oleh

Kawasan Konservasi Perairan Selat Pantar Kabupaten Alor

Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Selat Pantar Kabupaten Alor berdasarkan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (Kepmen KP Nomor 35/KEPMEN-KP/2015 tanggal 16 Juni 2015). Dengan Luas Kawasan 27,669,345.00 km², dan Tipe Kawasan adalah Kawasan Konservasi Perairan Daerah.

Kondisi Umum

Perairan laut dan pesisir Kepulauan Alor, terutama perairan Laut Selat Pantar memiliki ekosistem perairan yang menarik dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Pada musim tertentu, perairan Selat Pantar juga merupakan jalur migrasi paus yang merupakan daya tarik kawasan. Karena keunikan tersebut, maka kawasan Selat Pantar dan sekitarnya telah ditetapkan sebagai Taman Laut melalui Surat Keputusan Bupati No. 5 Tahun 2002.

Taman Laut Selat Pantar mempunyai fungsi utama sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragamn jenis flora dan fauna, serta pemanfaatan untuk penelitian, pendidikan, budidaya dan wisata terutama wisata bahari. Selain fungsi tersebut, kawasan perairan Taman Laut Selat Pantar dan sekitarnya tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengembangan ekonomi produktif dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip pemanfaatan yang ramah lingkungan dan lestari.

Selain itu, Bupati Alor juga menetapkan Selat Pantar sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) melalui Peraturan Bupati Alor No. 12 Tahun 2006 pada tanggal 17 Juli 2006. Dikarenakan ada perluasan kawasan konservasi, maka pada tanggal 6 Maret 2009 dikeluarkan peraturan Peraturan Bupati Alor No. 6 Tahun 2009 yang mengubah Perbup Alor No. 12 Tahun 2006.

Adapun tujuan perluasan Selat Pantar sebagai KKLD, yaitu: (a) mendukung pengelolaan stok yang perlindungan tahapan kehidupan tertentu (larva nursery ground), fungsi-fungsi kritis populasi yang dieksploitasi (feeding ground, spawning ground), pusat dispersi untuk perekrutan larva jenis-jenis yang dieksploitasi; (b) mendukung stanilitas perikanan; (c) pengganti ekologi yang hilang karena dampak ekosistem; dan (d) meningkatkan hasil sosial ekonomi masyarakat.

Letak Geografis

Secara administratif Taman Laut Selat Pantar yang diapit Pulau Alor dan Pulau Pantar terdapat di Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur dan secara geografis terletak antara 8005’01-8034’11 LS dan 123044’35 – 124039’30 BT. Batas administrasi Kabupaten Alor di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lembata (Selat Lomblen), sebelah timur dengan perairan Negara Timor Leste, sebelah selatan dengan Selat Ombay, dan sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores.

Kepulauan Alor diperkirakan memiliki luas wilayah sekitar 13.638,26 km2 yang terdiri atas 2.864,64 km2 wilayah daratan dan 10.773,62 km2 wilayah perairan dengan panjang garis pantai mencapai 287,1 km. Kepulauan Alor memiliki 15 pulau, dimana 9 pulau berpenghuni (Pulau Alor, Pantar, Pura, Ternate, Buaya, Kepa, Treweng, Kura, Marica/Kangge) dan 6 pulau tidak berpenghuni (Pulau Kambing, Rusa, Lapang, Batang, Sika, Kapas).

Aksesibilitas

Kabupaten Alor dapat ditempuh melalui dua cara: Jalur udara: Perusahaan penerbangan yang melayani rute Kupang (Bandara Udara Eltari) – Alor (Bandara Udara Mali) dua penerbangan per hari Trans Nusa dan Wings Air, dengan waktu tempuh kurang 1 jam.

Jalur laut: dari Kupang terdapat kapal feri menuju Alor yang berlayar sebanyak 2 kali seminggu (hari Minggu dan Selasa), dengan waktu tempuh sekitar 12 jam. Selain itu, terdapat kapal feri dari Atambua (Pelabuhan Gurita) yang dapat ditempuh dalam waktu lebih kurang 8 jam. Namun kapal feri ini hanya beroperasi satu minggu sekali, yaitu pada hari Rabu.

Disamping kapal feri dari Kupang dan Atambua, terdapat kapal motor yang melayani rute Semarang-Alor dan Benoa-Alor.

Untuk melayani penumpang yang datang dari Bali, PT. Pelni melayani jalur Bali – Alor – Makassar (pp) dengan menggunakan KM Awu. Sedangkan bagi penumpang dari Jawa dapat menggunakan KM Umsini dengan jalur Jawa – Kalimantan – Makassar – Alor (pp). Untuk motor dan perahu layar disediakan oleh pelayaran Diana Ekspres dari Larantuka, sedangkan dari Surabaya disediakan oleh pelayaran Trisindra.

Sementara itu aksesibilitas antar pulau di Kabupaten Alor hanya dapat dilayani dengan perahu motor. Sedangkan di dalam pulau sendiri, terutama untuk pulau yang besar sudah terdapat angkutan (mini bus dan oto) dan sepeda motor yang mengangkut penumpang antar ibukota kecamatan.

Iklim

Kepulauan Alor beriklim tropis kering dengan suhu rata-rata 27,30C. Angin bertiup dari dua arah yang berlawanan juga mempengaruhi iklim di Kepulauan Alor, sehingga terjadi penggantian musim yang periodenya tidak seimbang. Musim kemarau yang panjang sekitar 8 bulan (April-November), sedangkan musim hujan yang singkat sekitar 4 bulan (Desember-Maret). Musim hujan di Kepulauan Alor mulai berlangsung pada bulan Desember, sedangkan jumlah curah hujan tertinggi biasanya terjadi pada bulan Maret setiap tahunnya.

Kondisi Perairan

Kepulauan Alor yang terletak diantara perairan Laut Flores dan Samudera Hindia menyebabkan kondisi perairan di wilayah ini dipengaruhi oleh kondisi perairan di kedua perairan tersebut. Massa air yang berasal dari Samudera Hindia ataupun Laut Flores yang melewati Selat Ombay yang menyempit menyebabkan terjadinya arus kuat dan disertai dengan terbentuknya putaran massa air.

Selain dinamika perairan di atas, perairan Selat Kepa antara Pulau Kepa dan daerah Alor Kecil sering ditemukan fenomena “arus dingin” dengan suhu air laut mencapai 100C hingga 00C. Fenomena yang berlangsung cepat ini (karena hanya sekitar 1 jam) menyebabkan kematian, terjadi hampir setiap tahun dan terjadi pada musim kemarau terutama menjelang musim penghujan.

Nilai pH berkisar antara 7,0 – 8,0 tergolong netral ke arah basa. Nilai tersebut berada pada nilai pH perairan laut Indonesia pada umumnya yang bervariasi antara 6,0 – 8,5. Nilai oksigen terlarut yang berkisar antara 5,40 – 7,55 mg/l tergolong tinggi dan baik untuk kehidupan biota laut. Nilai tersebut menggambarkan sedikitnya bahan-bahan organik yang mengalami dekomposisi (penguraian) yang memerlukan oksigen. Nilai pH dan oksigen terlarut (DO) yang baik untuk biota laut masing-masing berturut-turut 6,5 – 8,5 dan lebih besar dari 4 mg/l.

Kondisi Ekosistem Perairan

Kepulauan Alor memiliki sedikit hutan mangrove, yaitu di sekitar daerah Kokar sampai Sebanjar yang pantainya agak terlindung dari arus yang kuat. Mangrove yang sedikit ini didominasi oleh jenis Rhizopora sp.

Terumbu karang yang relatif masih baik di perairan Alor banyak didominasi dari bentuk life form karang bercabang, karang lunak, karang meja, dan karang massive. Kondisi terumbu karang yang masih baik dibeberapa lokasi perairan Alor karena daerah tersebut bukan lokasi aktivitas penangkapan.

Jenis-jenis ikan karang hias yang banyak ditemukan di perairan Kepulauan Alor antara lain: butter flay fish (Platax sp), angel fish dan kepe-kepe (Chaetedon sp), ikan giru ekor kuning yang dinamakan juga ikan klon, dan ikan lepu (Pterois sp).

Biota lain yang perlu mendapat perhatian adalah satwa migrasi, yaitu paus, lumba-lumba dan penyu. Satwa ini melakukan migrasi melintasi Selat Ombai (Alor) terutama di daerah Alor Timur, diduga satwa ini mencari makan di sekitar wilayah perairan ini serta lewat hanya sebagai jalur migrasi. Satwa migrasi tersebut kebanyakan hanya melintas dan kadang tersesat di sekitar Selat Pantar. Tersesatnya satwa migrasi ini oleh penduduk setempat diyakini sebagai waktu yang paling baik untuk bercocok tanam.

Kondisi Sosial Ekonomi Budaya

Penduduk Kabupaten Alor berdasarkan PUSDATIN Kemendagri 2016 berjumlah 210.094 Jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata Kabupaten Alor sekitar 67 jiwa/km2 (BPS, 2015).

Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memberikan sumbangan terbesar yakni sebesar 30.73% pada tahun 2016 terhadap PDRB Kabupaten Alor. Sektor ekonomi yang menunjukkan peningkatan dalam kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Alor adalah sektor perdagangan, restoran dan hotel serta sektor jasa-jasa.

Penduduk Kabupaten Alor sebagian besar memeluk agama Kristen Protestan. Meskipun pada dasarnya mereka memeluk agama, namun demikian masih ada sebagian masyarakat yang masih tetap mempertahankan kepercayaan-kepercayaan asli daerah. Selain itu, sebagian masyarakat juga masih percaya bahwa ada kekuatan yang menguasai laut, sehingga jika ada pendatang yang ingin berenang atau menikmati keindahan laut seperti di Pulau Kepa dan Pulau Buaya perlu meminta izin pada sesepuh atau pawang yang diyakini dapat berkomunikasi dengan penguasa laut tersebut.

Di Kabupetn Alor hidup berbagai suku bangsa, antara lain: Abui, Alor, Belagar, Deing, Kabola, Kawel, Kelong, Kamang, Kui, Lamma, Maneta, Mauta, Soboda, Wersin, dan Wuwuli. Setiap suku tersebut memiliki bahasa sendiri-sendiri. Namun demikian, bahasa sehari-hari yang digunakan adalah Bahasa Indonesia, sehingga hampir seluruh penduduk Kabupaten Alor dapat berbahasa Indonesia dengan baik.

Mata Pencaharian

Sebagian besar mata pencaharian penduduk Kabupaten Alor adalah pertanian, perikanan dan perkebunan (sektor primer), penduduk yang bekerja pada sektor ini sebanyak 82,53%. Sedangkan yang bekerja di sektor sekunder sebanyak 3,15% dan sektor tersier sebanyak 14,32%.

Selain sebagai petani, penduduk yang bermukim di wilayah pesisir juga banyak yang menjadi nelayan. Penduduk yang bekerja sebagai nelayan ini berjumlah 3.658 rumah tangga (RTP). Umumnya alat tangkap yang banyak digunakan adalah gillnet, bubu, pancing tonda bagan, long line, purse seine, payang, dan pukat pantai. Namun alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah pancing tonda, bubu dan gillnet masing-masing berturut-turut sebanyak 5.992 buah, 2.831 buah, dan 2.228 buah.

Jenis armada tangkap yang digunakan di Kabupaten Alor adalah perahu jukung, perahu motor, dan motor tempel. Jumlah armada tangkap yang paling banyak digunakan di Kabupaten Alor adalah perahu jukung yaitu 2.261 buah pada tahun 2002 dan yang paling sedikit digunakan adalah perahu motor yaitu 45 buah.

Potensi Perikanan

Potensi lestari (MSY) sumberdaya ikan di Kabupaten Alor sebesar 45.714,85 ton/tahun, sehingga jumlah tangkapan yang diperbolehkan adalah sebesar 36.571,88 ton/tahun. Sementara tingkat pemanfaatan baru sebesar 17,85% sehingga masih mempunyai peluang sekitar 82,15% untuk dikembangkan penangkapan.

Pendekatan Konservasi

Pendekatan konservasi dalam menetapkan Selat Pantar sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Alor adalah karena kawasan ini memiliki keunikan dengan keragaman ekosistem terumbu karang yang tinggi serta merupakan jalur migrasi paus dan lumba-lumba dari Flores menuju Samudera Indonesia melalui Selat Pantar.

Pariwisata

Kabupaten Alor mempunyai beragam potensi wisata yang dapat dikembangkan, diantaranya panorama alam dan keunikan budaya. Panorama alam yang potensial diantaranya adalah pantai pasir putih, pegunungan, sumber air panas dan lainnya. Sehingga aktivitas yang dapat dikembangkan antara lain memancing, snorkeling, diving, sun abtching, dan lain-lain.

Daya tarik wisata lainnya adalah wisata budaya yaitu desa-desa adat beserta kehidupan tradisional masyarakatnya serta tempat-tempat bersejarah dengan peninggalan-peninggalannya. Kekuatan aset budaya dan daya tarik wisata Kepulauan Alor adalah keragaman artefak, lokasi bersejarah, hasil kerajinan tangan, dan pertunjukan kesenian berupa tarian, nyayian dan upacara adat.

Sementara potensi wisata bahari di Kepulauan Alor antara lain : Teluk Kalabahi, Pantai Mali dan Teluk Benlan, Teluk Kenarilang, Kokar, Puntaru, Marica, Limarahing, Baranusa dan Pulau Kepa. Selain itu terdapat juga pemandian air panas dan panorama alam lainnya.

 

(Sumber : Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP)

Komentar