oleh

JRUK Kupang dan IRGSC Bicara Soal Moratorium Pekerja Migran

            Ilustrasi diambil dari Google

RADARNTT, Kupang — Pernyataan Moratorium gubernur NTT terpilih Viktor Laiskodat sempat membuat sejumlah komunitas peduli migrasi membicarakannya dalam konferensi bersama lembaga pemerintah, ormas cipayung dan perguruan tinggi yang ada di lingkup wilayah Nusa Tenggara Timur pada (Selasa, 09/10/2018) di Aula Dinas Kominfo Provinsi NTT.

Salah satu pendiri JRUK (Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan) Kupang, Herman Seran mengatakan kepada media radarntt saat diwawancarai Via WhatsApp pada (Jumat, 12/10/2018).

“Moratorium adalah pernyataan politik yang membutuhkan penjabaran oleh institusi teknis untuk mengakali regulasi dan memastikan efektivitas implementasinya. Pengalaman menyatakan moratorium setidaknya menyelesaikan persoalan karena selalu ada akal – akalan karena yang terpenting adalah bagaimana menjadi menjadikan NTT tempat yang menjanjikan untuk hidup,” ungkapnya.

Lebih lanjut Herman Seran menyampaikan Desa yang ditinggalkan semata – mata pertimbangan rasional. Dalam artian bahwa walaupun resiko tinggi tetapi selalu ada harapan untuk dapat sesuatu yg dirasakan lebih menjanjikan daripada tinggal di desa.

“Yang jelas moratorium adalah pernyataan memukul ular dalam semak, kita akan saksikan banyak perlawanan mengatasnamakan rakyat dan pemangku kepentingan untuk melanggengkannya tanpa menunjukkan seberapa rugi kita dengan moratorium atau tanpa moratorium,” jelasnya.

Pemerintah, lembaga terkait, media baik secara pro dan kontra akan menampilkan skenario untuk mendukung argumen karena alasan gubernur adalah demi pembenahan tata kelola migrasi buruh NTT yang penuh bergelimang masalah seperti saat ini.

Sementara itu, Direktur IRGSC, Elcid Li saat diwawancarai oleh media radarntt disela – sela kegiatan pada (Selasa,09/10/2018) mengatakan,

“Kedepannya kita masih memperkuat di sector pendataan korban, keluarga miskin, anak – anak atau kelompok yang rentan dan juga memperhatikan sektor ekonomi di desa, apa gunanya kampus – kampus yang besar dan lembaga besar.”

Adanya rencana Moratorium ini kita diajak bukan sekedar berpikir, karena seperti kita ambil contoh kita lihat negara cina ketika di embargo itu mengalami kesusahan dan ada masa fase isolasi namun mampu keluar dari situasi seperti ini dan pada akhirnya pada tahun 1995 kita saksikan bersama negara ini telah masuk dalam WTO dan menjadi kompetitor America hingga saat ini, tukasnya.

“Kita berharap pemerintah jangan kalah dengan pelaku kejahatan dan mewujudkan negara yang sesungguhnya dalam melindungi segenap warga negaranya, ” imbuh Elchid. (YO/SET/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru