oleh

Mulai Besok, Bawa Anak Anda ke Pos Imunisasi Terdekat

Kadis Kesehatan Provinsi NTT Dominikus Minggu Mere Bersama Para Staf.

RADARNTT, Kupang — Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur drg Dominikus Minggu Mere, M.Kes menghimbau para orang tua terhitung Tanggal 1 Agustus- akhir September 2018 dapat membawa anak berusia 9 bulan sampai dengan 15 tahun ke pos pos imunisasi terdekat, untuk imunisasi campak dan rubella (MR) agar anak dapat terlindung dari bahaya penyakit campak dan rubella.

Hal ini dikatakan kadis kesehatan kepada wartawan radarntt Senin kemarin (30/07/2018) jelang pelaksanaan imunisasi secara massal yang dimulai dari hari esok 1 Agustus.

Menurut Dominikus Minggu Mere berdasarkan pusat data Depkes RI ada 1.743.359 anak yang harus mengikuti imunisasi MR. Namun, berdasarkan data ril yang diperoleh dari setiap Kabupaten/Kota di NTT sasaran ril yang harus mengikuti imunisasi MR hanya sebanyak 1. 673.687 orang anak. Sedangkan sisa sekitar 69. 692 daftar orang anak akan dikembalikan kepada pemerintah pusat.

Pencanangan bulan imunisasi MR campak rubella tingkat Nusa Tenggara Timur dilakukan oleh Penjabat Gubernur NTT Robert Simbolon dan tingkat Kota Kupang dilakukan oleh Wali Kota Kupang Jefirstson R. Riwu Kore yang berlangsung di Aula SMPK Theresia Kupang Rabu (1/8/2018).

Dalam keterangannya Dominikus Minggu Mere menjelaskan, bahwa campak dan Rubella adalah penyakit infeksi menular melalui saluran napas yang disebabkan oleh virus Campak dan Rubella. Campak dan Rubella sangat menular. Anak dan orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi Campak dan Rubella, atau yang belum pernah mengalami penyakit Campak dan Rubella adalah orang yang berisiko tinggi tertular penyakit ini.

Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti diare, radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk dan bahkan kematian. Rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak, akan tetapi bila menulari ibu hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan, dapat menyababkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Kecacatan tersebut dikenal sebagai sindrom Rubella Kongenital yang meliputi kelainan pada jantung, kerusakan jaringan otak, katarak, ketulian dan keterlambatan perkembangan.

Gejala penyakit campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk, pilek, dan mata merah (konjungtivitis). Gejala penyakit Rubella tidak spesifik, bahkan bias tanpa gejala-gejala umum berupa demam ringan,pusing, pilek, mata merah dan nyeri persendian, mirip gejala flu.Tidak ada pengobatan untuk penyakit Campak dan Rubella namun penyakit ini dapat dicegah, imunisasi dan vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk penyakit Campak dan Rubella. Satu vaksin mencegah dua penyakit sekaligus.

Vaksin MR adalah kombinasi vaksin Campak/Measles (M) dan Rubella (R) untuk perlindungan terhadap penyakit Campak dan Rubella. Vaksin yang digunakan telah mendapat rekomendasi dari WHO dan izin edar dari Badan POM. vaksin MR 95 persen aktif untuk mencegah penyakit Campak dan Rubella, vaksin ini aman dan telah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia.

Kampanye Imunisasi MR adalah upaya pencegahan penularan penyakit Campak dan Rubella di masyarakat dengan cara pemberian Vaksi MR secara massal pada anak usia 9 bulan sampai dengan usia kurang dari 15 tahun. Kampanye Imunisasi MR dilakukan untuk meningkatkan kekebalan masyarakat terhadap penularan penyakit Campak dan Rubella yang dapat menyebabkan kecacatan dan kematian. Kampanye Imunisasi MR merupakan langkah awal untuk introduksi imunisasi Rubella kedalam jadwal imunisasi rutin.

Kampanye Imunisasi MR dilakukan dalam dua fase. Fase pertama di Pulau Jawa pada tahun 2017. Fase kedua di luar Pulau Jawa tahun 2018 masing-masing fase di bagi dalam 2 tahap. Tahap satu pada bulan Agustus di sekolah. Tahap dua bulan September difasilitas kesehatan (puskesmas, posyandu). Imunisasi MR diberikan untuk semua anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama Kampanye Imunisasi MR bulan Agustus-September 2017 dan Agustus-September 2018.

Selanjutnya, Imunisasi MR masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan kepada anak usia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD/sederajat menggantikan Imunisasi Campak. Perlu diketahui anak laki-laki tetap dapat terserang virus Rubella dan Campak juga dapat menularkan penyakit ini kepada orang disekitarnya, termaksud ibu yang sedang hamil.

Tidak ada efek samping dalam imunisasi, demam ringan,ruam merah, bengkak ringan dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi adalah reaksi normal yang akan menghilang dalam 2-3 hari. Kejadian ikutan pasca imunisasi yang sangat serius jarang terjadi. Sebagian besar anak akan mendapatkan kekebalan terhadap Campak dan Rubella seumur hidup setelah mendapatkan Imunisasi MR.

Anak yang telah menerima 2 dosis vaksin campak sesuai jadwal ,telah mendapatkan kekebalan terhadap Campak tapi belum mendapat kekebalan terhadap Rubella.
Anak tetap harus mendapat imunisai MR untuk mendapat kekebalan terhadap Rubella, Imunisasi MR untuk mendapat kekebalan terhadap Rubella, Imunisasi MR aman bagi anak yang telah mendapat 2 dosis imunisasi campak. Vaksin campak akan digantikan dengan kombinasi vaksin Campak dan Rubella, satu vaksin untuk dua penyakit sekaligus.

Vaksin MR bermanfaat untuk penyakit Campak dan Rubella, sedangkan vaksin MMR bermanfaat untuk mencegah penyakit campak, Rubella dan gondongan. Saat ini pemerintah memprioritaskan pengendalian Campak dan Rubella,karena bahaya komplikasinya yang berat dan mematikan.

Apabila anak telah mendapat 1 dosis vaksin MMR, dia tetap perlu mendapat imunisasi MR pada saat kampanye, Imunisasi MR diberikan untuk memastikan kekebalan penuh terhadap penyakit Campak dan Rubella, Imunisasi MR aman diberikan kepada anak yang sudah mendapat vaksin MMR.

Jadi tidak benar bila dikatakan bahwa imunisasi jenis apapun menyebabkan autis dan itu belum ada bukti yang mendukung.

Kandungan etilmerkuri dalam vaksin sangat rendah (1,25 mcg/KgBB/ minggu) dan masih dalam batas diizinkan oleh WHO (maksimal 159 mcg/kgBB/minggu). Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya penyakit tertentu.

Dalam hal jika seseorang tidak diimunisasikan bisa menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, untuk itu imunisasi bersifat wajib. (Set/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan