oleh

Misteri Kematian Geg Chandra, Penyidikan Polres Karangasam ‘Gagal’

-Hukrim, News-1.961 views

RADARNTT, Denpasa – Misteri kematian Ni Kadek Chandra Dinata als. Geg Chandra (1,3 tahun) Balita mungil asal Sidemen, Karangasem memasuki babak baru. Setelah hampir 4 tahun kasus kematian Balita Sidemen ini menjadi misteri yang belum terungkap sampai dengan hari ini. Kasus ini sempat ditangani Polsek Sidemen namun gagal total dalam mengungkap siapa dan apa motif pelaku sehingga tega menghabisi nyawa bocah kecil ini dengan cara yang sadis.

Sebagai bentuk kegagalan meski tidak masuk akal, Polsek Sidemen menerbitkan SP2HP atas kasus ini. Sungguh begitu tegah dan menyayat hati Pasangan I Wayan Surata dan Ni Komang Suryati, orang tua korban. Bagaimana tidak sedih, anak kedua mereka dibantai dengan cara yang sadis. Ironisnya kasus ini gagal mengungkap pelaku dan apa motif pelaku.

Merasa tidak puas dengan kinerja Polsek Sidemen, kedua orang tua korban yang memikul seribu duka lara mencoba membawa kasus ini ke Polres Karangasam. Namun lagi-lagi pasutri ini harus rela menelan pil pahit. Setelah cukup lama berproses namun sangat diayangkan, Polres Karangasa tega menerbitkan SP2HP berulang-ulang atas kasus ini.

Sungguh malang nasib si bocah yang tak bersalah. Dibantai dengan cara yang sadis namun tak diketahui siapa pelakunya. Selama 4 tahun kedua orang tua ini berharap keadilan akan datang. Semua keran kebobrokan yang selama ini dikunci rapat akan dibongkar habis untuk mengetahui apa yang sesungguhnya yang terjadi dalam kasus pembunuhan ini. Pertanyaan ini cukup lama muncul dalam benak orang tua korban.

Kedua orang tua korban mengaku tidak pernah lelah dalam memperjuangkan keadilan bagi anaknya yang sudah tak bernyawa tersebut. Perlu diketahui bahwa kasus ini sempat didampingi oleh LBH Bali namun belum ada perkembangan yang mengarah pada pengungkapan pelaku.

Kini kedua orang tua korban menunjuk Tim Penasehat Hukum yang baru. Mereka adalah Siti Sapurah, Yulius Benyamin Seran, dan Hari Purwanto, yang sejak 21 April 2018 resmi mendampingi kedua orang tua korban untuk menuntut keadilan atas tragedi tewasnya Geg Chandra.

Siti Sapurah sendiri bukanlah wajah baru dalam memperjuangkan kasus anak di Bali. Pengacara yang pernah mengawal kasus kematian Angeline hingga berbuntut hukuman seumur hidup terhadap pelaku yang tidak lain adalah Ibu Angkatnya sendiri.

Sementara Yulius Benyamin Seran, juga tercatat pernah menjadi Kuasa Hukum Heather Mack terpidana asal Amerika Serikat yang membunuh ibu kandungnya di Hotel St. Regis Nusa Dua dan menjadi Kuasa Hukum Ayah Biologis Baby J asal Austria yang sempat viral pada pertengahan 2017 lalu. Sedangkan, Hari Purwanto,  adalah Pengacara Senior yang sudah malang melintang  di dunia praktisi hukum. Ketiganya adalah gabungan dari tiga kantor Advokat yang berbeda kini sepakat berkolaborasi dalam mengungkap kasus kematian Geg Chandra.

Sebagai langkah awal, ketiga pengacara yang dalam kasus ini memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma alias probono mendampingi kedua orang tua korban mendatangi Mapolres Karangasem pada, Senin (7/5) 2018.

Rombongan kemudian diterima di ruang Kasat Reskrim AKP Decky Hendra Wijaya, bersama dengan salah satu Penyidik yang menangani kasus kematian Geg Chandra, Aiptu Made Tambir. Dalam pertemuan itu berbincang cukup lama perihal mempertanyakan keseriusan polisi dalam mengungkap kasus ini. Dalam kesempatan tersebut Kasat Reskrim berjanji untuk melanjutkan penyelidikan dan tidak akan menghentikan kasus ini.

Seusai menemui Kasat Reskrim, Tim Penasehat Hukum melanjutkan perjalanan ke rumah Kakek korban di Desa Sidemen, dimana terakhir kali korban berada. Di rumah Kakek korban, Tim PH dibawa menelusuri jejak – jejak korban dari rumah Kakek korban, ke lokasi tempat penemuan sendal korban, hingga tempat penemuan jazad korban yang berjarak kurang lebih 1.5 KM dari rumah Kakek korban.

Siti Sapurah atau yang biasa disapa Ipung usai mendatangi Mapolres Karangasem dan setelah menelusuri jejak kematian korban, memberikan keterangannya kepada awak media bahwasannya tidak mungkin korban sendiri yang baru berusia 1.3 tahun bisa berjalan sendiri sampai ke tempat terakhir ditemukan korban tertelungkup tidak bernyawa.

Ipung menegaskan bahwa ketika satu nyawa anak Indonesia melayang sama halnya memangkas satu generasi penerus Bangsa Indonesia. Bagaimana pun juga kasus ini harus terungkap. Pelakunya diduga kuat orang dekat. “Kami sudah memberikan masukkan kepada Pak Kasat dan penyidik untuk lebih mendalami keterangan saksi yang patut diduga sebagai terduga,” ujarnya.

Selain Ipung, salah satu Kuasa Hukum korban lainnya Yulius Benyamin Seran mengatakan bahwa kasus ini sejatinya bukanlah perkara sulit untuk diungkap. ‘Kan jelas ada korban nyawa yaitu seorang balita yang ditemukan tewas, ada hasil Visum yang secara gamblang menerangkan penyebab kematian korban, sudah ada kurang lebih 24 saksi diperiksa,” ujar Benyamin Seran. “kami meyakini polisi sudah mengantongi calon tersangka. Karena hasil diskusi kami hari ini dengan Pak Decky Hendra selaku Kasat Reskrim Polres Karangasem menunjukkan ada kesamaan pandangan khususnya tentang orang yang diduga kuat sebagai pelaku,” ujarnya.

Menyambung apa yang ditegaskan oleh Siti dan Benyamin, Hari Purwanto yang juga merupakan Kuasa Hukum orang tua korban menegaskan bahwa dalam kasus kematian Geg Chandra motif warisan patut untuk ditelusuri.

Menurutnya, setiap peristiwa pembunuhan selalu ada motif atau alasan pelaku menghabiskan nyawa korban. “Korban kan masih Balita, tidak punya salah apa apa, mengapa korban yang dibunuh” ujarnya. Hari Purwanto meminta polisi dalam hal ini penyidik bisa mendalami motif warisan.

Ini kronologis kasus pembunuhan Geg Chandra si Bayi mungil asal Karangasam.

Hari Selasa pagi, kurang lebih pukul 07.00 wita ayah korban sempat mendengar suara keceriaan korban sambil berlari mengejar ayam peliharaan Kakeknya ke arah Utara selanjutnya ke arah Timur. Hal tersebut disampaikan ayah kandung korban Bli Yande beberapa waktu lalu mengenang momen terakhir kalinya Geg Chandra terdengar.

Pagi itu langit sedang mendung, beberapa saat kemudian sekitar jam 08.00 turun hujan sehingga Kakek korban mengingatkan dan menanyakan dimana cucu kesayangannya (korban) hendak memanggilnya masuk ke rumah agar tidak kehujanan. Saat itulah Paman beserta kedua orang tua  serta keluarga satu pekarangan mulai mencari korban. Pencarian pun mulai dilakukan sejak jam 08.20 pagi hingga terhenti pada penemuan jenasah yakni sekitar jam 3.30 sore.

Masih dalam situasi pencarian, yakni sekitar jam 11.00 wita ayah korban mendatangi Mapolsek Sidemen dan melaporkan kepada perugas jaga perihal kehilangan anaknya Geg Chandra. Seketika itu beberapa petugas langsung bergegas ke rumah korban utk membantu mencari. Anehnya ayah korban sempat mencari ke TKP (tempat penemuan jenasah) bersama adik ayah korban yg bernama Ketut Agus hingga memeriksa gorong gorong dan saat itu korban belum berada disana. Ayah korban pun melanjutkan pencaharian ke areal yg lain.

Akhirnya, pencaharian Geg Chandra berujung duka dimana tubuh mungil dari Geg Chandra diketemukan telah meninggal dunia di samping sebuah kubangan yang berjarak kurang lebih 1.5 kilometer dari rumah korban dengan posisi telungkup dan ditutupi dahan pelepah kelapa. (Rio/RN)

Komentar