oleh

Ima Blegur Gagas Solusi Atasi Pengangguran, Kemiskinan dan PAD Kabupaten Alor

RADARNTT, Kalabahi – Calon Bupati Alor periode 2018-2023, Dr. Imanuel Ekadianus Blegur, menggagas 6 program pengembangan Industri di Kabupaten Alor, jika Tuhan berkenan dan rakyat memberi mandat menjadi Bupati Alor lima tahun ke depan.

Gagasan ini, diyakininya mampu membuka lapangan kerja baru, mengurangi angka kemiskinan dan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Alor.

Mantan Ketua Umum GMKI Pusat dua periode berturut-turut ini menyebutkan, keenam industri itu, yakni: Industri Kemiri, Industri Rumput Laut, Industri Minyak Kayu Putih, Industri Bambu, Industri Mente dan Industri Pengolahan Ikan.

“Kemiskinan struktural dan kultural, menjadi akar masalah di Alor. Karena itu, kemiskinan struktural, harus diisi dengan pejabat birokrasi yang memiliki standar kompetensi. Kemiskinan kultural, solusinya membuka lapangan kerja baru yaitu industri,” ujarnya, Jumat, (9/2/2018) di Kampus UNTRIB, Kalabahi.

Menurut Ima Blegur, sapaan karibnya, Kabupaten Sabu Raijua mampu membiayai tenaga kontrak daerah (Guru dan Nakes) dengan honor mencapai Rp. 1.250.000. Sebab PADnya cukup. Karena, punya industri Pengolahan Air Minum, Industri Garam dan Industri Karung.

“Alor sudah usia 55 tahun, belum punya industri. Karena itu saya dan bapak Taufik Nampira berkomitmen membuka 6 industri,” ujarnya.

Industri tersebut kata Ima Blegur, berskala menengah dan rumah tangga. Dia meyakini, adanya industri tersebut mampu membuka lapangan kerja baru dan menekan angka pengangguran di Kabupaten Alor.

Dia menjelaskan, pemerintahannya tidak berfokus pada industri saja, tetapi akan fokus juga pada pengembangan ekonomi sektor riil. Karena sektor riil, menurutnya akan menjadi penyedia bahan baku untuk industri.

“Tidak hanya industri yang kami gagas, kami juga akan membuka 10.000 hertare (Ha) lahan pertanian dan perkebunan. Kita akan bekerjasama dengan rumah ibadah (Masjid dan Gereja). Mereka punya lahan, pemerintah bantu bongkar lahan, siapkan bibit tanaman, alat-alat produksi, obat-obatan dan juga pendamping,” ucapnya.

Data menunjukkan, ada 115.000 Ha lahan tidur, jumlah KK ada 56.000. Maka 1 KK bisa mengolah lahan 1 Ha lebih. “Kita berkomitmen mendorong sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan menjadi sektor unggulan,” kata Ima Blegur.

Lebih lanjut dia mengatakan, jika sektor-sektor tersebut dapat dikembangkan secara baik maka akan mendongkrak PAD. Sebab, bicara kemandirian daerah, daerah harus mampu mengolah sumber dayanya sendiri. Tanpa itu, pemerintah dan rakyatnya hanya bergantung pada DAU, Raskin dan PKH.

“Data kami, penerima Raskin makin bertambah. Penerima PKH juga setiap tahun bertambah. Ini menjadi instrumen indikator bahwa populasi rakyat miskin makin bertambah. Kita menciptakan ketergantungan hidup yang tinggi. Padahal kita punya potensi,” jelasnya.

Karena itu pihaknya berkomitmen mengentaskan kemiskinan dan membuka lapangan kerja baru, untuk menampung sarjana di Alor.

“Sekarang tidak ada pilihan lain selain honor di kantor pemerintah, meskipun gaji sangat tidak layak, tetapi harus kemana lagi. Saya temui banyak sarjana ojek di kampung-kampung. Bagi saya ini persoalan serius di daerah ini,” ujar Ima Blegur.

Peluang dan tantangan membangun industri rsebut, mendapat kritik dari mahasiswa. Mereka beri kritik terkait AMDAL, peluang pasar dan koneksitas jalan menuju perkebunan yang memprihatinkan.

Imanuel menjelaskan, membuka industri bukan hal yang rumit. Politisi Golkar itu lantas meyakini audiens bahwa dana-dana tersebut akan diperoleh dari kementrian terkait.

“Ada sumber dananya di Jakarta. Menteri PU dan Menteri Perindustrian itu sahabat baik saya. Kami sudah diskusikan, mereka bilang bung Ima butuh anggaran berapa? Kita siap bantu,” kata Imanuel sembari optimis pertaruhkan jabatannya membuka industri di Alor.

Untuk Investor, Ima mengaku sudah berkomunikasi dengan para investor ternama di Jakarta. Dia menyebut, Investor Kemiri, Jambu, Jagung, Ubi, Bambu dan Ikan siap berinvestasi di Alor.

“Saya dan kakak Lomboan Djahamou sudah bertemu para investor di Jakarta. Mereka siap investasi di Alor. Jadi masyarakat, kita bantu bibit dan fasilitas tanam jagung, buka lahan tanam ubi. Tanam tanaman pertanian dan perkebunan sebanyak mungkin, Investor kita pasti beli. UNTRIB harus siapkan ahli kimia, karena kita butuh 3 orang ahli kimia di industri kemiri,” ucapnya.

Kebutuhan jagung untuk penuhi pakan ternak 8,7 juta ton/tahun, ada defisit (kekurangan) sekitar 2,1 juta ton/tahun. Ini peluang yang menjanjikan. “Saya yakin dengan membuka industri dan kembangkan sektor-sektor riil ini maka petani kita akan makmur. Kita akan pangkas rantai jaringan pasar penjualan dari Alor ke Surabaya dan daerah lainnya,” katanya.

Disisi lain, kebutuhan sembako untuk penuhi tenaga kerja Blok Masela di Maluku, sangat tinggi. Ada 350.000 tenaga kerja yang bekerja disana.

“Saya komit bekerjasama dengan kampus UNTRIB, sediakan tenaga kerja yang terampil untuk kita pasok sembako kesana. Akses Pelabuhan Maritaing kita tingkatkan, buka jalur kapal Very ke Masela. Saya sudah bicarakan dengan Menteri Perhubungan, Menteri PU dan Menteri Perdagangan,” kata Imanuel.

Untuk AMDAL, Imanuel respon positif kritik mahasiswa. Menurutnya, AMDAL akan menjadi standar pembuka industri. “Membuka industri, tentu AMDAL menjadi penting. Akan kita kaji agar tidak punya dampak bagi kerusakan lingkungan,” pungkasnya.

Imanuel pun memuji kebijakan menjaga kestabilan harga komoditi dari Mantan Bupati Drs. Simeon Th. Pally. “Pak Pally tempatkan staf di Surabaya untuk pantau harga. Pengusaha di Alor dia himpun dan bilang, harga komoditi di Surabaya sekian, kalian harus beli dengan harga sekian supaya petani bisa sejahtera. Saya pikir apa yang dilakukan pemimpin terdahulu baik, kita lanjutkan,” katanya.

Calon Bupati yang berpasangan dengan Haji Taufik Nampira itu pun menjelaskan, memang harga komoditi tergantung pada mekanisme pasar. Tetapi pemerintah punya kewenangan untuk intervensi pasar.

“Untuk kesejahteraan rakyat, semua bisa dilakukan. Pak Presiden Jokowi juga intervensi pasar sewaktu harga daging Sapi melonjak 115.000/kg, turun jadi Rp.85.000/kg. Kan bisa itu,” ungkapnya.

Imanuel mengaskan, jika harga komoditi anjlok, maka dia siap beri subsidi melalui APBD. “Subsidi akan saya lakukan jika harga komoditi anjlok. Ini hanya jangka pendek saja agar harga tetap stabil. Kalau subsidi dari APBD pemerintah rugi sedikit kenapa? Untuk rakyat tidak ada yang perlu disesali. Kan filosofi APBD itu kan untuk rakyat, lantas apa yang salah? Saya bisa lakukan itu. Jangan harga anjlok pemerintah cuci tangan, harga tinggi kita kampanye bilang itu karena saya, itu bukan pemimpin,” sindir Imanuel.

Menurut Imanuel, membangun Alor, tidak bisa melakukan hal yang sama berulang-ulang. Membangun Alor, harus ada niat, bila perlu lompatan. Mengapa? Karena problem pembangunan memiliki kompleksitas yang sangat tinggi.

“Hampir setiap aspek memiliki permasalahannya sendiri. Oleh karena itu, setiap program, sekurang-kurangnya harus bisa mengatasi satu persoalan. Kalau atasi dua masalah, itu luar biasa. Saya komit semua program harus ada indikator yang jelas dan terukur,” tutup Calon Bupati yang dipastikan bertarung head to head melawan incumbent Amon Djobo. (dm/RN).

Komentar