, Selasa, (14/4/2018) pekan lalu.

Diskusi publik atau “Baomong Literasi” ini dimoderatori oleh Wilibrodus Marianus Bata (penggagas komunitas Buku Bagi NTT) bersama empat pemateri, yaitu: Ir. Frederik J.W. Tielman, M.Si (Kepala Dinas Perpustakaan Daerah NTT), Muhammad Ridwan Alimuddin (pendiri Armada Pustaka Mandar/Perahu Pustaka dan aktivis Pustaka Bergerak Indonesia), Agriani Stevany Kadiwanu (relawan Buku Bagi NTT, pengelola Namu Angu Reading Space dan alumni Indonesia Mengajar) serta Simon Seffi (pengajar, aktivis literasi, pengelola Lopo Belajar Suku Adat Elan – Boy – Tuname Nenomana di Fatule’u Barat, Kabupaten Kupang).

Ada juga penampilan musikal sasando dari Vivian Tjung – Duta Wisata Indonesia 2016.

Diskusi publik ini dihadiri lebih dari 150 orang peserta dari berbagai latar belakang. Diskusi berlangsung seru selama kurang lebih dua jam.

Ada berbagai pertanyaan yang dilontarkan peserta kepada para pemateri saat sesi tanya jawab. Antusiasme peserta dalam mengikuti diskusi publik ini sangat tinggi, walaupun hari telah beranjak siang, peserta masih banyak yang mau bertanya dan berdialog dengan para pemateri.

Wilibrodus menjelaskan, secara umum persoalan yang dibahas terkait bagaimana membangun semangat kolaborasi dalam upaya mengembangkan gerakan literasi di seluruh NTT.

“Buku Bagi NTT adalah wujud nyata kepedulian anak muda NTT untuk mengatasi kesenjangan mutu pendidikan di daerahnya sendiri melalui gerakan sederhana: membaca dan donasi buku”, kata Wilibrodus.

Ia menambahkan dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, para relawan komunitas Buku Bagi NTT telah bekerja secara sukarela, bahu membahu di berbagai wilayah, berkiprah menumbuhkan gerakan literasi di seluruh penjuru Nusa Tenggara Timur.

Berlandas semangat kolektif dan pelayanan, komunitas ini kini menyatukan ratusan relawan dan penggerak literasi yang tersebar di seluruh penjuru NTT (21 kabupaten), 10 kota di luar NTT hingga luar negeri (Hong Kong).

“Sebagian besar relawan adalah mahasiswa, bahkan di Hong Kong, penggerak komunitas ini adalah para buruh migran asal NTT”, ujar Wilibrodus.

Diuraikannya, terhitung hingga Februari 2018, Buku Bagi NTT telah menyalurkan lebih dari 100.000 buku kepada sekitar 200 taman baca dan sekolah-sekolah di NTT.

Seiring perkembangan, kata Wilibrodus, komunitas ini juga menerima permintaan dan turut menyalurkan buku ke sejumlah taman baca di luar NTT antara lain ke Sumatera, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Jawa Timur, NTB hingga Manokwari, Papua.

Setelah sekian lama berkiprah secara terpisah di banyak tempat, lanjut Wilibrodus, tahun ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-4, komunitas Buku Bagi NTT melaksanakan sebuah perjumpaan akbar untuk menyatukan semua relawan yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, sekaligus menghubungkan para pengelola Taman Baca Masyarakat yang selama ini telah bersinergi dengan Komunitas Buku Bagi NTT.

“Temu akbar ini sedianya menjadi wadah jejaring dan kolaborasi yang pertama kalinya digelar pada 13-15 April 2018, di Kupang, Nusa Tenggara Timur”, terang Wilibrodus.

Dalam acara temu akbar, para relawan mengagendakan pembahasan sejumlah hal penting demi keberlanjutan komunitas, khususnya untuk merumuskan sistem pengelolaan organisasi sosial serta pembahasan kurikulum untuk rumah baca.

Ada juga seminar untuk publik bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan Provinsi NTT yang menghadirkan praktisi dan aktivis literasi, sejumlah forum diskusi, serta kunjungan ke Taman Baca Masyarakat di pelosok Kupang, NTT.

Partisipasi masyarakat dalam pendidikan adalah hal penting dan patut digaungkan terus-menerus, sebab cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa bukanlah tugas pemerintah semata, melainkan tugas kita semua.

Wilibrodus mengatakan Gerakan semesta seperti Buku Bagi NTT tumbuh karena kepedulian yang sama untuk membawa perubahan melalui pendidikan. Perjalanan selama 4 tahun tentu belum seberapa, waktu yang masih sangat sumir untuk sebuah komunitas sosial dan orang-orang yang bergerak secara sukarela bukan untuk penghargaan, bukan untuk pujian, hanya sebuah pelayanan sederhana.

“Namun di balik kesederhanaan ini kami mengusung sebuah cita-cita besar, kami punya visi menumbuhkan sedikitnya satu rumah baca di tiap kampung, mewujudkan generasi NTT yang cerdas, membuktikan bahwa anak muda NTT berdaya, mampu melahirkan solusi atas masalah-masalah yang ada dalam keseharian kami. Kami harus jadi pemeran utama di tanah sendiri, mercusuar untuk Indonesia dan dunia. Salam literasi! Ayo kerja bersama!”, pungkas Wilibrodus. (Yoan/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan