oleh

Koalisi Peduli Migran NTT: Manusia Diperlakukan Layaknya Barang Dagangan

RADARNTT, Betun – Koalisi Peduli Migran NTT yang bekerja sama dengan Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Atambua serta Panitia Lokal (J-RUK Malaka dan DPW Vox Point Malaka), hari ini, Selasa (13/2/2018), mengadakan sosialisasi terkait perdagangan manusia NTT di Aula Kantor Desa Lakekun,  Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka.

Kegiatan yang dijadwalkan mulai pkl.10:00 pagi hingga pkl.18:00 sore itu dihadiri oleh berbagai elemen yaitu Kabid Nakertrans Kabupaten Malaka, Kepala Desa dan perwakilan Desa Lakekun,  Lakekun Utara, dan Lakekun Barat, Dewan Pastoral Kada dan Wemasa, Tokoh masyarakat setempat serta Guru dan Orang Muda Katolik Paroki St. Mikhael Kada.

Sosialisasi itu dibawakan oleh tiga narasumber utama, yaitu Ibu Ima Kurniasari sebagai Koordinator Koalisi Nasional dari Jakarta, Pdt. Emmy Sahertian dari Sinode GMIT (Komisi Kebencanaan dan Trafficking), serta Sr. Laurentina, PI sebagai Koordinator Koalisi Peduli Migran daratan Timor. Hadir juga relawan koalisi asal Pakistan, Mr. Chang, dosen Antropolog – Universitas Texas juga dosen tamu di Universitas Sunan Kalijogo – Jogjakarta.

Dalam pembicaraanya, Ibu Ima membeberkan tahapan-tahapan ketika seseorang masuk secara ilegal ataupun diilegalkan oleh pihak tertentu yang kemudian terjerat dalam jaringan perdagangan manusia.

Tahap pertama adalah Proses, terdiri dari perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan dan penerimaaan. Kedua, jalan atau cara, melalui ancaman kekerasan atau pembunuhan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan. Ketiga, tujuan yaitu untuk pelacuran, pelayanan atau kerja paksa, perbudakan, pemerasan, penjualan organ tubuh.

Suster Laurentina memaparkan data-data terkait orang-orang NTT yang dipulangkan ke Kupang dalam bentuk jenasah. Tahun 2015 ada 4 jenasah yang dipulangkan,  tahun 2016 mencapai 54 dan tahun 2017 meningkat menjadi 64. Dan 51% yang merantau adalah anak-anak muda yang diperlakukan layaknya barang dagangan hingga akhirnya mengidap HIV AIDS.

Dari tahun ke tahun korban asal NTT terus meningkat dan menurut Suster PI itu,  peristiwa ini mestinya sudah sangat ‘mengganggu’ pihak gereja dan pemerintah untuk segera mengatasinya sampai setuntas mungkin.

Sementara itu, Pdt. Emmy lebih menyoroti tentang tidak adanya keahlian manusia NTT yang berangkat kerja di Malaysia, sehingga setibanya di sana, mereka diperlakukan secara tidak manusiawi.

“Dengan informasi dan pengetahuan yang kurang, orang-orang NTT kita (TKI – Red), pergi tanpa ada satu keahlian khusus,  kemudian terjebak dalam jaringan perdagangan manusia. Hal ini terjadi karena awalnya diiming-imingi oleh pihak rekrutmen yang notabene kebanyakan masih keluarga atau satu kampung dengan si korban.” tutup ibu pendeta berkaca mata, sembari membagikan lembaran quisioner atau Baseline Survey tentang Migrasi untuk diisi oleh peserta. (F.Baurae/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan